
“Maafkan aku, Bay.” Harry menyapa setelah meredam kekesalan yang disebabkan putrinya.
Bayu terkekeh pelan.
“Anak itu membuat kepalaku mau pecah. Baru dua hari aku di Jakarta, tensi naik, gula darah naik, kolesterol naik. Bahkan, asam lambung pun ikut naik.” Harry berkeluh kesah, menumpahkan perasaan tertekan setiap berkunjung ke ibu kota.
Lagi-lagi Bayu menanggapi dengan senyuman tanpa suara.
“Aku heran. Punya anak perempuan, satu-satunya, tapi kelakuan liar luar biasa. Kalau terlalu lama aku di Jakarta, bisa-bisa tinggal nama. Jantungku pun akan terkena imbasnya, Bay.” Harry masih saja menyemburkan kekesalan yang sama.
Berdehem pelan, Bayu merapikan duduknya. Menoleh sekilas pada Shanuella yang kini tenang, dia pun melontarkan tanya pada lawan bicara di seberang panggilan.
“Ada apa menghubungiku, Har?”
“Oh.” Harry tak enak hati. “Maaf, Edel membuat kepalaku berasap dan terbakar.” Pria yang usianya satu tahun di bawah Bayu itu terkekeh pelan.
“Memangnya ada masalah apa menghubungiku, Har?”
“Kamu tidak jadi ke Bandung?” Harry mengutarakan maksudnya menelepon Bayu.
“Ya. Sebenarnya sudah sampai Bandung. Eh, tiba-tiba ada masalah dan mengharuskan aku kembali ke Jakarta.”
“Pantas saja. Aku menghubungi orang kantor, katanya Pak Bayu belum kelihatan.”
“Ya, mungkin besok atau lusa baru, Har.” Bayu menjelaskan.
“Oh, oke. Kamu bertemu dengan Rendra. Sejak tadi aku mencoba menghubunginya, tapi panggilanku tak tersambung.”
Bayu menoleh ke penumpang cantik di sebelahnya, lalu tersenyum. “Dia sama sepertiku, ada sedikit masalah.”
Setelah sebelumnya mengomel tak jelas, Harry akhirnya bisa terkekeh ringan. “Bukannya dia mau menikah? Jangan katakan kalau ....”
“Tidak. Rendra akan menikah. Kalau sampai batal, aku tidak bisa membayangkan berapa banyak gadis cantik bersorak-sorai.” Sengaja meninggikan suaranya, Bayu ingin Shanuella mendengar jelas ucapannya. “Selama mengenal Rarendra, kamu tahu sendiri berapa banyak wanita yang mengejarnya dan tergila-gila.”
__ADS_1
Wanita cantik yang duduk di kursi penumpang menoleh. Tatapan beradu, ada cemburu dalam sorot mata sendu yang masih berjejak basah.
“Jadi menikah salah satu cara untuk membubarkan barisan perempuan yang selama ini mengejar-ngejarnya, Har.”
“Siapa calon istrinya? Pertemuan kami terakhir, dia tidak membahas apa pun. Hanya cerita kalau akan menikah dalam waktu dekat.”
Bayu menghela napas berat, memusatkan perhatiannya ke depan. Lalu lalang kendaraan di tengah temaram senja.
“Wanita beruntung yang berhasil menaklukkan Rendra ... em ... Shanuella SunShine.” Kembali mengeraskan suaranya, Bayu berkata dengan penuh keyakinan. Berharap, ucapannya mampu menyusup ke dalam relung hati dan mengubah pikiran wanita dengan seorang putri cantik itu
“Oh, ya sudah. Tolong sampaikan padanya kalau bertemu. Minta Rendra menghubungiku secepatnya. Ada yang ingin kusampaikan padanya.”
“Siap Har.”
Panggilan selesai, Bayu lagi-lagi menoleh ke arah wanita yang masih tampak kusut masai. Riasan wajah berantakan, jejak air mata masih di mana-mana.
“Rapikan wajahmu, Shan.” Bayu menitah. Tangan kirinya dengan lancang merapikan helaian rambut yang terjatuh dan menutupi wajah sembab Shanuella dan menyelipkan di balik telinga. “Kita jalan sekarang.”
