
“Blade.”
“Ya, aku bukan Blade. Aku Rarendra Tan. Pemilik rumah yang akan direnovasi.” Rarendra menjelaskan. “Kamu ingat?”
“Rarendra?”
“Hmm.” Pria itu mengangguk cepat.
“Kalau memang sudah tidak ada yang ditanyakan, aku permisi. Mengenai biaya, jangan khawatir, aku sudah membayar depositnya.” Rarendra kembali menegaskan. Sebelum berbalik, dia menyempatkan meneliti wanita cantik berhias pucat di hadapannya. Mungkin mereka akan sering bertemu setelah ini. Menurut Nita, Shanuella adalah perwakilan dari Halim Group yang akan menangani proyek HVAC di rumah yang akan direnovasinya.
Shanuella memandang punggung kekar pria yang tak mau mengaku sebagai Blade itu menghilang di balik pintu. Jujur, dia terguncang. Air mata yang ditahannya sejak tadi tiba-tiba berhamburan turun bersamaan dengan suara pintu ruangan tertutup.
“Tidak mungkin ada orang semirip itu di dunia. Aku yakin dia Blade.” Shanuella terisak hebat. “Dia pasti Blade, bukan Rarendra.
Setelah sebelumnya terguncang karena kediaman masa kecil yang menyimpan kenangan, kini guncangan tak kalah hebat hadir setelahnya.
“Blade ... dia Blade. Kenapa dia tega padaku? Setelah sekian lama, dia memilih untuk tak mengaku. Dia Blade, perasaanku mengatakan kalau dia Blade. Kenapa dia pergi buru-buru? Tidak adakah keinginan untuk meminta maaf padaku setelah semua yang terjadi?”
Tangisan Shanuella semakin menjadi. Bayangan masa lalu hadir bersama kesedihan.
“Setelah lima tahun berlalu, dia datang dan pergi lagi. Bahkan, aku belum sempat menceritakan padanya tentang Lana.” Shanuella terisak. “Kenapa dia begitu? Bukankah harusnya aku yang marah? Bukannya aku yang harus benci? Lalu, kenapa dia bersikap seolah-olah tak mengenalku?” Tangisan Shanuella berubah menjadi raungan kesedihan. Ditumpahkan segala rasa yang kini menyesak di dadanya melalui air mata.
__ADS_1
Kalau Shanuella terguncang sendirian di dalam kamar, Rarendra terpukul dan memilih bersandar di pintu kamar sisi luar. Meremas dadanya yang sakit, dia tak sanggup mengenali perasaannya saat ini.
Rindukah? Cintakah? Atau bencikah? Rarendra tak jelas dengan perasaannya kini. Ada sakit di sisi terdalam hatinya. Terasa diremas saat mengingat kembali wajah Shanuella setelah lima tahun terpisah.
“Dia masih secantik dulu, masih semanis dulu.”
Akan tetapi, ada luka di balik manik yang sehitam jelaga. Air mata tertahan itu cukup mengabarkan padanya kalau Shanuella tidak baik-baik saja selama ini.
“Kenapa hatiku tidak tenang setelah melihatnya? Kenapa perasanku gamang setelah berbicara dengannya? Kenapa aku tidak bahagia setelah memastikan kalau dia benar-benar terluka. Apa yang salah denganku?” Rarendra membenturkan kepalanya ke pintu dan memejamkan mata.
Bersamaan dengan itu, Bayu muncul dari ujung koridor dan berdiri tepat di depan atasannya.
Rarendra membuka mata. Dia mendapati Bayu berdiri tepat di hadapannya dengan wajah penuh harap.
“Silakan.” Rarendra mengangguk pelan. “Aku juga mau pulang sekarang. Tolong, urus administrasinya. Sebisa mungkin ... aku tidak mau terlibat dengannya. Dia adalah musuhku di masa lalu dan masa depan. Pastikan, aku tidak bertemu dengannya setelah ini.”
“Bos?” Bayu tercengang. “Bukannya ... selama ini Bos sendiri sering menanyai tentang Shan ....”
“Aku hanya bertanya. Tidak ada maksud apa-apa. Pastikan kami tidak perlu bertemu lagi setelah hari ini dan seterusnya. Aku ... membencinya.” Rarendra menggigit bibir dan memejamkan mata saat menyatakan itu.
“Baik, Bos. Aku akan memastikannya. Tenang saja.”
__ADS_1
...✔️✔️✔️...
Waktu sudah menunjukkan pukul 18. 30 petang saat Bayu masuk ke dalam kamar perawatan yang ditempati Shanuella. Dari tempatnya berdiri, pria itu bisa melihat rona kesedihan di paras cantik sang istri.
“Shan, apa yang terjadi?” Bayu masih berpura-pura tak tahu apa-apa.
“Aku ... aku pingsan di lokasi, Mas. Shanuella duduk di atas tempat tidur. Mata memerah, wajah cantik itu sembab karena terlalu banyak menangis.
“Apa semua baik-baik saja?” Bayu menjatuhkan bokongnya di bibir tempat tidur agar biasa lebih leluasa berbincang dengan istrinya.
Tepat saat pria itu memantapkan posisi duduknya, dua tangan tiba-tiba memeluk pinggang dan merebah di dadanya yang bidang. Tak lama, terdengar isak tangis, disusul tubuh mungil yang berguncang.
“Shan, kenapa?” Bayu mendekap istrinya dengan penuh perasaan.
“Mas ... aku bertemu dengannya. Kenapa ... dia masih sejahat dulu?” isak Shanuella di dalam dekapan hangat suaminya. “Dia ... dia ... berpura-pura tak mengenaliku, Mas. Tapi, aku yakin kalau itu dia, Mas.”
Tangisan Shanuella semakin menjadi. Ratapan menjadi raungan, dan menjerit histeris.
“Aku membencinya, tapi dia memberiku Lana. Gadis kecil yang selamanya akan membuat kami terikat. Bagaimana kalau dia tahu tentang Lana ....”
“Lana putriku dan kamu istriku. Dia tidak berhak apa-apa. Aku yang berhak atas kalian. Biarkan saja, dia tidak akan berani menyentuhmu dan Lana. Biarkan saja, Shan. Aku akan menjaga kalian darinya. Percayakan pada suamimu, Bayu Lesmana.” Memeluk erat Shanuella, Bayu masih sempat mengusap pelan punggung istrinya itu.
__ADS_1