
Juan menjauh dari Dion, dia sebenernya tahu Dion hanya bercanda namun memang dia ingin berhenti membahas sodom daripada dia harus meladeni Dion yang tidak jelas nanti arah bicaranya. Juan sebenarnya ingin pergi ke dapur pegawai untuk menyeduh kopi agar matanya bisa kuat menghadapi tumpukan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
Cewek yang tadinya mengaduk kopi yang baru uang buat langsung terperanjat menoleh ke arah langkah kaki yang masuk ke dapur pegawai, "Eh, Juan. Mbb... gimana udah kamu makan belum cookies yang aku buat?"
"Ohh cookies ya, mm... itu aku belum sempat nanti aku coba ya." jawab Juan dengan kikuk karena dia tida tahu siapa cewek itu dia hanya tahu kalau cewek itu sama juga pegawai disini tapi tidak tahu divisi apa dan namanya siapa Juan tidak tahu.
"Oiya kenalin, aku Jia. Sebenarnya mau kenalan sama kamu beberapa hari yang lalu tapi nggak pernah ketemu. Kamunya sibuk sih, hehe." dengan tersenyum tipis diwajahnya membuat suasana tidak terasa canggung lagi.
Juang berjalan kearahnya karena tempat membuat kopi memang disitu mau tidak mau ya dia harus berjalan kearahnya dan membuat kopinya. Juan menatap Jia dengan tatapan senang bisa mendapatkan teman yang asik diajak ngobrol. Iya si beberapa hari ini dia selalu sibuk tidak pernah ada di mejanya dia selalu disuruh Lana menemani dan juga mengerjakan pekerjaannya pun selalu ia sempatkan saat menemani Lana jadinya ia jarang dimejanya.
"Si Dion pasti udah dapat banyak cewek untuk digodain buktinya dia dapat banyak hadiah juga." pikir Juan namun ia batin saja ya kali dia ngomong ceplas-ceplos didepan Jia entar disangkanya apa gitu sama Jia.
Juan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, "Hei Jia salam kenal juga ya. Oh iya divisi apa?"
Jia menerima uluran tangan Juan dengan senang hati, "Aku divisi marketing."
"Wihh keren..." celetuk Juan sambil menuangkan air panas ke kopinya dan segera mengaduk kopinya.
Jia menggelengkan kepalanya, "Ihh nggak, kamu juga keren. Keren banget malah."
Juan tidak percaya Jia mengatakan dia keren banget, "Ha!"
"Jangan gitu ih aku jadi ngerasa ---" tambah Juan yang akhirnya terpotong.
"Jadi buaya!" pekik seseorang dari belakang mereka.
Lana ya ternyata Lana sedari tadi telpon Juan tapi nyatanya telponnya tida diangkat. Lana akhirnya harus turun sendiri mencari Juan dimejanya namun ternyata orang yang ia cari tidak ada. Sedangkan hp Juan ada di meja namun pemiliknya hilang entah pergi kemana. Dia menanyai Dion yang meja kerjanya ada disampingnya berkat Dion dia akhirnya menemukan Juan yang sedang bercanda ria berduaan dengan pegawai perempuan.
"Eh nona!" pekik Jia dan Juan bersamaan saat melihat Lana yang tiba-tiba ada di dapur pegawai.
"Teruskan saja, tidak apa-apa. Apa aku mengganggu?" ucap Lana dengan sinis.
"OMG! tentu saja Lana kau mengganggu, ma'af yaa." tambah Lana sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Juan merasa Lana salah paham dengan keadaan yang dilihatnya langsung berdiri dari kursinya, "Lana! eh maksudku nona. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Emang aku membayangkan apa?" tanya Lana dengan entengnya.
Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Iya intinya tidak seperti itu. Dan aku juga bukan buaya, enak saja dibilang buaya. Aku tadi ---."
"Sudah aku tidak butuh penjelasan apapun, aku juga tidak peduli dengan itu. Yang harus kau ingat adalah pegang hpmu jangan sampai panggilan penting kau abaikan. Itu saja yang kau ingat. Mau kau jadi buaya terserah." potong Lana dengan tegas.
