
“Malam itu dia tidak mabuk. Shan-Shan hanya kehilangan kontrol atas mobilnya. Memang salah, dia mengendarai di saat keadaannya belum layak memegang kemudi. Kenakalan remaja pada umumnya.” Bayu menjelaskan tanpa diminta.
“Apa pun itu, dia tetap salah. Yang ditabrak itu manusia bernyawa, bukan binatang. Andai binatang pun harusnya ada empati. Ini nyawa, tidak semudah itu cuci tangan. Andai pengadilan dunia tidak berlaku, pengadilan Tuhan akan bicara.”
Rarendra mengetuk meja kaca. Duduk sedikit miring, tatapannya menyorot pada Bayu di seberang.
“Dia juga tidak pernah hidup tenang. Percayalah. Rasa bersalah itu masih ada. Karena dia tahu, kekasihmu meninggal di tangannya.” Bayu tersenyum getir. “Bahkan, akan bertambah saat tahu ternyata bukan satu nyawa, tapi tiga.”
Rarendra menatap diam.
“Aku tahu Shan-Shan.” Bayu berbisik pelan dan berdiri.
Mengenal Shanuella sejak masih belia, dia mengetahui bagaimana nakalnya remaja tanggung yang sedang mencari jati diri itu, Sayangnya, ketika sang atasan mengutus salah satu darinya dan beberapa rekan pengawal untuk menjaga sang putri kesayangan, Rarendra dalam identitas Blade yang terpilih. Cemburu? Sudah pasti. Iri hati? Apalagi. Dia yang diam-diam menyimpan rasa selama bertahun-tahun seperti tertampar ketika mengetahui kedekatan putri majikan dan pengawal pribadi tersebut.
Rarendra mengamati amplop yang bahkan tak mau disentuh Bayu. Masih tergeletak di tengah meja, menunggu dijamah.
__ADS_1
“Kalau memang tidak ada yang dibahas, aku permisi dulu, Bos. Aku rasa semua sudah clear, tidak ada salah paham atau perdebatan.”
Kepala setengah tertunduk. Rarendra mengangkat pandangannya,
“Pertimbangkanlah. Ini demi kebaikanmu dan keluargamu. Karena kamu teman baikku, bukan orang lain. Karena aku tidak bisa melihatnya menderita di depanku. Andai bisa memilih, aku mungkin memilih tak bertemu seumur hidup, jadi aku bisa memendam perasaanku dan membawanya sampai mati. Tapi, Tuhan menakdirkan jalan kami berbeda. Cinta itu tidak harus memiliki dan memaksa, cinta itu tidak untuk menyakiti. Sayangnya, aku terjerembap di dalamnya saat rasaku masih membaur dengan dendam. Aku baru mengenali perasaan itu saat separuh dendamku terbalaskan. Saat aku tidak sanggup menembakkan peluru padanya, saat itu aku sadar.”
Deg.
Bayu yang bermaksud keluar, tersentak.
“Aku berusaha mengingkarinya selama lima tahun ini. Pertemuan kami akhir-akhir ini semakin menunjukkan betapa cinta itu nyata. Apa yang aku ingkari selama ini salah. Sayangnya dia sudah menikah, kalau tidak … mungkin aku akan berpikir untuk mengejarnya lagi.”
...🍒🍒🍒...
Malam semakin larut, pekat makin memeluk. Seorang pria tengah menatap rembulan separuh di langit. Tak tampak bintang menemani, tertutup awan hitam. Sebatang rokok menyelip di sela jari, menemani melewati pergantian hari di teras rumah. Asap mengepul di udara di sela helaan napas berat. Bayu tidak bisa tidur, kata-kata Rarendra menghantuinya. Dia ada di titik menyesal dan ingin mundur.
__ADS_1
“Kenapa belum tidur? Ini sudah tengah malam?” Suara Mbok Sari tiba-tiba terdengar memecah keheningan.
Bayu tersentak, menoleh ke arah pintu dan mendapati wanita tua tengah merapatkan piama tidur.
“Mbok, kenapa ke sini. Masuk ke dalam. Di sini dingin.”
“Mbok yang harusnya bertanya padamu. Ada apa? Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Apa terjadi sesuatu?”
Pria itu mematikan rokok di tangannya yang tersisa setengah dan melemparnya ke dalam asbak bersama puntung yang lain.
“Mbok melihat semuanya walau memilih diam. Apa yang terjadi padamu dan Shan-Shan?”
“Tidak ada, Mbok.” Bayu menggeser duduk dan membagi kursi panjang itu Mbok Sari.
“Kalian bertengkar?” Wanita tua itu berjalan mendekat. Tampak menggigil saat tubuh rentanya terkena sapuan angin malam yang dingin menusuk tulang.
__ADS_1
“Tidak.” Singkat, jawaban itu terdengar datar.
“Lalu?”