
“Mas!”
Shanuella kembali mengentakkan kaki ke lantai sambil mendekap handuk yang melilit di dada. Mendengkus kesal, pandangan menikam terarah pada Bayu yang tengah duduk santai tak terpengaruh.
“Jangan marah-marah, Nyonya. Nanti benar-benar melorot. Aku rugi besar.” Bayu terkikik pelan. Ekspresi istrinya sangat menggemaskan.
“Mas!” Seruan singkat kembali terdengar. Shanuella semakin kesal saat suaminya terus menggoda tak berkesudahan. Apalagi ketika mendapati kedua sudut bibir pria itu terus tertarik ke atas, membentuk seringai memuakan.
“Jangan marah-marah, Shan. Sudah, ganti di kamar mandi. Aku tidak akan mengalah. Lana belum pulas benar, meninggalkannya sekarang hanya akan membuat masalah,” jelas Bayu sembari memamerkan deretan gigi putih yang berbaris rapi.
Paras jelita kembali merengut. Pipi mulusnya menggembung cemberut. Shanuella terpaksa menurut, walau ulah Bayu memantik kalut. Memutar arah, wanita itu melangkah ragu menuju ke lemari pakaian. Disambarnya setelan piama merah muda dengan motif kartun, kemudian menyampir di bahu dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Meski berstatus suami istri, Shanuella dan Bayu hidup seperti teman baik. Sesekali sentuhan hingga ciuman bibir terjadi, tetapi rasa yang mengikat mereka berdua belum sedalam pasangan lain. Lima tahun berlalu, hubungan itu tak naik kelas. Rasa pun tak tergali sebagaimana mestinya. Satu hal yang pasti, ada cinta terpendam dan bertepuk sebelah tangan terselip di dalam. Sang suami sampai detik ini masih berharap suatu saat cintanya berbalas.
Dengkusan terdengar berulang kali, ujung bibir bergetar kesal. “Dia sengaja. Senyumannya terlihat memuakkan,” keluh Shanuella, berulang kali. Hingga keluar dari kamar mandi, wanita itu kembali dibuat terbelalak. Bayu tak kunjung keluar. Sebaliknya, pria tersebut sudah merebah di sisi kanan Lana, memejamkan mata dengan rapat.
“Mas, tidur di sini?”
Tak bermaksud mencari tahu, tetapi kedua kaki menuntunnya berdiri di samping Bayu yang tengah terlelap. Berjalan mendekat, kekesalan Shanuella sirna sesaat mendapati selapis lelah tertera di wajah pria berparas manis yang berbaring telentang dengan kedua tangan melipat di dada. Iba hadir tanpa diminta, sesuatu dalam diri menggerakkan jemarinya mengukir di pipi sang suami. Sontak, pria dengan napas teratur itu membuka mata dan mencekal pergelangan tangannya.
Tak sanggup berkata-kata, Shanuella yang tersentak hanya memandang lekat dan diam. Beberapa saat kemudian, dia menggeleng. Menghela napas hingga detak jantung kembali teratur.
“Tidurlah. Aku tahu kamu lelah.” Bayu menebar senyuman. “Aku istirahat sebentar. Nanti aku keluar setelah memastikan Lana sudah tertidur pulas,’ lanjutnya lagi, melepas cekalan tangannya pada pergelangan istrinya.
__ADS_1
Shanuella termenung sesaat, kemudian buru-buru mengitari tempat tidur dan berbaring di sisi kosong lainnya. Baru saja menempelkan punggung di kasur, kembali Bayu bersuara.
“Shan, apa kamu keberatan kalau aku tetap bekerja di sana?”
“Hah!” Shanuella menoleh. Dipandanginya Bayu yang sedang berbaring telentang dengan kedua tangan bertekuk menyanggah kepala. Pandangan mengarah ke langit-langit kamar, sesekali meliriknya sembari menebar seringai tipis nan manis.
“Apa tidak masalah untukmu kalau aku tetap bekerja dengannya?” ulang Bayu, mengganti kalimat tanya yang bermakna sama.
Shanuella menelan ludah, ikut mengamati plafon kamar yang dihiasi lampu bulat kecil memancar kemilau menguning di bagian tengahnya.
“Tidak masalah untukku, Mas. Tapi, kalau Mas Bayu merasa tak nyaman, aku juga tidak masalah kalau ….”
__ADS_1