My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Bucin


__ADS_3

"Dih dijenguk pacar. Alay ih bucin segala." Lana menimpali Juan yang sedang menepuk jidatnya itu.


Juan menghentikan aksinya lalu mengarahkan mata ke arah sumber suara, "Ya! apa kau kepo dengan urusanku?"


"Siapa? aku? hah, tentu saja tidak! mau kau punya pacar, selingkuhan, simpanan, istri kedua pun aku tidak peduli apapun." Lana menunjuk dirinya menggunakan jari telunjuknya.


"Lalu kalau tidak peduli, kenapa kau mengataiku seperti itu? berarti dari tadi kau memperhatikanku bukan?"


"Hey! aku memperhatikanmu" Lana menunjuk Juan dengan jari telunjuknya.


"Yang benar saja. Dengar aku berjalan dari sana ke sini itu melihat kedepan bukan ke samping atau ke atas. Ya tentu saja kau ada disini tak luput dari arah mata depan ku. Namun! akun tidak memperhatikanmu hanya saja kau yang berdiri disini dan menghalangi pemandangan." jelas Lana dengan menyipitkan matanya ke arah Juan.


Juan melangkah lebih maju ke arah Lana, "Iya sudah lupakan perhatian mu padaku itu."


"Ya!" Lana mengepalkan tangannya.


Sontak Juan mundur kebelakang dengan segera, "Kau pagi-pagi emosi saja sih, namanya orang ya pagi-pagi joging, nge teh, la ini emosi mulu."


"Kau tahu aku pun mau olahraga." Lana tersenyum simpul ke arah Juan. Padahal senyumnya itu mengartikan akan ada hal buruk yang menimpanya.


Juan mengedipkan matanya kearah Lana, "Nah itu silahkan jangan emosi mulu ih."


"Iya olahraga dengan memukul." jelas Lana sambil mengarahkan kepalan tangannya ke bahu Juan. Tanpa terelakkan pun kepalan tangan Lana pas mengenai sasaran yang diincarnya.


bugh


Suara pukulan Lana yang sengaja tidak terlalu keras ke arah bahu Juan. Sang mpu pun meringis kesakitan namun, berusaha menahan agar tidak dikira lemah oleh wanita dihadapannya itu.


Juan mengelus bahunya yang baru ditinju oleh Lana, "Aih! kau ini benar-benar emosian."


Lana sudah tidak bisa menahan emosinya kepada Juan yang sedari tadi membuatnya gemes terhadapnya, "Kau yang membuatku em ----"


Kakek berjalan menghampiri Juan dan Lana, "Ayo berangkat! ini malah kayak beradegan rumah tangga usia 10 tahun aja." potong kakek

__ADS_1


Juan dan Lana seketika terdiam mendengar sang kakek bicara begitu. "Kakek!" rengek Lana.


"Iya emang begitu kok." Kakek berjalan menuju mobilnya sambil tersenyum tipis.


"Saya pergi dulu kek." izin Juan kepada kakek Griz.


"Kau yakin, tidak bareng kami saja?" tanya kakek Griz sambil memandangi Juan.


"Tidak kek. Lebih baik saya ke kantor sendiri saja." Juan menjawab dengan sangat sopan.


Kakek Griz menepuk pundak Juan, "Baiklah. Hati² dan ingat tugasmu ya!"


Juan pun manggut-manggut, "Siap kek."


Juan lebih baik ke kantor sendiri daripada bersama dengan kakek dan Lana karena itu malah menjadi pusat perhatian para pegawai lain. Tidak enak kalau sampai gosip tak enak.


*


*


*


Tere tertawa lirih, "Ya! kau ini tak sabaran sekali. Aku harus menghayati rasa yang terkandung dalam makananmu dulu."


"Menghayati? sepertinya yang harus dihayati lebih dalam hubungan nona." celetuk chef Tere.


Tere sontak membelalakkan matanya, "Ya! jangan bicara tentang hubunganku."


Brak...


Pintu terbuka dengan paksa dari luar.


"Kenapa? kenapa tidak boleh membicarakan hubungan kita." Alex menyembul dari pintu yang terbuka paksa tadi.

__ADS_1


Tere san chef-nya hanya saling menatap karena terkagetkan secara bersama.


"Kau! bisa nggak ketuk dulu kek pintu? atau paling tidak buka pintu nya kan bisa jangan main dobrak gitu." teriak Tere yang emosi melihat pacarnya tidak sopan begitu. Walaupun mereka sedang break bukan berarti Alex bisa seenaknya masuk dan main dobrak ruangannya, itu kan sangat tidak sopan.