Juan akhirnya tersadar dan mencoba mencari hpnya di kantong sakunya namun, nihil tidak ada. Dia ingat ternyata hpnya ada diatas meja kerjanya. Dia langsung menepuk jidatnya.
"Nona! aku benar-benar lupa." ucap Juan dengan rasa bersalah.
"Baiklah, aku maafkan." Lana menatap Juan dengan tatapan yang tidak tega juga terus memarahinya perkara hp yang ia tinggal di meja dan tidak mengangkat telpon darinya.
"Lalu apakah ada yang ---." Juan belum menyelesaikan perkataannya.
"Tidak! lanjutkan saja mmm... dengannya. Nanti kalau ada lagi aku akan memanggilmu. Ingat! angkat dengan cepat!" potong Lana sekali lagi.
"Ha! saya hanya berbincang sambil membuat kopi, nona." jelas Juan namun Lana langsung pergi tanpa mendengarkannya.
Lana yang berjalan keluar sambil melihat dengan ekor matanya ke arah Jia, "Dih! bukannya dia juga gatel kepada pegawai lain? aku pernah melihatnya sama persis seperti apa yang sedang ia lakukan kepada Juan tadi." batin Lana lalu mengarahkan matanya lurus kedepan agar tidak terlalu memikirkan wanita itu.
"Ma'af ya! kamu dimarahi karena aku." Jia merasa bersalah.
Juan menggeleng, "Bukan! kamu nggak salah, aku yang teledor harusnya hp selalu ada disaku ku."
"Tapi kan tadi nona bilang ---." Jia menunjuk ke arah Lana yang sedang berjalan keluar.
"Lupakan! jangan terlalu diambil hati, nona hanya marah kepadaku mungkin karena ada kamu jadi dia ikutkan kamu jadi bahan marahnya tapi, nyatanya kamu nggak salah kok. Tenang aja!" jelas Juan.
"Kamu pengertian banget ya! dewasa pula pemikirannya." ucap Jia dengan berani mengutarakan isi kepalanya.
Juan menggeleng juga tersipu, "Ah nggak, kamu berlebihan."
__ADS_1
"Iya aku serius." ucap Jia dengan serius.
"Masa' sih. Jadi malu." Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia salting dibuatnya.
"Idaman kamu mah." celetuk Jia sambil menyeruput kopinya.
"Idaman?" tanya Juan yang tidak mengerti idaman apa yang dimaksud.
"Iya idaman jadiin suami." Jia dengan pd tanpa malu mengatakan itu depan Juan.
"Ha!" pekik Juan.
"Hahaha." balasan tawa renyah dari Jia yang merasa Juan itu lucu.
"Buktinya kamu banyak yang mengangumi jadi, nggak heran sih. Tapi kalau tahu kamu punya sikap dan sifat kayak gitu pasti banyak deh yang suka. Termasuk aku juga." tambah Jia agar Juan memahami perkataannya.
"Ha! eh udah jangan dibahas ih." ucap Juan yang bisa-bisa salting.
"Iya-iya nanti malu-malu kucing kamu, hahaha. Kamu suka makanan atau kue apa gitu ada?" tanya Jia tanpa penuh keraguan.
Juan menyeruput kopinya, "Kenapa emangnya? mau rekomendasi menu di kantin kantor ya?"
"Bukanlah." jawab Jia dengan entengnya.
Juan menaikkan salah satu alisnya, "La terus?"
"Ih nggak peka." Jia memanyunkan bibirnya dia berekspektasi bahwa Juan paham eh ternyata dia tidak paham.
"Lho kok nggak peka sih, aku kan nanya?" Juan benar-benar tidak paham maksud Jia.
Jia menggelengkan kepalanya, "Ih kurangnya kamu ternyata nggak peka tapi nggak apa-apa sih, lucu kok. Hehehe." sambil mengedipkan sebelah matanya.
Juan mengernyitkan dahinya, "Ha! aku nggak paham."
__ADS_1
Jia hanya tersenyum kearah Juan, "Udah lupakan. Aku nanya gitu karena aku mau masakin dan buatin kue yang kamu suka."