
“Ada apa?”
Suara feminin menyapa dari seberang. Begitu manja dan mendayu mengabarkan sesuatu. Raut wajah Rarendra tampak berubah datar, kemudian menyela pembicaraan dengan meneriakkan Bayu yang sudah berjalan beberapa meter di depannya.
“Bay, tunggu. Sepertinya aku tidak jadi ke lokasi. Aku ada urusan dengan seseorang. Tolong, minta Nita untuk menemui mereka di lokasi.” Perintah yang membuat langkah Bayu berhenti mendadak.
Berbalik. “Baik, Bos.”
...🌿🌿🌿...
Ditemani Nita, Shanuella berjuang keras untuk bisa berdiri tegak menapaki ruangan demi ruangan yang menyimpan kenangan masa lalunya. Air mata yang selama ini tumpah setiap rasa rindu mencekik berusaha ditahannya agar tak keluar. Tubuh gemetar, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Semua penjelasan Nita diabaikan begitu saja.
Apa yang tidak diketahuinya tentang istana yang kini hanya menjadi puing sejarah. Semua seluk beluk sampai ke rahasia-rahasia yang tersimpan di dalam pun dia tahu. Hal terberat dan membuat Shanuella hampir tumbang adalah saat memasuki ruangan yang dulu pernah menjadi kamarnya.
__ADS_1
Tempat tidur empuknya masih ada walau sebagian sudah melapuk. Dinding-dinding kamar mulai kelupas dan berjamur. Debu bersemayam di mana-mana. Hanya saja, semua perabotan yang tersisa tetap di tempat semula. Bahkan, coretan tangannya yang menuliskan nama Blade di salah satu sisi tersembunyi masih ada.
Blade.
Nama itu hadir lagi tanpa diminta. Bayangan masa lalu berputar ulang dan memenuhi benaknya. Tangis, tawa, bahagia, dan air mata bercampur aduk. Tak ada satu pun yang tersisa kini. Dia hanya membawa Lana yang menjadi dosa besarnya dan selalu membuatnya mengingat sosok penjahat hati yang tak punya nurani.
Setelah merampas kehormatannya, Blade menghilang bagai pecundang. Meninggalkan benih di rahimnya yang sampai sekarang mengingatkan Shanuella akan dosa yang tak termaafkan.
Aku berjanji ... akan membunuhnya dengan tanganku sendiri saat bertemu dengannya. Tidak akan kumaafkan pria pengecut yang bisanya menyakiti wanita.
Tepat saat melewati ruangan yang dulunya adalah ruang tamu, Shanuella berhenti melangkah. Kedua kakinya bak terpaku di tempat saat tak sengaja menatap pigura raksasa yang tersisa. Ada foto kedua orang tuanya dalam balutan gaun dan jas merah.
Sepertinya lupa diturunkan
__ADS_1
“Mbak, ada apa?” Nita terkejut saat melihat Shanuella menangis tersedu-sedu tanpa sebab dan memijat kening.
Air mata yang sejak tadi ditahan Shanuella tiba-tiba tumpah. Tubuh wanita itu bergetar. Kekuatan dirinya hanya sampai di sini, dia tak sanggup lagi berpura-pura dan tampil seolah baik-baik saja. Kepalanya pening, dunia terasa gonjang-ganjing. Padangan berkunang-kunang, semua yang tampak di mata seperti berputar-putar. Menggelap, semua tiba-tiba lenyap termasuk kesadarannya.
“Mbak.”
“Ibu.”
Nita dan perwakilan dari Halim Group lainnya tampak panik saat melihat sosok yang tumbang di depan mata mereka. Keduanya berteriak panik dan bersimpuh untuk mencari tahu. Terlalu terkejut dengan pingsannya Shanuella, mengabaikan suara langkah kaki dari arah teras rumah.
“Mbak, bangun.” Nita menepuk-nepuk pipi Shanuella. Tubuh gadis itu tiba-tiba menggigil ketakutan. Sejak awal masuk, perasaannya sudah tidak enak. Di tengah kepanikan, tiba-tiba terdengar suara maskulin menyapa dan mengejutkan semua yang ada di dalam ruangan.
“Ada apa ini?”
__ADS_1
Follow IG Casanova_wety.s.hartanto. Yang mau tanya2 silakan DM.