My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Extra Chapter 5


__ADS_3

Bayu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu memandang ke arah wanita cantik yang tengah bersimpuh di depan koper hitamnya. Tangan cekatan itu tampak mengeluarkan lipatan baju dari dalam peti persegi itu dan menatanya di atas sofa.


“Ga, tidak perlu dibongkar. Aku harus kembali ke Jakarta.” Bayu menitah wanita muda berusia di penghujung kepala dua yang bertanggung jawab memastikan apartemennya tetap bersih selama dia di Jakarta.


“Loh?” 


Jingga nama wanita ayu berambut hitam pekat sebahu yang melongo memandang Bayu. “Bukannya Bapak baru tiba?” tanyanya bingung. Urung membongkar pakaian lainnya, wanita cantik itu menunggu instruksi


“Ya, ada masalah di Jakarta, sepertinya aku harus kembali sekarang.” 


Bayu menyunggingkan senyuman tipis pada wanita yang belum lama dipekerjakan untuk membersihkan huniannya selama bertugas di kota Bandung. Apartemen dua kamar—fasilitas yang didapatnya dari Rarendra. 


Bisnis baru majikannya itu bekerja sama dengan salah satu pengusaha terkemuka dari Kota Kembang. Dikarenakan berbeda dengan yang biasa digeluti, Rarenda memberi kesempatan ini pada Bayu supaya bisa berkembang. Usia tak muda lagi, sudah tak pantas menjadi ‘tukang pukul’ yang membutuhkan stamina tinggi. 


Jujur, Bayu sungkan menerima semua ini. Terbiasa bekerja di lapangan menggunakan tenaga, dia harus berpakaian rapi dan memutar otak di bidang yang baru digeluti ini. Kalau bukan pinta Shanuella, tentu dia akan menolak. Rencananya adalah menikmati hari tua, pulang ke kampung halaman dan mengelola sepetak sawah dengan sisa tabungan yang tak seberapa.


“Jadi, ini dimasukkan kembali ke dalam koper, Pak?” Jingga bertanya dengan suara pelan.


“Ya, rapikan kembali, Ga. Aku harus ....” Kalimat Bayu terjeda bersamaan dengan nada dering kembali mengalun dari saku celana. Ponselnya menjerit lagi, meminta diperhatikan.


Menyeringai tipis, Bayu sudah bisa menebak kalau Rarendra akan menghubunginya. Kepada siapa pria itu akan meminta bantuan, kalau bukan padanya yang dianggap mampu menaklukkan Shanuella dan Lana.


Melirik ke arah Jingga sekilas, Bayu lantas melangkah menuju ke jendela lebar di sisi kanan ruang tamu. Dia tak mau obrolannya menjadi konsumsi orang luar. Mengusap pelan tombol terima, ditempelkan benda pipih itu di telinga.


“Bay, tolong aku.” Suara panik menyela lebih dulu sebelum Bayu menyapa. Nada bicara Rarendra menyiratkan kepanikan.


“Kenapa lagi?” Walau atasannya, Bayu tak sungkan sama sekali bersikap lancang. Mereka bukan sekadar atasan-bawahan atau majikan dan pembantu. Hubungan keduanya lebih dari itu. Terjalin sejak dulu, saat sama-sama masih menjadi bodyguard di keluarga Shanuella.

__ADS_1


“Shan-Shan ....” Suara Rarendra mengambang, lalu menembus ke tujuan. “Dia menghubungimu?” 


“Hmm.” Ada nada kesal dalam reaksi singkat Bayu yang tanpa kata. Sebelum Rarendra menghubunginya, Shanuella sudah lebih dulu mengadu.


“Tolong aku, Bay. Jelaskan padanya kalau semua hanya salah paham.” Rarendra mengiba.


“Memangnya apa yang dilihatnya?” Bayu akhirnya tak tega. Nada kepanikan Rarendra sanggup meruntuhkan kekesalannya. 


“Kathy, Bay. Kathy.”


“Sudah aku katakan. Bereskan masalahmu dan ular betina itu. Aku tidak masalah kalau kamu yang disakiti. Dibuat sampai mati berdiri juga, masa bodoh. Bukan urusanku lagi. Kalau begini, yang terluka itu Shan-Shan.”


