My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 112


__ADS_3

Senja merangkak turun. Sang surya perlahan tenggelam di sudut barat. Pria gagah dengan tampilan rapi, masih menyimpan resah seorang diri. Izin yang diberikannya, tetapi membuat dia waswas sendiri. Berulang kali menatap jam di dinding, waktu seakan berhenti. Rasanya ingin menghubungi Shanuella, memastikan wanita itu tak melupakannya.


Berdiri di depan jendela, mengagumi swastamita jingga di antara gedung-gedung pencakar langit yang tak pernah tidur. Biru cakrawala berubah keemasan dan sebentar lagi menggelap. Tak jauh berbeda dengan isi hatinya saat ini, merindukan wanita yang tak pernah peka dengan rasa cintanya.


Suara ketukan terdengar samar, menyadarkan Bayu dari lamunan. Berbalik badan, dia hanya sendirian di ruangan sejak siang. Rarendra tak kembali sejak menghubungi dan meminta izin makan siang dengan istrinya.


“Masuk.”


Pintu terbuka, seorang wanita cantik yang tak lain sekretaris pimpinan muncul dengan tas tersampir di bahu.


“Mas, belum pulang?”


“Bosmu belum memberi perintah. Apa dia sudah kembali ke kantor?” Bayu balik bertanya.


Wanita bernama Ratih itu menggeleng lemah. “Sejak siang, Bapak tidak mau diganggu. Tapi, tadi sopir kantor diminta menyusul ke rumah. Katanya, Bapak kurang enak badan. Suruh beli obat.” Wanita itu berkisah.

__ADS_1


“Loh!” Bayu tercengang. “Kenapa dia tidak memintaku?” 


Pundak Ratih berjingkat pelan, kepalanya menggeleng. “Kita pulang saja. Bapak sedang ingin sendiri. Sepertinya ada masalah.”  Diam-diam mencuri pandang, sekretaris itu mengulum senyuman. “Lana menunggumu, Mas.” Ratih menggigit bibir.


Tak menjawab, Bayu menyambar jaket kulit yang bergulung di sofa. Berjalan ke arah Ratih, sembari mengeluarkan ponsel dari saku celana. Diingatkan akan Lana, rindunya mencuat. Dia teringat pada rumah sederhana dan seisinya, terutama anak dan istri yang sejak tadi tak berani dihubunginya.


Menempelkan gawai di telinga setelah menekan nomor istrinya, Bayu mengabaikan senyuman wanita muda di ambang pintu. Hanya melambaikan tangan, dia ingin secepatnya memastikan ucapan Ratih benar terjadi.


Nada sambung memercik debar, Bayu gugup ketika suara istrinya menyapa pelan dari ujung panggilan.


“A ... aku baru mau jalan. Kamu di mana?” 


“Aku baru mau keluar dari kantor, sedang mencari angkutan.” 


“Aku jemput sekarang. Tunggu aku di sana, Shan,” putus Bayu,  berlari di koridor menuju ke lift.

__ADS_1


...🍒🍒🍒...


Hari mulai gelap ketika mobil Bayu masuk ke gedung perkantoran tempat Shanuella bekerja. Pelataran itu sudah sepi, tak tampak kendaraan yang biasa berjajar rapi. Karyawan pun sudah tak tampak, hanya sekuriti yang berjaga di pos.


Tatapan mengedar, Bayu mencari keberadaaan Shanuella yang dimintanya menunggu. Mencari dalam pekat, lampu hanya tampak di beberapa titik. 


“Di mana dia?” Bayu melambatkan kendaraannya. “ Tadi, satpam depan bilang kalau Shan-Shan menunggu di da ....”


Kalimat Bayu terputus, perasaan lega ketika mendapati penampakan wanita tengah duduk di anak tangga menuju ke lobi. Desain bangunan yang lebih tinggi dari halaman, menciptakan tiga pijakan tangga dan sering dimanfaatkan pekerja untuk duduk menunggu jemputan dan taksi online.


Menghentikan mobil tepat di depan lobi, Bayu bergegas turun dan menghampiri Shanuella. Tak mengeluarkan sepatah kata pun, laki-laki itu tiba-tiba memeluk Shanuella yang baru saja bangkit dari duduk dan sedang membersihkan bokong.


“Shan ....” Bayu mendekap erat wanita yang membeku heran. 


“Mas, kamu ... kenapa?” 

__ADS_1


Tanya itu tak mendapat jawaban, melainkan ciuman mesra di tengah keremangan malam. Bayu tengah menumpahkan resah sekaligus menikmati rasa lega dalam waktu bersamaan.


__ADS_2