
Setelah semua terungkap. perasaan Bayu jauh lebih lega. Kekhawatiran akan sosok Rarendra yang mungkin saja akan mengusik anak dan istrinya perlahan menguap. Majikan sekaligus mantan rekan kerjanya itu menepati janji. Pengakuannya mengenai status Shanuella dan Lana memukul mundur pria tersebut.
Sejak pernyataan ikhlas Rarendra di kamar perawatan, semua kembali normal. Bayu bisa bekerja seperti biasa tanpa ada pembahasan tentang masa lalu. Demikian juga dengan Shanuella yang memulai proyeknya tanpa memikirkan hal yang sama. Dia berjuang untuk profesional dan melepaskan semua cerita silam yang kelam.
Sesekali, kenangan itu menggulung dan menenggelamkan. Sesaat Shanuella tersesat oleh rasa yang tak pantas. Melanjutkan mimpinya dan Blade yang hanya sebuah ilusi tak bertepi. Kebahagiaan semu dan tak akan pernah menjadi nyata, dulu, kini, ataupun nanti.
Tak dibiarkan rasa itu berlama-lama menghuni hati. Shanuella sadar saat ini dia tengah menapaki masa depan bersama keluarga kecilnya. Tak mau menghancurkan apa yang telah terangkai, wanita itu hanya ingin melewati hari dalam damai.
“Shan, hari ini aku pulang terlambat.”
Bayu muncul dari balik pintu kamar yang ditempati istri dan putrinya. Pria itu terlihat rapi dengan setelan kemeja hitam dan celana denim senada. Seutas senyuman hadir, membalas tatapan datar wanita cantik dari pantulan cermin.
Pemilik kamar sedang duduk di depan meja rias, menata rambut panjang pekatnya agar terurai rapi.
“Mas mau ke mana?” Shanuella berbalik. Ditatapnya lekat-lekat pria yang selama lima tahun terakhir setia menemani.
__ADS_1
“Pak Bos masih di luar kota, mengurus bisnisnya. Aku diminta menemani dan mengantar sekretarisnya bertemu klien di Bogor.” Bayu menjelaskan dengan rinci.
“Oh.” Shanuella mengangguk. Memutar tubuhnya menghadap ke cermin, tetapi dia buru-buru berbalik ke arah Bayu kembali. “Sekretarisnya perempuan atau laki-laki?” tanyanya, memastikan.
Bayu tersenyum. Pertanyaan Shanuella memercik degup di dada. Ada nada cemburu yang tertangkap olehnya. Tentu dia bahagia. Setelah lima tahun menikah, wanita itu menunjukkan sisi pedulinya.
Mendorong pintu kamar agar sedikit terbuka, Bayu menuntun tubuhnya masuk ke dalam. Mengarahkan langkah menuju tempat sang istri bertakhta setiap selesai mandi.
“Sekretaris Pak Bos itu selalu laki-laki. Bahkan, para pekerja yang selalu berhubungan dengannya pun laki-laki. Dia sepertinya anti rok mini.” Mencoba bercanda sembari menyambar sisir dari tangan Shanuella.
“Ya.”
Jawaban yang membuat Shanuella terdiam mengulum senyuman. Tertunduk, wanita itu menikmati helaian rambutnya disisir dengan telaten.
“Tadi, aku sudah berpesan pada Mbok Sari agar menjemput Lana. Jadi, kamu jangan khawatir, Shan.”
__ADS_1
“Ya, Mas.”
“Aku harus pergi sekarang.” Meletakkan sisir merah muda di atas meja rias setelah memastikan helaian rambut Shanuella tersisir rapi, Bayu masih sempat melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya itu. “Tidak perlu menunggu, aku bawa kunci, Shan.”
Shanuella menatap Bayu yang sudah berbalik badan hendak keluar dari kamar. Tepat saat pria itu akan menutup pintu, dia teringat sesuatu.
“Mas, tunggu.” Bergegas menyusul, Shanuella tiba-tiba menyambar tangan Bayu tanpa diminta. Diciumnya punggung tangan pria itu dan tersenyum. “Hati-hati di jalan, Mas.”
Bayu tercengang. Kejutan yang diberikan Shanuella benar-benar tak pernah diduga sebelumnya. Sesaat, dia membeku di tempat, berbinar memandang istri yang telah meluluhlantakkan dunianya hanya dengan hal sederhana.
“Mas, kenapa?” Shanuella melambaikan tangannya di depan wajah bingung suaminya. Butuh beberapa detik untuk pria dewasa itu bereaksi.
“Ya ... ya, Shan.” Terbata-bata, Bayu masih belum menguasai keadaan. Semua terlalu mendadak dan dia tak siap akan kejutan yang diberikan Shanuella padanya.
Setelah beberapa saat, bibir Bayu mengukir senyuman dan mendekat. Kecupan diberikan di kening Shanuella, lembut dan penuh kehangatan.
__ADS_1
...🍒🍒🍒...