“Aku akan mengantarmu ke tempat Rendra.”
“Aku tidak mau.” Shanuella merengut.
“Lana masih bersamanya. Kamu mau anak itu menginap di tempat daddy-nya malam ini?” Bayu mengingatkan.
“Aku tidak mau.” Wanita itu bersikukuh.
“Sudahlah, Shan. Kalian sudah akan menikah sebentar lagi. Namanya pernikahan, pasti ada cobaan. Mau dibatalkan?” tanya Bayu dengan nada datar.
Shanuella diam.
“Kalau memang tidak mau, aku sampaikan pada Rendra. Supaya dia bisa bersiap-siap mencari mama baru untuk Lana mulai dari sekarang. Atau, Kathy saja. Bukannya dia teman kuliahmu? Tentu kamu sudah sangat hafal karakternya, Shan.”
“Aku tidak mau.” Shanuella bersikeras.
__ADS_1
“Loh, kalau kamu tidak mau menikah dengan Rendra, bukan berarti Rendra tidak boleh menikah dengan wanita lain, ‘kan?” Bayu mengingatkan. “Dia butuh wanita di dalam hidupnya. Untuk mengurusnya, mengurus Lana ....”
“Sudah. Kita jalan sekarang!” perintah Shanuella, kesal.
“Ke mana?” Bayu lagi-lagi memancing.
Pipi Shanuella menggembung kencang. Memiliki seorang putri bukan berarti sikap kekanak-kanakan wanita cantik yang duduk di sebelah Bayu itu jadi berkurang. Walau sempat mereda di beberapa kesempatan, Shanuella masih saja manja dan terkesan tak dewasa.
“Ke rumahnya.”
“Rumah siapa?” Bayu mengulum senyuman.
“Rendra.” Jawaban Shanuella terdengar ketus.
“Nah. Begini ‘kan jelas. Aku harus tahu tujuan mobil ini bergerak ke mana?”.
“Jangan merayuku. Aku tak tahu kalau Mas dan Rendra itu sekubu.”
“Ya pasti sekubu. Aku masih digaji Rendra.” Bayu tergelak bersamaan dengan mobil yang mulai bergerak pelan.
“Nah, ‘kan?” Shanuella melipat tangannya di dada.
Bayu menghela napas perlahan, lalu mengulum senyuman. Tidak mudah duduk berdua dengan Shanuella dan membahas pria lain di saat perasaannya masih sama seperti semula. Kisah mereka memang sudah usai saat hakim memutuskan dengan mengetuk palu perceraian. Akan tetapi, cintanya masih belum selesai. Tetap berkembang diam-diam.
“Aku menyayangimu dan Lana. Tak mungkin menjerumuskan kalian, Shan. Pegang kata-kataku. Aku bisa saja menjauh dari kalian dan menghilang begitu saja. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak kekanak-kanakan seperti itu dan memilih egois dengan alasan menjaga perasaanku.” Bayu berterus terang.
Shanuella tersentak.
“Bagaimana masa depanmu dan Lana, aku akan ada di sana sebagai saksi perjalanan kalian. Tanganku mungkin tak pantas menggenggam tanganmu, tapi bahuku masih milikmu.” Suara Bayu bergetar. “Ketika kamu lelah menggandeng tangannya, saat kamu ingin menyerah bersamanya ... singgah dan datang padaku. Mungkin pundakku tak lagi senyaman dulu, tapi akan selalu ada untukmu. Jaminan seumur hidup.” Bayu mengusap dada kirinya dan terkekeh.
“Mas.” Shanuella menggigit bibir. Ucapan Bayu membuatnya sedih. Ada kenyamanan yang hilang saat perpisahan mereka datang.
“Aku pernah berjanji pada seseorang untuk menjagamu dan Lana, tentu harus kutepati sampai aku mati. Bagaimana lagi? Orangnya sudah pergi. Tak mungkin menarik kata-kataku lagi.” Bayu tersenyum getir.
__ADS_1