My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 100


__ADS_3

“Tuhan menjamah semua doaku. Nyawa dibalas nyawa.” Rarendra menggeram. Cintanya pada Shanuella menguap ketika mengulang kejadian lampau yang membuat dendam berakar di hatinya.


“Aku harus bagaimana? Aku ….”


Kesalahanmu bukan hanya pada Celina dan orang tuanya, bukan hanya padaku, tapi pada korban yang mendekam di penjara dan menggantikanmu. Rapi sekali permainan kalian. Yang dilibatkan bukan satu dua orang, yang dikelabui bukan hanya institusi, tapi ….” Rarendra mendesah. “Uang memang bisa membeli segalanya, membodoh-bodohi.”


“Kenapa tidak menuntutku kalau memang punya bukti? Itu lebih baik dari pada ….”


“Percuma. Paling lama berapa tahun di dalam penjara. Tiga nyawa berakhir sia-sia karena ulahmu.” Rarendra menegaskan.


“Lalu, apa bedanya denganmu?” Bayu bersuara.

__ADS_1


“Tidak. Sama saja. Aku memilih membalas dengan cara yang sama. Apa aku salah? Dia dan orang tuanya … sah-sah saja. Lalu, kenapa aku tidak boleh? Lagi pula kejahatan apa yang aku lalukan? Sebutkan?”


Bayu menggeram. Tangan terkepal, siap melayang. Andai bukan karena lawannya tengah tak berdaya, bisa dipastikan akan mengajak Rarendra berduel sampai salah satu dari mereka bertemu dengan maut.


“Aku dan Shan-Shan … atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan. Banyak di luar sana kasus seperti ini. Apa sampai ke kepolisian? Patah hati, ditinggal pergi, apa ada yang melapor?”


Shanuella terdiam. Tangisan tanpa suara itu tak mau reda.


“Perusahaan? Itu ada hitam di atas putih. Aku tidak mencurangi atau merebut. Semua terjadi normal. Seharusnya kalian berterima kasih. Aku masih merawat aset-aset peninggalan Sunjaya, tak menjadikannya puing tanpa makna.” Berhenti sesaat, Rarendra mengatur napas. “Hidup itu memberi dan menerima. Apa yang kamu beri, akan kamu terima juga. Hukum tabur tuai itu jelas. Apa yang kamu tabur, jelas itu pula yang dituai. Aku percaya karma dan yakin apa yang kamu terima sekarang adalah bagian dari karmamu. Dan, aku juga sedang menerima karmaku sendiri karena … menyakitimu.” 


“Lupakan saja.” Suara Rarendra bergetar. “Aku juga sudah belajar melupakannya selama lima tahun ini. Aku sudah berdamai dengan masa lalu, mencoba mengikhlaskan semua. Aku juga tak mungkin selamanya hidup di masa lalu. Hanya saja, terima kasih sudah menciptakan luka sedalam ini di hatiku. Aku tidak tahu apa salah Celina sampai kamu menabraknya sekejam itu.”

__ADS_1


“Maaf, aku lalai. Aku baru saja belajar menyetir. Itu ….”


“Hal itu yang sulit kuterima. Celina pergi karena kelalaianmu. Berbeda kalau memang tak disengaja.” Rarendra menegaskan. “Itu bisa disebut musibah.”


“Maaf, itu di luar kemampuanku. Bukan sesuatu yang disengaja.” Suara Shanuella terdengar lemah.


“Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di saat kamu sendiri tidak becus. Itu sengaja. Harusnya kamu tahu kalau memaksa diri itu bisa merugikan orang lain. Terserah kalau kamu yang jadi korbannya. Tapi, orang tak bersalah mati sia-sia karena kesalahanmu. Itu sengaja atau tidak?” Rarendra tidak terima.  “Maaf, aku sedikit keras. Tapi, kamu harus tahu kesalahanmu.”


“Maaf.” 


“Antar dia pulang. Ini sudah malam, Bay. Jangan terlalu merasa bersalah. Hidup itu ada dua, kita tidak menyakiti orang, orang yang akan menyakiti kita. Aku anggap … dendamku padamu telah lama usai.” Rarendra menegaskan. “Mengenai perusahaan, maaf. Itu hakku. Aku tidak merampas apa-apa darimu, Shan.

__ADS_1


Shanuella bergeming. Diusir pergi, dia tak sakit hati sama sekali. Penjelasan Rarendra mengusik rasa bersalahnya.


“Maafkan aku kalau selama ini menyakiti banyak orang.” Shanuella menatap lekat-lekat pria yang tengah membuang pandangan ke sembarang arah. Sejak tadi, sepotong tanya menghuni hati. “Blade, apa cintamu padaku dulu itu juga bagian dari pembalasan dendammu?


__ADS_2