My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 99


__ADS_3

Bayangan masa lalu berputar ulang, Shanuella terjerembap sesaat mendengar kisah Rarendra. Hanya sepatah kata ‘maaf’ yang sanggup dikumandangkan bersama deraian air mata membasahi pipi. Bersikeras tak mau pulang sebelum semua kenyataan terang benderang. Bukan kelegaan, wanita itu dihinggapi rasa bersalah tak berkesudahan.


Tangisan dan ratapan terdengar lirih di lantai kamar. Kedua kaki Shanuella tak sanggup menopang berat tubuhnya dan membuat wanita itu kembali runtuh.


“Aku salah, Mas.” Melirih di dalam pelukan Bayu yang terus menyemangati. “Ya, ini kesalahanku. Aku … aku … malam itu aku menabrak seseorang sampai meninggal. Aku tahu, tapi aku takut dipenjara. Aku memohon pada Daddy agar menggunakan semua kekuasaannya untuk membebaskanku dari jerat hukuman. Sayangnya … gadis itu juga putri orang berada. Daddy tidak bisa membungkam dengan uang santunan.”


“Ssstt, jangan diingat-ingat lagi. Kamu tidak sengaja melakukannya.”


“Tapi, tetap saja aku salah, Mas. Itu nyawa manusia, bukan binatang. Seharusnya aku tidak jadi pecundang saat itu. Harusnya aku bertanggung jawab untuk semua kesalahanku. Harusnya aku menegakkan kepalaku dan mengakui kesalahanku. Aku ….”

__ADS_1


Tangisan kian pecah, penyesalan semakin menjadi. Shanuella nyaris tak sanggup bernapas saat kesedihan menghantamnya bertubi-tubi.


“Sudah-sudah, jangan menangis lagi. Sudah terjadi, tidak bisa diulangi. Hanya sanggup dihadapi dengan kepala tegak. Kalau salah, akui kesalahanmu. Minta maaf dengan tulus. Tuhan saja memaafkan, apalagi sesama manusia.” Bayu menenangkan.


Diusapnya punggung Shanuella yang tengah meringkuk di dalam dekapan, dikecupnya kening yang basah karena keringat dengan penuh cinta.


Di atas brankar, Rarendra mendengar sembari menangis. Air matanya luruh, teringat mendiang kekasih dan Shanuella. Dia mencintai keduanya, tetapi juga tak mendapatkan seorang pun. Rasa sakit ketika mencintai dan tak sanggup memiliki. Itu yang dirasakan kini.


“Blade ….” Shanuella bersuara setelah keadaan sedikit tenang. Menyeka air mata yang berhamburan membasahi wajah, dia berdiri di sisi brankar untuk melanjutkan obrolan yang sempat terjeda karena tangisan.

__ADS_1


“Di mana keluarganya? Izinkan aku menemui mereka untuk memohon ampunan.” Suara bergetar, tubuh wanita itu gemetar.


Rarendra membuang pandangan ke arah berbeda. Tak mau sampai air matanya tertangkap orang lain. Di balik kekerasan hati, dia pribadi lemah. Terlahir dari putra seorang bandar judi bola, sejak kecil tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Papa mamanya bercerai saat dia masih belia, pria tampan itu dibesarkan dengan keras oleh sang ayah.


“Orang tuanya menyusul sesaat setelah kematian putri mereka. Pertama mamanya … sakit. Tidak sanggup menerima kenyataan harus kehilangan. Celina adalah putri semata wayang, disayang dan dimanja semua orang. Dia baru akan lulus kuliah saat kecelakaan malam itu. Aku ingat, malam itu aku melamarnya. Lamaran itu diterima dan kami akan menikah setelah wisuda.” Hati Rarendra teriris saat diminta mengulang kisah lama.


Shanuella ternganga. Tak sanggup berkata-kata, air mata kembali mengalir turun. Berjuang untuk kuat, tetapi dia benar-benar tak sanggup. Menggenggam tangan Bayu, wanita itu memohon dalam isaknya.


“Papanya menyusul beberapa bulan setelah Celina dan mamanya. Dalam tahun yang sama, keluarga itu pergi sia-sia. Yang mengenaskan, aku tidak bisa menuntut keadilan. Bagaimana keluargamu memanipulasi barang bukti dan mencari seseorang untuk dijadikan pelaku. Kalian keluarga tertega. Tak ada seorang pun yang memiliki hati. Pantas saja setelah kejadian itu … keluarga Sunjaya.” Rarendra menggantungkan kalimatnya. “Karma itu ternyata cepat. Tidak perlu menunggu sampai anak cucu. Dalam hitungan bulan, perusahaan keluargamu mengalami krisis dan ….”

__ADS_1


__ADS_2