Alex berjalan tak acuh ke arah Tere, "Halah, bilang aja mau berduaan sama chefmu."


"Ya! kau ini selalu begitu, apa-apa cemburu. Kamu bisa keluar sekarang." Tere menyuruh chefnya keluar ruangan dan menatap Alex dengan muka tak terima di katakan seperti itu.


Chef Tere pun langsung ngibrit keluar ruangan, "Haduh perang dunia ketiga nih!" batin chef Tere sambil berjalan keluar ruangan.


"Maksudmu aku tidak boleh cemburu dan marah ketika pacarnya sedang berduaan dengan laki-laki." ucap Alex yang sama tidak terima jika dikatakan apa-apa cemburu.


"Hey! mau kemana? disini saja aku juga tidak akan menganggu kalian." ucap Alex menghentikan chef Tere keluar.


"Biarkan dia ke luar urusanmu hanya denganku bukan dengannya dia tidak tahu apa-apa. Aku berduaan dengannya bukan berarti sedang selingkuh. Aku sedang kerja, kau lihat!" Tere menunjukkan beberapa makanan yang dibuat chefnya untuk diuji coba padanya.


Chef Tere yang tadinya berhenti di pintu akhirnya tetap keluar ruangan saja daripada terlibat rumah tangga orang yang mana dirinya tidak tahu apa-apa. Masalah pertanyaan tadi pun chef Tere hanya bergurau tidak serius menanyakannya.


Alex menyeringai ke arah Tere, "Halah! mau membelanya kan. Bilang saja dengan jelas dihadapanku jangan suruh dia keluar tanpa alasan yang jelas."


"Bisa tidak kamu pengertian denganku dan pekerjaanku. Sekali saja percaya aku itu selalu setia dan menunggumu. Kau tahu aku bosan dengan tuduhanmu ini itu seakan-akan aku selingkuh dibelakangmu. Aku selalu bilang ya boleh ya percaya ya aku tunggu dan lain-lain karena aku percaya padamu semua yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku aku selalu percaya kamu setia. Hiks...hiks..." Tere sesenggukan karena air matanya tak terbendung lagi sebenarnya dia sudah berusaha menahan air matanya namun, ia sudah tidak kuat lagi.


Alex yang merasa Tere sudah hilang kesabaran dan seakan-akan kata-kata Tere menyadarkannya bahwa dirinyalah yang selalu berprasangka kepada Tere secara berlebihan. Alex mendekati Tere seraya berusaha memeluk namun ditepis oleh Tere.


"Re, ma'af ya. Aku salah, iya salah ma'af ya. Aku hanya tidak mau kamu bersama laki-laki lain aku cemburu, Re. Aku dibutakan oleh rasa sayang dan cintaku yang terlalu berlebihan sehingga aku tidak mau kamu dekat atau didekati oleh pria manapun." Alex menunduk sambil berusaha menenangkan dirinya juga yang tadi kebawa emosi. Pria itu seakan-akan lunak oleh terpaan angin yang baru saja menghembuskan hawa segar baginya.


Tere menatap sang pacar yang menunduk layaknya orang bersalah dan mengakui kesalahannya, "Al, aku tahu kamu cinta dan sayang sama aku. Karena itu kau percaya sama semua yang kamu lakukan dan aku percaya kamu dapat jaga perasaan. Makanya aku tidak pernah berburuk sangka kepadamu. Bisakah kamu mencoba untuk bergitu juga?"


Alex mendongak keatas yang mana Tere sedang tersenyum manis kepadanya sambil memeluknya. Dia pun membalas pelukan hangat Tere, "Terima kasih telah pengertian dan selalu sabar menghadapiku, Re. Aku akan mencoba menjadi apa yang kamu katakan tadi."


Tere menutup matanya karena kenyamanan pelukan Alex, "Kau tahu, jika di hubungan itu saling percaya percayalah hubungan itu tidak akan putus kuncinya adalah saling percaya satu sama lain juga saling bergantung satu sama lain maka hubungan akan awet sampai menikah."


Alex melepaskan pelukan mereka dan menatap wajah Tere, "Apa mau menikah sekarang saja biar percayanya full kan udah nikah."

__ADS_1


Tere langsung menepuk dada Alex degan pelan, "Ya! mau berdebat lagi ha?"


__ADS_2