
Rarendra gelap mata hanya karena mendengar pernyataan cinta sepihak dari bibir Bayu yang dikumandangkan dengan tegas. Rasa tidak terima itu memercik amarah. Garis wajah mengetat, kepalan tangan mengeras, pukulan membabi buta dilabuhkan pada sang asisten yang tak kunjung memberi perlawanan. Ya, bawahannya itu memilih bertahan dibandingkan menyerang.
“Bangun! Lawan aku!’
Perintah diturunkan pada pria berlumuran darah yang tergolek lemah di atas hamparan rumput hijau. Taman belakang biasanya menjadi tempat bercengkerama kini berubah jadi arena pertarungan atau lebih tepatnya tempat pembantaian.
“Bangun! Kita bertarung sesama laki-laki. Jangan jadi pengecut!”
Bayu bergeming. Tetap berbaring di tanah berumput sembari menikmati denyut di tubuhnya yang terluka dan mengeluarkan cairan merah. Mereka bukan hanya sekadar atasan dan bawahan, tetapi ikatan yang terjalin lebih dari itu. Pernah menjadi bodyguard Sunjaya, banyak hari yang mereka lewati bersama.
“Brengsek! Bangun sekarang!”
Segala sumpah serapah dikumandangkan. Semakin Rarendra meluapkan amarah, gejolak di dalam diri kian menggila. Hilang akal, tak lagi berlogika, dia nyaris lepas kendali. Kehilangan kontrol atas diri sendiri, tergulung emosi yang menenggelamkan dalam kepungan angkara murka.
__ADS_1
“Jangan sentuh Shan-Shan, silakan memukulku sampai puas, silakan membunuhku. Tapi, jangan sentuh dia. Jangan sakiti dia lagi. Dia tak sekuat yang kamu kira.” Suara Bayu terdengar lemah.
Rarendra mencekal kerah pakaian dan memaksa pria berhias darah segar tersebut agar segera berdiri. Tak lama setelah itu, dua pukulan pun bersarang di perut Bayu. Di titik ini tubuh kekar pengawal pribadi itu pun menyerah. Jatuh tak sadarkan diri, sesaat setelah darah segar memancar keluar dari sudut bibir.
Sepatah kata terucap pelan sebelum kesadaran itu lenyap sanggup membuat Rarendra dihantam rasa bersalah. Shanuella, nama yang dibisikkan di sela cairan darah yang mengalir keluar sudut bibir.
...🍒🍒🍒...
Siang berganti senja, malam pun merangkak datang. Perlahan terang menggelap dan akhirnya memekat gelap. Shanuella bertarung dengan batinnya sejak siang. Perpisahan dan Bayu di depan kantor Halim Group tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Mama, Papa yum puyang?” tanya Lana ketika melihat gelap telah menyelimuti dunia dari celah tirai jendela. Tak biasanya sang papa absen di jam-jam menunggu waktu makan malam datang.
Shanuella tertegun. Dipandanginya sang putri yang tengah duduk di karpet lantai di sisi Mbok Sari. Rumah kontrakan mereka tak bisa dikatakan mewah. Hanya masuk ke dalam kategori nyaman di kantung, bukan nyaman dinikmati. Dua kamar tidur mungil, satu ruang tamu yang difungsikan sebagai ruang berkumpul, dan sebuah dapur sederhana menyatu dengan ruang makan. Kamar mandi mungil menyempurnakan kediaman sederhana tempat keluarga kecil merela bernaung dari panas dan hujan.
__ADS_1
“Sebentar lagi, Sayang. Mama telepon Papa dulu, ya.” Bibir Shanuella menebar senyuman terpaksa. Dia tak mungkin membagi resahnya pada Lana dan Mbok Sari.
Berjalan menuju ke teras rumah, Shanuella menutup kembali pintu utama. Di tak mau obrolannya dan Bayu sampai terdengar orang-orang di dalam. Semilir angin malam membuai kulit. Hawa dinginnya sampai menembus tulang dan membuat tubuh berbalut piama tidur itu menggigil pelan.
Memandang layar ponsel, Shanuella tertegun beberapa saat sebelum melakukan panggilan untuk ke sekian kalinya. Ada kekhawatiran tak biasa mendekam di dada. Perasaannya mendadak gugup tanpa kejelasan.
“Mas, kenapa ponselmu tidak diangkat sejak tadi. Sekarang malah benar-benar tak aktif. Resah bergelayut nyata, Shanuella mengusap dada dan menenangkan diri.
Berjalan mondar-mandir di teras kontrakan yang sempit, wanita itu semakin resah ketika nomor yang tadinya tak diangkat kini tak aktif lagi. Bayu menghilang tak berjejak.
“Apa yang terjadi?”
Shanuella menatap kegelapan yang menyelimuti bumi. Suara malam dan senandung jangkrik mulai terdengar menyapa samar-samar. Rembulan pun malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan.
__ADS_1
“Apa terjadi sesuatu pada Mas Bayu?” Pertanyaan yang tak tahu ditujukan untuk siapa, Shanuella bergumam sendiri dalam keheningan. Mendadak, pikiran buruk bergelayut. Resah yang sejak tadi diabaikan tiba-tiba hadir lagi.
“Apa aku hubungi Rarendra, ya? Mas Bayu bekerja dengannya. Tentu dia tahu di mana suamiku.”