
“Jangan membahas perasaanku, kita sedang membahas perasaanmu, Shan.” Bayu kembali mengganti posisi, berbaring menyamping dengan satu tangan bertekuk dan menahan kepala. Dengan begini, dia bisa memandang Shanuella dan Lana bersamaan.
“Aku tidak masalah. Senyaman Mas saja.”
“Maafkan aku kalau selama ini menyembunyikannya darimu. Aku pun terpaksa. Semua aku lakukan demi memastikan Blade tak menyakitimu lagi.”
“Dia tidak akan menyakitiku lagi. Sakit itu karena aku menunggu terlalu lama tanpa kabar. Sakit itu karena aku tidak tahu alasannya meninggalkanku. Tapi, sekarang aku tidak perlu menunggu lagi. Aku juga tidak perlu bertanya-tanya kenapa dan mengapa, Mas.” Shanuella tersenyum kecut, menyembunyikan kecewa di balik ketegarannya.
“Benarkah?” Bayu memandang istrinya.
Sorot teduh pada paras sendu itu mengusik ketenangan kalbu. Dia bisa menangkap kalau Shanuella tak sepenuhnya jujur. Wanita itu tengah berjuang untuk bisa menutupi kesedihan dan kekecewaan pada dunia.
“Mau menangis?” tawar Bayu, masih menatap lekat wanita yang lima tahun terakhir diperistrinya.
Shanuella menggeleng.
__ADS_1
“Aku bisa melihat kalau istriku sedang tidak baik-baik saja.” Bayu berkata lembut. Suaranya berbisik, tak mau sampai obrolan mereka mengusik lelapnya Lana.
Kembali mendapat penolakan, laki-laki itu tak menyerah. Menarik tubuhnya dan bangkit, dia turun dari tempat tidur dan berpindah ke sisi di mana Shanuella berbaring.
“Ayolah.” Berdiri di sisi tempat tidur, kedua tangan bayu terbentang dan bersiap menyambut Shanuella. Bibir membelah, dia menyunggingkan senyuman hangat untuk meredam kesedihan wanita di hadapannya.
“Ayolah, Shan. Kita bukan orang lain. Tak perlu sungkan padaku.” Bayu membujuk lagi.
Beberapa detik hanya memandang dan menutup rapat bibirnya. Shanuella dilanda kebimbangan. Namun, senyuman Bayu menggoyahkan keresahan. Seperti terseret, wanita itu bangkit dan menyambut tawaran suaminya itu. Memeluk pinggang kekar suaminya, dia merebahkan diri di dada bidang yang menghangatkan hatinya.
“Ssstt, jangan banyak bicara. Menangis sampai puas.” Bayu membelai rambut panjang Shanuella, terus turun ke bawah dan mengusup punggung wanita tersebut. Berulang dan teratur, mengiringi tangisan dan ratapan yang kian melirih sedih.
“Apa aku sejahat itu hingga pantas mendapat perlakuan seperti itu?” isak Shanuella kembali.
Tubuh berguncang, suara mengadu itu terdengar bergetar. Tidak sanggup menahan beban sendirian, dia butuh Bayu untuk berbagi kesedihan. Beberapa menit lamanya, Shanuella hanya terisak. Tak sanggup menyerukan isi hati, membiarkan sesak itu luruh bersama air mata.
__ADS_1
“Sudah, jangan ditangisi lagi. Semua sudah terjadi dan tak mungkin kembali.” Bayu menenangkan.
Sesaat, pelukan di pinggang kekar itu terurai. Tak lama, Shanuella menengadah, memandang Bayu yang dari segi postur jauh lebih tinggi dan gagah darinya.
“Mas, jangan katakan apa pun tentang Lana. Jangan biarkan dia tahu tentang putriku ….”
“Putri kita, Shan. Dia selamanya putriku. Aku juga tidak mau membagi putriku dengannya.” Pandangan Bayu tertuju pada Lana yang sudah tertidur pulas. “Dia putri kita,’ tegasnya.
“Ya, Mas. Biarkan dia tak tahu apa-apa. Aku tidak mau sampai dia merasa besar kepala dan berhak atas anakku. Bisa saja dia merebut Lana dariku ….”
“Tidak akan. Tenang saja. Dia hanya menitipkan di kandunganmu, tidak ada kontribusi apa pun. Kalau hanya menitipkan, aku juga bisa. Semua orang juga bisa.” Bayu mencoba melemparkan canda sembari mengedipkan mata.
Sebuah cubitan berlabuh di pinggang Bayu, Shanuella merengut di sela isaknya.
“Nah, begitu lebih manis, Shan. Jangan menangis lagi. Kita lewati sama-sama. Terserah apa pandangan orang tentangmu, tapi aku punya pandangan sendiri.” Diusapnya pipi putih mulus bak pualam yang basah, kecupan dilabuhkan untuk menenangkan. Di dahi, di kedua pipi hingga ujung hidung mancung yang tampak memerah pun ikut mendapatkan sentuhan. Berhenti sesaat, Bayu meragu. Mengumpulkan sisa keberaniannya, dia mengecup bibir tipis Shanuella.
__ADS_1
Pertautan tak seimbang di awal, kecupan itu tak berbalas. Namun, Bayu tersentak, mata yang tadinya memejam rapat tiba-tiba membeliak. Setelah penantian panjang, Shanuella membalas ciumannya. Canggung, tetapi terasa manis dan membuat kebahagiaan di dalam hati pria itu menggunung.