
“Untuk apa?”
Bayu menatap langit-langit kamar bercat putih terang. Setelah sekian lama, dia menemukan Blade kembali. Teringat masa lalu mereka saat masih mengawal keluarga Sunjaya. Acap kali duduk bersama, membahas hal-hal ringan. Berbagi dipan berdua, bertukar mimpi akan masa depan. Namun, suatu hal yang tak diketahuinya. Penyamaran pria itu begitu rapi, menyembunyikan identitas asli hingga tragedi mengerikan terjadi.
Dia kehilangan rekan kerja. Sekaligus sahabat yang sudah seperti saudara, sobat rasa kerabat dan mendapati kenyataan kalau temannya adalah pengkhianat.
“Aku hanya ingin tahu ... bagaimana Shan-Shan yang manja, selalu ingin dituruti itu bisa takluk padamu. Apa yang melatar belakangi pernikahan kalian, Bay?” Duduk dengan tangan melipat di dada, dagu sedikit terangkat dan terarah pada lawan bicara.
Bayu menoleh sekilas dan meringis saat hendak tersenyum, luka-lukanya memaksa agar dia terus merengut. Beberapa saat menikmati denyut, dia pun membuka suara.
“Bukan urusanmu.”
Jawaban singkat yang membuat Rarendra memasang wajah datar.
__ADS_1
“Aku hanya ingin tahu, Bay.” Pinta itu setengah memaksa.
Bayu kembali membalikkan kata-kata yang didengar dari bibir Rarendra. “Lalu, bagaimana denganmu, kenapa melakukan semua ini pada Shan-Shan? Apa alasanmu hingga lebih suka melihatnya menangis, dibandingkan tersenyum bahagia. Tentunya ada alasan di balik semua itu, ‘kan?”
Rarendra diam seribu bahasa.
“Kenapa tidak menjawab? Semua yang kamu lakukan ... benar-benar sulit dimaafkan. Wajar kalau sampai dia terluka separah itu.”
“Maaf.” Rarendra membuang pandangan ke sembarang arah. Tak perlu diingatkan, dia tahu kalau dosanya terlalu besar dan sulit dimaafkan. Lima tahun belakangan, pria itu banyak berpikir dan merenungkan. Kalau ada penyesalan dan kesempatan mengulang, apa yang dilewatinya dengan Shanuella adalah jawabannya.
Kepala menggeleng, senyuman getir muncul di bibir pria tampan tersebut. Kantuk yang sempat hadir, kini lenyap tanpa sebab. Rarendra hanya menatap, meneliti pasien di atas brankar terlihat jauh lebih bugar dibandingkan beberapa jam yang lalu.
Menelan ludah, bibirnya merapat sempurna. Terkadang, dia bingung dengan sikap Bayu. Apa yang membuat laki-laki itu begitu setia. Seperti yang saat ini sedang dijalani. Pria yang kini menjelma menjadi pengawal pribadinya itu memiliki kesempatan menjatuhkannya di hadapan Shanuella, tetapi hal itu tidak dilakukan.
__ADS_1
“Kenapa tidak mengungkapkan fakta tentangku padanya?” Tanya yang belakangan ini menggelitik tengah mencari jawaban.
“Aku punya alasan.”
Rarendra tersentak. “Kamu bisa melakukannya dan membuat dia semakin membenciku. Tapi ....” Jeda sesaat sebelum kalimat berlanjut. “Terima kasih untuk pilihanmu tak berterus terang.
Bayu menatap datar. “Bukan aku, tapi kamu sendiri yang membuat rasa benci itu ada. Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan semuanya bukan untukmu. Aku hanya tak ingin Shan-Shan terluka. Fakta kamu dan Blade adalah orang yang sama ... hanya akan membuatnya bertambah terluka. Jadi, tidak perlu berterima kasih. Aku lakukan semua ini bukan untukmu, tapi untuk Shan-Shan,” tegas pria dewasa berkulit sedikit gelap tersebut.
“Apa pun alasanmu ... terima kasih, Bay.”
Bayu menelan ludah, tatapannya mengiba. Memandang Shanuella yang terlelap di sofa dari kejauhan, dia berkata pelan. Menyuarakan isi hati yang selama ini dipendam.
“Aku sudah membantumu, sekarang giliranmu. Bisakah melepaskan kami. Aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan. Aku janji ... akan membawanya menghilang dari pandanganmu.”
__ADS_1
Rarendra menggeleng. Berbalik dan menatap ke arah Shanuella, sama seperti yang sedang dilakukan Bayu sekarang. Tiba-tiba, dia teringat satu nama yang sejak tadi mengusik tanya dalam hati. “Siapa Lana?” tanyanya santai. “Dia putri kalian?” Pria itu kembali mengarahkan pandangan pada lawan bicaranya.