
tok...tok...tok...
Tere berjalan mendekati pintu untuk membuka pintunya.
"Permisi, nona. Makanan telah siap." ucap pelayan yang mengantarkan pesanan Tere.
Tere hanya mengangguk menyetujui ucapan pelayan tersebut. Dengan tangkasnya si pelayan itu langsung menghidangkan dan menata semua makanan dan minuman di meja depan Lana dan Tere duduk.
"Selamat menikmati." Dengan ramah dan disertai senyum dari pelayan. Si pelayan mendorong meja yang dia bawa dan berjalan menuju keluar ruangan seraya menutup pintu ruangan.
Serasa si pelayan sudah pergi, Lana pun memulai pembicaraan. "Wih staff kamu ganteng-ganteng, pantes kamu betah di restoran." jahil Lana sambil menyendok nasi goreng di depannya.
"Apa sih, bukan berarti ganteng terus ada hubungannya sama aku betah banget di restoran, Na. Kamu kan tahu sendiri di rumah kayak gimana." Tere memasang muka masam di depan Lana.
"Iya, cuman bercanda ih."
Tere teringat sesuatu sehingga ia tidak jadi meminum jus apelnya "Nah jadi keinget kan, kamu bahas soal staff yang ganteng si Alex pernah cemburu juga sama staff disini. Padahal kan saat itu aku lagi bahas sesuatu usul di belakang resto eh tiba-tiba Alex datang marah-marah dikira aku sama staff lagi berduaan. Dan dari itu kita pernah juga break."
"Dari dulu sampe sekarang putus nyambung kayak gitu terus nggak bosen?"
"Nggak, walau capek tapi daripada putus mending break aja."
"Dasar bucin!" ucap bodoamat Lana sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya.
"Biarin, dasar jomblo!" jahil Tere sambil menjulurkan lidahnya.
Dengan muka sinis, Lana mengacungkan garpu di depan muka Tere "Kira-kira kalau garpu di lempar ke orang, bisa nggak ya nyangkut di kerongkongan. Masih bisa nafas nggak ya orangnya?"
"Ih... jangan cosplay jadi malaikat maut ah La."
"Nyoba sekali nggak apa-apa kan..." dengan nada yang meneror, Lana masih menatap Tere.
"Alana... ih ngeri tahu."
__ADS_1
Alana tertawa mendengar ucapan Tere "Hahaha... makanya jangan ngeledek aku deh."
"Lalu kenapa kamu bisa break lagi sekarang?" tanya Alana penuh tanya.
Tere terdiam dan angkat suara "Dia buat janji buat ketemu ya sekalian makan malam bareng. Yaudah aku menyetujui permintaannya, aku datang ke restoran yang dia bilang eh sampai sana aku dimarahin dan dia minta break katanya udah capek sama sikap aku."
Lana pun kaget mendengar cerita Tere yang dirasa nggak sinkron "Kok bisa-bisa minta break? kamu ada salah kah kok baru sampai udah marah si Alex."
"Kamu telat kah?" tambah Lana menginterogasi.
"Iya si, tapi kan aku dandan milih baju yang bagus buat dia juga kalau aku cantik." gerutu Tere.
"Hm... pe'ak. Iya marah lah lama nunggu pasti iya kan? janjian jam berapa? dan kamu datang jam berapa?" interogasi Lana layaknya detektif.
"Mbb... janjian jam setengah 7. Terus... aku datang jam 8 lebih."
"Pe'ak... ya dia marahlah nunggu lama."
"Dih alasan, aku tahu kamu. Nggak mungkin nggak lama dandannya apalah ketemu pacarmu pasti lebih inimah."
"Iya kan tujuannya tetap buat senengin dia."
"Hm... terus dia ngomong apalagi kayak alasan kenapa dia nggak sabaran nunggu kamu?"
"Dia lagi break sebelum meeting lagi jam 9."
"Kelewat pe'ak kamu mah. Dah tau dia mau ada meeting pakai lama banget dandan."
"Kan masih ada waktu daripada marah-marah malah nggak jadi makan bareng kan."
"Kamu mah berusaha dong menghargai waktu dia, waktu buat dia me time sama kamu. Dia udah nyempetin seharusnya kamu juga harus langsung peka."
"Arkkkgghhh... bodo ah. Aku pusing, kamu pakai marahin aku segala sih."
__ADS_1
"Dih ngambekan, aku nasehati supaya kamu juga introspeksi diri. Bukan yang salah siapa dan siapa atau bela dia atau kamu, bukan. Tapi aku mau kamu juga cari tahu apa sih yang buat Alex itu merasa sifat kamu buat di capek. Rubahlah dikit ya, Tere sayang."
Tere menatap Lana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah ah, jangan pakai nangis segala. Nanti makanannya jadi kena rembesan air matamu nggak enak." jahil Lana sambil mengaduk sup buahnya.
Tere pun mulai tersenyum dari yang tadinya sudah berkaca-kaca sekarang mulai sumringah.
"Mbb... na kamu nggak bosen jomblo sendirian kayak gitu?"
"Mulai...."
"Ih beneran ini nanyanya. Nggak bosen?"
"Nggak, biasa aja."
"Mending sama Leo aja sih." seru Tere sambil menyenggol lengan Lana.
"Apa sih kamu, aku nggak mau!" ketus Lana.
Lana menganggap Leo itu sebagai saudara sendiri bahkan kakek pun juga menganggap Leo sebagai cucu. Walaupun Leo orang yang sering ada disisi Lana, bukan berarti Lana menaruh rasa. Leo pernah menyatakan cintanya kepada Lana, namun Lana dengan lembut mengatakan dia hanya menganggap Leo sebagai saudaranya sendiri.
"Leo pergi ke Singapura karena kamu kan Na?" tanya Tere sambil menyangga dagunya dengan tangannya.
"Apa sih, ya mana aku tahu. Dia sendiri yang pergi kan."
"Ih... dasar nggak peka. Padahal ----"
Lana memotong pembicaraan Tere "Cukup, Re! bisa nggak bahas itu terus. Aku pulang aja kalau gitu." dengan nada kesal.
"Ih iya, jangan gitu ah. Kan aku mau kamu disini buat jadi penghiburku, masa' kamu pergi ninggalin temenmu yang galau ini." Tere memasang muka memelasnya kepada Lana.
"Leo pergi memang karena aku, Re. Tapi aku nggak pernah menyuruhnya pergi dari hadapanku, itu keputusan dia. Aku harap sekarang dia sudah punya kekasih jadi, dia akan melupakan perasaannya padaku." batin Lana sambil memandang bunga mawar putih yang ada di atas meja.
__ADS_1