My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 91


__ADS_3

Shanuella berlari mengikuti brankar yang didorong petugas rumah sakit. Air mata bercucuran, perasaan berantakan. Perhatian tertuju pada sosok tak berdaya yang kesadarannya timbul tenggelam terus memanggil namanya dengan suara lemah.


“Shan ….”


“Ya, Pak." Shanuella menyahut setengah berteriak. Hati berdenyut ketika melihat tubuh yang biasanya gagah kini berlumuran darah.


“Shan.”


Rarendra terus membisikan nama yang sama, berulang. Tangan pun terangkat lemah seakan memohon agar digenggam.


“Shan.”


Jantung Shanuella berdenyut. Mempercepat langkah, digapainya tangan Rarendra yang terulur. Jemari menjalin satu sama lain, dia bisa merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuh. Memastikan ayunan kakinya tak tertinggal, wanita itu berusaha untuk tetap berjalan di sisi brankar.


“Shan.” Sapaan terakhir sebelum tangan Rarendra terkulai lemah, mata pun terpejam rapat. Namun, genggaman tangannya terasa erat.


Tertegun, Shanuella menatap tangan mereka yang saling bertaut. Ada kenyamanan yang tak terlukiskan. Bukan rasa asing, tetapi dia pernah merasakannya di masa lalu.


“Apa dia benar-benar Blade? Kenapa aku merasa dia hadir di dalam Rarendra. Sentuhan ini mengingatkanku akan pria itu.”

__ADS_1


Langkah Shanuella tertahan di depan pintu IGD. Brankar membawa tubuh Rarendra masuk ke dalam ruangan berpintu kaca, tetapi dia tak diizinkan menemani ke dalam. Hanya petugas medis dan dokter bisa melenggang bebas. Genggaman mereka harus terurai dan rasa kehilangan mengusik hatinya.


Memutuskan menunggu di depan IGD, Shanuella menempelkan punggung di dinding. Berjuang untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang, bibir tipisnya komat-kamit, melafalkan doa. Di tengah keresahan, ponselnya berdenting pelan. Sebuah pesan masuk dari Bayu, menanyakan kabar setelah belasan kali panggilannya diabaikan.


“Shan, kamu di mana?”


Pesan singkat dikirimkan sang suami di aplikasi obrolan. Dari layar, Shanuella bisa melihat Bayu tengah dalam posisi online. Jemari baru akan mengetik pesan balasan ketika pria di seberang melakukan panggilan.


“Mas, ada apa?” Shanuella mengusap air mata sebelum menyapa. Namun, suara seraknya tak bisa berdusta.


“Shan, kamu menangis?” Pertanyaan Bayu menyiratkan kekhawatiran. Lima tahun bersama, banyak hal diketahuinya tentang Shanuella. Bagaimana gadis manja yang berproses menjadi wanita dewasa dan dia beruntung ada di sana, menjadi saksi bisu bagaimana istrinya bertumbuh.


Dilimpahkan perhatian, tangis yang sempat reda bergejolak lagi. Air mata bercucuran, isak itu tanpa malu-malu meluncur keluar.


“Mas, aku di rumah sakit.” Suara wanita itu terdengar lemah.


“Hah!” Bayu tersentak. Suara terkejutnya sampai terasa di seberang panggilan. “Siapa yang sakit? Kamu baik-baik saja, ‘kan?”


“Ya, Mas.”

__ADS_1


“Lana?” tanya Bayu, tak sabar.


“Lana juga baik-baik saja.”


“Lalu, siapa yang sakit, Shan? Jangan katakan Mbok Sari. Aku belum bisa balik sekarang. Mungkin malam baru tiba di Jakarta. Sekarang masih ada meeting setelah itu baru jalan. Kalau tidak macet, habis magrib sudah tiba. Kalau ….”


Pak Rarendra, Mas. Ba … bagaimana kalau dia mati? Aku takut sekali, Mas. Dia menolongku di proyek.” Ada kerisauan di dalam ucapan bercampur tangisan tersebut.


Bayu tertegun. Belum ada yang melapor padanya mengenai kecelakaan yang menimpa Rarendra. Dia masih belum bisa mencerna, butuh beberapa menit kemudian baru terusik dan bertanya balik.


“Bagaimana, Shan? Ceritakan padaku apa yang terjadi?”


Tangisan Shanuella kian meraung. Kesedihan itu terasa sampai kepada Bayu.


“Sudah-sudah, jangan menangis. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Bayu menggigit bibir. Kisah sesungguhnya belum terangkai, tetapi dia harus menenangkan istrinya agar tidak panik.


Suara menenangkan itu menghempaskan ketakutan di dalam diri Shanuella. Meski belum seluruhnya, tetapi sanggup membuat napas yang terjeda kembali teratur.


“Mas, tadinya aku … yang mengalami kecelakaan di proyek. Tapi, Mas ….”

__ADS_1


Bayu menyimak, perasaannya mendadak tak enak.


“Mas, Pak Rendra menyelamatkanku dan kini dia terluka. Harusnya, aku yang terluka di dalam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, Mas?”


__ADS_2