
“Shan, bangun!”
Suara serak Bayu terdengar lebih kencang. Dia terbangun saat istrinya digendong pergi dan terlepas dari genggaman. Rasa sakit yang mendera raganya tak lagi dihiraukan saat melihat Rarendra bersikap seenaknya. Semua yang dilakukan pria itu terekam jelas. Bahkan, dia masih mengingat bagaimana Shanuella yang tertidur pulas dicium keningnya oleh pria lain.
“Shan-Shan lelah, biarkan dia tidur.” Rarendra berkomentar. Berdiri menantang, melirik sekilas ke arah pasien di atas pembaringan.
“Kurang ajar!” Bayu mengumpat. Tak lagi menjaga sopannya, dia tak bisa menoleransi ketika istrinya disentuh pria lain, meskipun orang itu atasan sendiri.
“Dia lelah mengurusmu. Biarkan dia istirahat sejenak.” Sindiran halus sengaja dilontarkan. Kekesalan bukan hanya milik Bayu, Rarendra pun mengalami hal serupa. Berkesempatan mengecup Shanuella setelah sekian lama, semuanya berantakan hanya karena protes sang pengawal pribadi.
“Dia istriku.” Bayu mengungkapkan secara terang-terangan. Senyum meringis menahan sakit hadir di wajah dengan luka dan lebam. Di titik ini, dia merasa percuma menutupi banyak hal dari Rarendra. Pria itu akan mencari tahu dan mungkin akan mengerahkan segala upaya agar semua menjadi kian terang benderang.
Tak ada rona terkejut. Pernyataan Bayu ditanggapi biasa walau hati kecil Rarendra tersentak kecil. Menatap wanita yang tengah berbaring di sofa, kedua sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Seperti terseret ke masa silam, di mana cinta itu terasa nyata dalam genggaman.
__ADS_1
“Sejak kapan?” Pertanyaan ditujukan pada pasien di atas brankar, tetapi sorot mata terkunci pada sosok cantik di atas sofa bed. Andai dirinya terbuat dari kaca, orang-orang bisa melihat sepotong hati yang sedang merana.
Senyum yang terukir di wajah tampan Rarendra tampak tak tulus. Kenyataannya, dia merasakan kegetiran yang tak sanggup dikumandangkan pada dunia.
“Apa urusanmu?” Bayu tak menjawab. Sebaliknya, dia kembali melontarkan tanya pada majikannya itu.
Rarendra bungkam. Tak ada keberanian untuk bertanya lebih. Statusnya kini memang bukan siapa-siapa. Akan tetapi, hati kecil masih berat menerima kenyataan.
“Tidak bisakah sedikit berbaik hati, Bay?”
Bayu tersenyum sinis, kemudian meringis kesakitan. “Kenapa sekarang begitu menyedihkan?” Bayu tak gentar. Pergumulannya tadi siang adalah puncak di mana tembok kesungkanan dan rasa hormat itu runtuh. Rarendra sudah terang-terangan menabuh genderang permusuhan.
“Ada banyak hal yang tak kuketahui selama ini. Kita masih berteman baik, ‘kan?” Rarendra berjalan mendekat, menarik kursi yang tadinya diisi Shanuella. Mencoba berdamai dengan Bayu yang dipukuli sampai babak belur tadi siang, dia mengorek berbagai informasi yang selama ini disembunyikan rapat-rapat darinya.
__ADS_1
“Sejak kapan kita berteman baik, Bos, Aku berteman dengan Blade, si brengsek yang tidak tahu diri itu. Bukan dengan dirimu.” Kalimat-kalimat itu dikumandangkan dengan garang. Tak ada jejak kesakitan di tiap penekanan kata.
Rarendra tersenyum kecut.
“Aku penasaran … bagaimana dia bisa jatuh ke tanganmu. Jelas dia mencintaiku.” Rarendra tiba-tiba bersikap seperti kawan lama. Amarah yang menerjangnya tadi siang entah lenyap ke mana.
“Jelas dia istriku.” Bayu menjawab singkat.
Tak terdengar bantahan, Rarendra mengangguk dan merapatkan bibir.
“Jangan sakiti dia ….” Bayu melunak. Bersikap biasa, seakan yang dibahas adalah wanita asing yang tak berhubungan dengan mereka.
“Aku ….” Rarendra tak sanggup menjelaskan. Tangannya meremas, pikiran pun menerawang ke mana-mana. “Tolong ceritakan padaku, bagaimana kamu bisa bersamanya selama ini? Aku ingin tahu banyak hal tentang Shan-Shan.”
__ADS_1
“Untuk apa?”