“Dia menghubungimu?” Rarendra memotong ucapan Bayu.


“Mau menghubungi siapa lagi? Daddy-nya di surga dan mengadu kelakuanmu?” sembur Bayu.


Rarendra terdiam di ujung panggilan.


“Please kembali ke Jakarta.” Rarendra memohon.


“Tidak perlu mengajariku.” Bayu menyembur.


“Aku tidak tahu. Tiba-tiba ada Kathy di rumah kami. Sialnya, Shan-Shan melihat semuanya dan ....”


“Jadi, kalau Shan-Shan tidak melihat, kamu pikir sah-sah saja?” Bayu kembali melontarkan tanya bernada kesal.


“Bukan begitu, Bay. Aku ... aku ....”

__ADS_1


“Sudah kukatakan. Selesaikan dulu urusanmu dengan Kathy sebelum memulai lagi dengan Shan-Shan.”


“Sudah. Aku sudah selesaikan. Belum lama ini aku sudah mengiriminya sejumlah uang dan mengiriminya pesan. Eh, malah dia datang padaku.” Rarendra berkisah.


“Memangnya kamu pikir, cukup dibayar pakai uang? Jangan sepolos itu, kita sama-sama tahu apa yang diinginkannya.” Bayu berdecap kesal.


“Lalu, kamu mau aku tidur dengannya atau menerima cintanya sebagai pelunasan pembayaran.”


“Kubunuh kau!” Bayu meradang. “Berani menyakiti Shan-Shan, hadapi dulu aku. Jangan coba-coba. Aku menyerahkannya padamu, bukan karena aku tak mampu menjaganya. Tapi, aku melihat masih ada cinta di matanya untukmu.”


“Maaf.” Suara Rarendra terdengar putus asa.


Memandang lurus ke depan, kota Bandung tampak indah di hadapannya. Hamparan langit biru dengan gumpalan kapas putih membuai mata dan meredam gejolak dal jiwa.


“Aku baru saja sampai apartemen di Bandung. Ini mau balik ke Jakarta. Komunikasi terakhir dengan Shan Shan, dia di rumah lama kami. Aku memintanya menungguku di sana.”


Bayu berbalik badan. Tak sengaja, pandangannya beradu dengan Jingga yang diam-diam memperhatikannya. Terlihat wanita itu menunduk dan salah tingkah.


“Sudah dulu.” Bayu masih memandang lekat-lekat wanita yang bertugas menjaga apartemennya itu. Ada semburat luka tertangkap olehnya di manik mata pekat milik Jingga. 


Memutuskan panggilan, Bayu berjalan mendekat. Dirogohnya saku celana bagian belakang, mengeluarkan dompet hitamnya dari sana. Dua lembar uang kertas berwarna merah ditarik keluar dan disodorkan pada Jingga yang masih setia bersimpuh di tempat semula.


“Gajimu bulan ini aku transfer. Ini untukmu. Maaf, aku harus kembali ke Jakarta sekarang. Ada sedikit masalah keluarga."


Jingga menerima dengan malu-malu. Dia memang sedang membutuhkan uang untuk membayar kontrakan. Sudah sebulan lebih menunggak, terancam diusir keluar pemilik rumah. Tak mungkin berharap banyak dari sang suami yang peminum dan suka main perempuan, sepatah protesnya hanya akan dibalas bogem mentah.


Dia bisa apa, lulusan SD sepertinya hanya mampu mendedikasikan diri menjadi babu. Tidak ada keahlian lain yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. 

__ADS_1


Sesal itu hadir, teringat bagaimana kedua orang tua yang sudah berkorban demi menyekolahkannya. Namun, dia malah terjerat pesona Kang Bima—pemuda tampan putra pemilik puluhan petak sawah di desa. Sempat hamil sebelum akhirnya terpaksa menyudahi pendidikan di jenjang putih biru, Jingga dihantam godam raksasa saat melihat ayah dan ibunya yang bekerja sebagai buruh tani harus melepaskan mimpi. 


“Terima kasih, Pak.” Jingga meremas uang dua ratus ribu rupiah itu sembari menunduk menyembunyikan malu. Dia memang berharap banyak dari belas kasih sang majikan di luar gaji bulanan yang datang di setiap ujung purnama.


__ADS_2