My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 56


__ADS_3

...Jika berkenan, mohon vote dan gift diberikan pada karya terbaruku di Noveltoon yang berjudul...


...Seuntai Impian Seruni....


...Silakan mampir ya....



...✔️✔️✔️...


“Maaf, aku terlambat.”  Shanuella sudah berdiri di depan Rarendra sembari mendekap tas tangan yang sebelumnya tergantung di bahu.


“It’s okay.” Rarendra membukakan pintu dan mempersilakan penumpang cantik itu duduk di sebelahnya. Sengaja membawa mobil sendiri pagi itu, tanpa pengawal atau sopir pribadi.


“Terima kasih, Pak.” Shanuella tersenyum. Gugup masih melanda, perasaannya campur aduk tak karuan karena kebersamaannya dengan Rarendra.


Sepanjang perjalanan lebih banyak didominasi dengan keheningan. Walau berjuang untuk menganggap Rarendra dan Blade adalah orang berbeda, canggung itu masih merajalela. Hanya bersuara saat ditanya, rasanya waktu terasa lama berlalu. 


“Shan, aku boleh panggil begitu, kan?” tanya Rarendra di sela fokusnya pada kemudi.

__ADS_1


“Saya, Pak. Ya.”


Rarendra tersenyum. “Jangan panggil ‘pak’, terasa tua sekali. Endra. E ... n ... d ... r ... a.” Pria itu berjuang untuk mencairkan suasana beku di dalam perjalanan.


“Baik, Pak.”


“Pak lagi.” Rarendra terkekeh. “Aku dengar ... kamu putri Pak Sunjaya.”


“Ya, Pak.”


“Aku minta maaf untuk masa lalu. Ini bisnis, tidak bisa disamakan dengan masalah pribadi. Perusahaan keluargamu mengalami masalah besar dan Pak Sunjaya telah sepakat ....”


“Baguslah kalau kamu paham.”


Shanuella menatap lurus ke depan. Dia tak memiliki keberanian untuk menoleh ke arah laki-laki tampan yang begitu serupa dengan cinta pertamanya.


“Sudah lama bekerja di Halim Group?”


“Em ... lumayan. Sejak melahir ....” Shanuella tersadar. Dia tak mungkin membahas masalah pribadinya pada orang asing, apalagi baru dikenal. “Sekitar tiga tahun mungkin, Pak.”

__ADS_1


“Oh.” Rarendra mengangguk. “Tinggal di mana?”


Shanuella tampak keberatan. Laki-laki di sebelahnya seperti sedang menginterogasi. Dipandanginya sekilas, kemudian buru-buru membuang pandangan.


“Tidak mau menjawab juga tidak apa-apa.” Rarendra menanggapi dengan santai. Setelah sekian lama memilih abai, saat ini dia tergelitik untuk mencari tahu banyak hal. 


Tak sengaja melihat cincin yang melingkar di jari manis Shanuella, perasaannya kacau. Selama ini dia membuang jauh-jauh penasaran dan keingintahuannya. Bahkan, memutuskan tak mencari tahu serta terkesan tutup buku. Akan tetapi, saat ini rasa itu menggebu-gebu.


“Shan, sudah menikah?” Pandangan terus terarah pada jari manis yang telah berhias cincin, sejumput rasa tak rela hadir di dalam hati.


“Aaaaah!” jerit Shanuella tiba-tiba saat pengendara tiba-tiba keluar dari salah satu gang dan muncul di depan mobil yang ditumpanginya. Bayangan gelap dan mimpi buruknya mendadak jadi nyata.


Rarendra terkejut. Berjuang mengendalikan kereta besi itu sesigap mungkin. Suara decit ban mobil bergesek dengan aspal jalan terdengar memekak telinga dan memacu adrenalin. Terlalu fokus pada jari manis Shanuella hingga tak menyadari pengendara motor yang keluar dari sebuah gang. Sebelah tangan menahan penumpang cantik di sebelahnya agar tak tersungkur ke depan, tangan yang lain mencengkeram kemudi. Dia melakukan pengereman mendadak.


“Shan, kamu baik-baik saja?” Rarendra melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya sesaat mobil berhenti di bahu jalan. Digenggamnya tangan Shanuella yang tampak panik. 


“A ... apa wanita itu meninggal? Ke ... kenapa di ... dia tiba-tiba muncul di depan mobilku?”


Rarendra tersentak. “Wanita mana?”

__ADS_1


“I ... itu yang mengenakan gaun putih.” Tatapan Shanuella kosong, wajahnya memucat.


__ADS_2