
Shanuella menoleh ke arah Rarendra dan menggeleng. “Aku punya alasan sendiri.” Menatap sekilas, kemudian menurunkan pandangan pada pria dewasa yang tengah berbaring dengan berhias luka.
“Mas, bangun. Ayo kita pulang.” Shanuella memusatkan perhatiannya pada Bayu yang sejak tadi diabaikan karena kehadiran Rarendra. “Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak ada bersama kami. Bangun sekarang, Mas.” Mengusap luka memar di pelipis sang suami, wanita itu mengernyit. Seakan-akan rasa sakit itu ikut bisa dirasakannya.
Rarendra membeku. Berdiri beberapa langkah di belakang Shanuella, dia tak bisa berbuat banyak. Semua seperti benang kusut. Dia pernah salah melangkah, menjadi pria kejam hanya karena sebuah dendam. Tuhan memberi hukuman dengan menyentil hatinya. Dia dianugerahkan perasaan cinta pada wanita yang telah dengan sengaja disakitinya.
...🍒🍒🍒...
Rarendra sudah kembali ke dalam kamar perawatan dengan menentang bungkusan berisi makanan. Nasi goreng spesial lengkap dengan acar mentimun dan emping terdapat di dalamnya. Saat kakinya melangkah masuk, ia mendapati Shanuella tengah duduk dan merebah kepala dia atas brankar setengah tertidur. Tangan kirinya terus menggenggam jemari Bayu yang belum juga sadar dari pengaruh obat.
Meletakkan bungkusan makanan di atas meja, Rarendra berjalan mendekat. Saat wanita yang dicintainya itu terlelap, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah memeluk. Kerinduannya tiba-tiba membuncah. Melangkah tanpa suara, dia bergetar sesaat berdiri di belakang tubuh feminin yang tengah melengkung ke arah tempat tidur. Kepala wanita itu menumpang pada tangan kanan yang melipat di atas brankar.
Aroma tubuhnya masih sama.
__ADS_1
Rarendra membungkuk, menurunkan wajahnya mendekati Shanuella yang sedang terlelap. Diusapnya helaian rambut panjang sedikit berantakan itu sambil tersenyum. Jemari panjang menyisir lancang dan menyelipkan mahkota di pucuk kepala itu ke belakang telinga.
“Dia tetap sama seperti dulu. Hanya saja ....” Rarendra tertegun sejenak hingga sebuah dorongan dalam dirinya memicu keberanian dan kelancangannya. Tersenyum sesaat sebelum mengecup pelipis Shanuella, gejolak yang selama ini dikuburnya tiba-tiba memberontak.
Perasaan itu masih sama seperti dulu. Lima tahun ini … aku hidup di dalam kepura-puraan. Seberapa besar perjuanganku mengenyahkannya … dia tetap mengisi hatiku. Maafkan aku telah melukaimu. Percayalah, hatiku lebih sakit dan terluka dibandingkan siapa pun. Aku ingin bisa membencimu, kenyataan yang terjadi sebaliknya.
“Shan, aku mencintaimu, Sayang.” Rarendra berbisik di telinga Shanuella. Wanita itu terlalu lelah, tidurnya begitu lelap. Deru napas terdengar teratur, berat dan panjang. “Maafkan aku, Shan. Aku menyesal pernah menyakitimu. Aku sudah berusaha menghindarimu selama ini karena aku tahu … saat kita bertemu lagi … cintaku tak akan bisa setenang sebelumnya. Dia akan berontak dan mencari pemiliknya.”
“Shan ….”
“Shan ….”
Rarendra buru-buru menegakkan posisi berdirinya. Masih sempat merapikan pakaiannya untuk menghilangkan canggung sebelum akhirnya mendekati Bayu untuk mencari tahu.
__ADS_1
“Kamu sudah siuman?”
“Di mana Shan-Shan?” Aku … mendengar suaranya.” Bayu masih belum sepenuhnya sadar. Menatap langit-langit kamar, cahaya lampu membuat matanya silau.
Shanuella yang terusik, bergegas mengangkat kepala. “Mas Bayu bangun?” tanyanya cepat.
Buru-buru berdiri, Shanuella sempoyongan. Beruntung, Rarendra merengkuh pinggangnya agar tidak tumbang.
“Hati-hati, Shan.” Enggan melepas, telapaknya masih berlabuh di pinggang Shanuella meski wanita itu sudah berdiri di samping Bayu yang sudah sadar.
“Mas, bagaimana perasaanmu?” Perasaan lega tertera dari perubahan wajah yang cerah seketika.
“Aku di mana?” Mata Bayu setengah terpejam, otaknya tengah mengembalikan semua memori yang sempat beterbangan. Seluruh tubuh terasa ngilu.
__ADS_1
“Di rumah sakit.”
Jawaban yang membuat pasien laki-laki itu tersentak. “Apa yang terjadi padaku? Lana. Di mana Lana, Shan?” tanya Bayu spontan. Dia tak menyadari kehadiran orang lain bersama mereka.