My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 119


__ADS_3

“Aku merasa … tidak ada alasan untuk menerimanya.” Shanuella menegaskan.


Jujur, dia sempat ragu sebelum memutuskan untuk menjawab. Ada banyak pertimbangan untuknya, terutama Kelana—sang putri. Bagaimanapun, gadis kecilnya berhak atas semua yang ditawarkan Rarendra. Terlepas bagaimana sikap laki-laki itu padanya, hubungan darah tidak akan pernah terputus walau memaksa dengan berbagai cara.


“Kamu yakin?”


Perasaan Bayu membuncah saat Shanuella sudah memutuskan dan itu yang diam-diam diharapkannya. Namun, dia tidak berhak mengambil sikap. Istrinyalah yang harus memutuskan semua, menerima atau menolak.


“Ya, Mas.” Shanuella mengangguk di dalam dekapan hangat pria berperawakan gagah itu.


“Ini tawaran yang bagus untuk kalian. Untukmu dan Lana.” Bayu mengingatkan. “Aku tidak bisa memberi kehidupan yang layak untuk kalian dan ini ....”


Shanuella menggeleng. Bibirnya merekah bersama senyuman manis memulai pagi menyambut hari.


“Di sini bukan hanya ada aku dan Lana saja. Bukan kami, tapi kita, Mas.”

__ADS_1


Bayu tersentak. Kalimat berisi penjelasan singkat itu sanggup membuatnya melayang tak tentu arah, Terus mengawang bersama hamparan asa yang terbilang sederhana. Dia bisa merasakan keberadaannya dianggap, bukan hanya sekadar perhiasan di dalam rumah tangga mereka. Meskipun, sebagai suami belum mampu memberikan yang terbaik. Hanya sebuah rumah kontrak sederhana dan kehidupan apa adanya yang sanggup diberikan pada wanita cantik di dalam dekapnya itu.


“Terima kasih, Shan. Aku tahu, ini tidak mudah untukmu.”


Mengurai dekap memberi jarak, dia ingin melihat wajah istri yang selama lima tahun ini telah mendampinginya dengan lebih jelas. Berusaha mencari kejujuran, Bayu tak mau sampai salah menafsirkan ucapan. Bisa saja kebahagiaan yang dirasakan hanya sebuah perasaan belaka. Kata-kata yang diucapkan demi menyenangkan pria tua yang terus memupuk harap tanpa lelah.


Rasa haru menyatu dengan bahagia, diamatinya paras jelita dengan kilat kantuk yang masih tercetak nyata. Senyum Bayu pecah sesaat sebelum memeluk istrinya dan mengecup bertubi-tubi. Tanpa jeda, bahkan tak memberi kesempatan Shanuella berontak dan protes. Pipi, dahi, seluruh lekuk wajah tak terlewatkan. Sampai akhirnya, ciuman pria itu berlabuh di bibir.


Sekilas dan tipis, Bayu cukup tahu diri dan mengerti posisi. Dia mungkin satu dari sekian banyak suami yang bernasib menyedihkan. Jangankan hak untuk mendapatkan istrinya secara utuh, sebuah ciuman bibir pun terkadang harus mencuri-curi kesempatan. Akan tetapi, dia tak mau serakah. Dari mana hubungan mereka bermula, tentu laki-laki itu mengingatnya.


Dusta dan keegoisan yang membawa mereka ke pernikahan. Andai hari ini Shanuella masih memberinya kesempatan, tentu karena kebaikan hati wanita pemaaf tersebut. Jika dulu dia jujur dan memilih membuka identitas Blade, pasti keadaan tak begini. Bisa jadi, wanita yang diperistrinya kembali ke pelukan Rarendra dan dia hanya bisa menatap cemburu dari jauh. Namun, ego membuatnya jadi pria culas,. Menggunakan alasan untuk melindungi agar rasa bersalah tak terlalu kentara.


Pekikan Shanuella menyadarkan Bayu. Terlampau bersukacita, pria itu lupa banyak hal, termasuk Lana yang tengah terlelap tak jauh darinya.


“Maaf.” Menangkup wajah Shanuella, diusapnya kedua pipi yang bersemu malu. “Aku lupa pada Lana.” Berbisik pelan, Bayu menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


Diingatkan akan sang putri, Shanuella menoleh ke sebelah. Dipandangi gadis kecil yang tengah terlelap dengan raut polos tanpa dosa. Rasa bersalah hadir menyelubungi hati ketika menyadari separuh hak Lana telah dikebirinya dengan sengaja. Andai di tak berhak, putrinya itu berhak atas apa yang ditawarkan Rarendra .


“Maafkan, Mama.” Pandangan Shanuella mendadak sayu. Memalingkan wajah buru-buru, tatapan tertumbuk pada Bayu. “Mas.” Suara melemah, sepasang matanya tampak berkaca-kaca.


“Kenapa menangis lagi, Shan?”


Kepala menggeleng, rambut panjang berantakannya berayun pelan. “Mas, tolong ... jangan sampai dia tahu tentang Lana. Biarlah, selamanya anak itu menjadi putrimu.”


Bayu tersentak. Termangu menatap, lidahnya kelu. Dia tak menyangka Shanuella tetap pada keputusannya setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Perubahan sikap Rarendra dikiranya akan mengubah pemikiran wanita itu. Ternyata tidak, istrinya tetap teguh pada pendirian semula.


“Kenapa?”


“Aku tidak ingin kelak putriku banyak bertanya. Kenapa dan mengapa, aku harus menjawab apa padanya, Mas?”


Bayu diam.

__ADS_1


“Aku harus mengatakan pada Lana kalau papanya sengaja menyakiti mamanya demi membalas dendam dan lahirlah dia. Lalu, dia akan menganggap kalau kehadirannya adalah buah dari dendam dan kesalahan.” Shanuella menarik napas panjang, berat untuknya mengisahkan luka lama yang dipendamnya bertahun-tahun. “Dosaku pun akhirnya akan terbuka. Anakku akan tahu kalau mamanya dulu seorang pecundang yang tak bertanggung jawab. Menghilangkan nyawa orang lalu cuci tangan. Apa yang bisa aku ajarkan padanya, Mas?”


Bayu menatap diam.


__ADS_2