
. “Apa terjadi sesuatu pada Mas Bayu?” Pertanyaan yang tak tahu ditujukan untuk siapa, Shanuella bergumam sendiri dalam keheningan. Mendadak, pikiran buruk bergelayut. Resah yang sejak tadi diabaikan tiba-tiba hadir lagi.
“Apa aku hubungi Rarendra, ya? Mas Bayu bekerja dengannya. Tentu dia tahu di mana suamiku.”
Menemui jalan buntu, Shanuella akhirnya memberanikan diri menghubungi pria yang membuatnya terguncang sepanjang siang. Rasa sungkan dihempasnya jauh-jauh. Dia seperti seorang ibu yang sedang mencari kehadiran anak hilang.
Nada sambung memercik degup, dinginnya malam membuat gugup. Shanuella mematung di bibir teras, menatap jalanan sepi dengan bibir mengatup. Tak lama, suara laki-laki menyapa ramah.
“Ya, Shan. Ada apa?”
“Pak, apa Mas Bayu sudah pulang?”
Shanuella harus berjuang keras untuk bisa bersikap biasa, perasaan campur aduk tak karuan ketika mendengar suara bariton dari ujung panggilan.
“Bayu ....”
Hening. Ada keraguan di dalam nada bicara Rarendra. Seperti keengganan tertahan, berat untuk mengisahkan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Ada apa, Pak? Apa terjadi sesuatu pada Mas Bayu?” Shanuella tak sabar, melontarkan tanya yang sama.
“Maaf, Shan. Bayu mengalami kecelakaan. Sekarang sedang dirawat ....”
“MAS!” Shanuella terkejut. Tubuh membeku, kaki bak terpaku, dan pikiran buntu. Butuh beberapa menit untuknya menyadari keadaan. Bahkan, napas pun sempat terhenti beberapa saat.
Dunia terasa runtuh, benaknya dipenuhi bayangan Bayu.
“Apa ... dia baik-baik saja?” Shanuella menitikkan air mata. Sekian tahun hidup bersama, bayangan perpisahan dan kehilangan membuat wanita itu ketakutan.
“Di mana Mas Bayu?” Shanuella berjuang untuk tetap tenang dan tak terpancing dugaan-dugaan yang belum pasti.
Rarendra diam. Kecemasan yang ditunjukkan Shanuella membuatnya muak.
“Di mana Mas Bayu? Aku ingin bertemu Mas Bayu.” Suara Shanuella melirih dan terdengar perih.
“Dia baik-baik saja, tidak perlu menangis.” Rarendra akhirnya menyerah dan memilih mengalah. “Aku akan mengirim orangku menjemputmu. Katakan alamatmu.”
__ADS_1
Shanuella menggeleng. “Aku bisa pergi sendiri. Kirimkan alamat di mana Mas Bayu dirawat? Aku mohon.”
Tangisan semakin nyata, Shanuella setengah memaksa. Dia tidak bisa tenang sebelum melihat sendiri kondisi suaminya. Pinta yang diucapkan berulang bersama buliran air mata itu pun akhirnya memorak-porandakan hati.
...🍒🍒🍒...
Rarendra melunak dan membagi informasi setelah tak sampai hati mendengar suara isak Shanuella. Akhir-akhir ini dia jadi lemah dan mudah terenyuh. Hal yang selama ini tabu, terlebih kalau sudah melibatkan wanita di dalamnya.
Hatinya telah lama beku sejak kehilangan wanita yang dicintainya. Namun, kekerasan hati yang dijaganya selama bertahun-tahun ternoda. Dia jatuh cinta lagi tanpa disadari. Parahnya, perasaan itu berlabuh pada wanita yang harusnya dibenci.
Memutuskan untuk mengizinkan Shanuella menemui Bayu, sedikit pun dia tak menyangka tindakannya itu semakin memercik cemburu. Sorot mata terkunci pada titik yang sama, dia menggeram dalam diam ketika mendapati wanita yang memenuhi hati dan pikirannya tengah menggenggam tangan Bayu.
Ya Tuhan, kenapa jadi begini?
Rarendra menatap sedih ke arah brankar. Rasa sesak membuatnya tak sanggup bernapas. Apalagi ketika mendapati Shanuella tengah meratap dan menangisi pria lain.
“Mas, bangun. Jangan seperti ini. Aku ... aku ... bagaimana aku bisa hidup tanpamu?” Shanuella duduk di sisi tempat tidur, jari-jarinya tampak menyelip di sela jemari panjang Bayu. Tatapan wanita itu tak berpindah sama sekali. Bahkan, sorot mata terus terkunci pada titik yang sama.
__ADS_1