My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 113


__ADS_3

“Duduk, Bay.”


Rarendra menitah dengan nada sedikit lembut, berbeda dari biasa. Sorot mata meredup, menyiratkan beban berat yang sedang disembunyikan.


Empunya nama menurut. Mencengkeram sisi teratas kursi berlapis kulit dan menariknya mundur. Menjatuhkan bokong di sana, Bayu menyimak. Tangan menjalin santai di atas meja jati berlapis kaca, binar menantang bersiap menunggu pernyataan.


Bukan sesuatu yang asing, tetapi tergolong langka. Tak biasanya Rarendra mengajak bertemu empat mata. Apalagi, dia bisa menangkap bahasa tubuh lawan bicaranya itu tampak berbeda.


“Ada apa, Bos?” Menatap atasan yang sedang duduk di seberangnya, tepat di kursi empuk yang menjadi singgasana selama ini.


“Aku ingin bicara denganmu sebagai teman baik. Aku ….” Rarendra merapatkan bibir, meneliti Bayu dengan saksama. Hal yang selama ini nyaris tak pernah dilakukannya.


“Ada apa?” Bayu menanggalkan sapaan ‘bos’ yang biasa disematkannya pada Rarendra.

__ADS_1


Menegakkan duduk, pria gagah berkemeja hitam itu menelan ludah. Jari-jari tangan saling menjalin satu sama lain.


“Apa … aku bisa memercayaimu, Bay?”


Rarendra meragu. Mendadak lidahnya kelu, sulit untuk melanjutkan pembicaraan. Pernah menangis karena kehilangan cinta, kini dia menangis lagi saat Tuhan menanamkan rasa yang sama pada wanita yang tak seharusnya. Berjuang keras mengabaikan, menghempas, dan membohongi diri sendiri demi tak mau mengakui perasaannya pada Shanuella, tetapi kenyataan itu tak sanggup diingkari. Akhir kata, dia menyerah. Harus mengakui gejolak yang ditolak.


“Kenapa?” Bayu mengernyit.


“Aku mencintai Shan-Shan.”


Bayu bergeming. Pernyataan cinta Rarendra membuat hatinya berdenyut. Akan tetapi, itu bukan haknya, dia tidak bisa mengatur perasaan orang lain, termasuk jika cinta itu ditujukan pada istrinya sendiri.


“Aku harus bilang apa?” Setelah beberapa saat diam, Bayu bersuara. “Yang kamu cintai itu istriku. Lalu, aku harus bagaimana?”

__ADS_1


Rarendra menggeleng.


“Lalu, pernyataan ini untuk apa? Memukul mundurku?” tebak Bayu lagi.


“Tidak.” Penegasan itu diucapkan dengan keyakinan. Rarendra membuka laci di sisi kirinya dan mengeluarkan sebuah amplop putih dengan isi sedikit menggembung. Diletakkan dengan hati-hati di tengah meja, di antara dirinya dan Bayu. “Ambilah. Ini kunci rumah. Salah satu rumahku yang tidak pernah ditempati. Bawa istri dan anakmu untuk menempatinya. Di sana jauh lebih layak dibandingkan rumah yang kalian tempati.” Sedikit mendorong, Rarendra menggesernya mendekati Bayu.


“Sedang menyogokku?” tebak Bayu, tanpa ragu.


“Tidak.” Jawaban disertai dengan kepala menggeleng lemah. “Aku tidak punya alasan menyogokmu. Hanya saja aku mencintai Shanuella, ingin dia bahagia. Entah bersamamu atau laki-laki mana pun.”


Bayu tersentak. Dikiranya Rarendra akan menggunakan segala cara, ternyata laki-laki itu menyerah.


“Aku titip dia. Jaga baik-baik. Aku ….” Terasa berat untuk Rarendra, tetapi dia harus mengungkapkannya agar tak terjadi salah paham di kemudian hari. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan Shan-Shan. Dan, aku juga tidak mau tahu.”

__ADS_1


Berdusta, Rarendra mencoba membohongi diri sendiri dan semua orang. Kenyataannya, selama lima tahun ini tak sekali pun dia lupa akan Shanuella. Berjuang keras untuk membuang perasaannya, cinta itu semakin memeluk hingga sulit bernapas. Kalau ditanya sakit, rasanya seperti menusuk diri sendiri. Ketika dia harus membenci, Tuhan menumbuhkan cinta pada orang yang salah.


“Aku … belum tahu.” Bayu mendorong amplop itu menjauh. “ Shan-Shan yang berhak menjawab, bukan aku.”


__ADS_2