My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 23


__ADS_3

Lima tahun berlalu.


“Buka mulutnya, Nya.” Bayu bertambah matang. Di usia menuju kepala empat, pria itu masih segagah dulu. Ketampanan laki-laki dewasa terlihat dari bahasa tubuh dan sikapnya.


Ruang makan di rumah kontrakan sederhana itu memang selalu ramai setiap pagi. Pusat keceriaan adalah seorang gadis kecil berusia empat tahun yang selalu berceloteh tanpa lelah. Cara bicaranya yang khas dengan cadel menggemaskan membuat tawa semua orang pecah


“Papa, Yanya nyang.” Balita bernama Kelana Sunshine atau yang biasa dipanggil Lana itu mengusap perut dengan telapak tangan mungilnya. “Enyang, Papa,” tegasnya lagi.


Dari arah dapur, Mbok Sari muncul dengan kotak bekal yang sudah diisi roti tawar dengan olesan mentega dan gula pasir. Diletakkan di atas meja, menemani nasi goreng telur yang menjadi sarapan keluarga kecil mereka.


“Habiskan, Nya. Nanti Mama marah. Mau sampai Mama marah?” ancam Bayu dengan sorot mata menikam tajam kemudian tergelak saat menyadari Lana tak takut padanya.

__ADS_1


Wanita tua dengan uban mengepul itu pun ikut tertawa. Diusapnya pucuk kepala sang cucu yang selalu menjadi pusat kebahagiaan di rumah sederhana mereka.


“Habiskan, Nya. Nanti Mama keluar dari kamar dan ....” Kalimat Mbok Sari tak terselesaikan, dari arah ruang tengah terdengar ketukan sepatu hak yang membuat senyap area ruang makan dalam sekejap. Terdengar teratur dan mengintimidasi.


“Mama, Nya. Ayo habiskan. Nanti ....”


“Masih belum habis, Nya?” Shanuella muncul dengan tanya tanpa tawa. Wanita itu terlihat cantik dengan kemeja kotak dan celana hitam. Tas ransel menggantung di bahu kiri, sebuah map tampak pasrah di dalam genggaman.


Lana yang cadel dan tak bisa memanggil namanya dengan sempurna itu akhirnya membuat semua orang sepakat menyapa dengan cara yang sama.


“Yanya, akan Ma,” ucap Lana, buru-buru membuka mulut dengan lebar. Matanya sampai melotot memancing tawa Bayu dan Mbok Sri.

__ADS_1


“Habiskan, Nya. Tidak boleh buang makanan. Itu dibeli dengan uang. Uang itu sulit dicari.” Shanuella menegaskan. Menarik kursi dan menghempaskan bokongnya di sebelah Lana, dia bergabung untuk menyantap sarapan sebelum ke kantor.


Lana tidak menanggapi. Lebih tepatnya gadis dengan seragam biru yang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak itu tak paham ucapan mamanya.


“Mbok, nanti jemput Lana jam sepuluh, ya.” Shanuella berpesan. Mengeluarkan dompet hitam lusuh dari dalam tasnya, kemudian menarik dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam sana. “Mbok, ini untuk bayar SPP Lana, sisanya buat pegangan Mbok. Hari ini aku pulang malam, titip Lana.” Pandangan terarah pada Bayu. Pria itu juga tengah memandang ke arahnya tanpa suara.


“Pulang jam berapa? Aku jemput?” Bayu bersuara. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Hidup bersama di bawah satu atap, pengawal pribadi mendiang Hartanto Sunjaya itu menjelma menjadi kepala keluarga.


“Aku pulang sendiri saja, Mas.”


Panggilan itu kini melekat pada Bayu. Shanuella mulai belajar menerima keadaan meski hati kecil belum bisa ikhlas sepenuhnya. Banyak hal yang sampai sekarang menggantung dan butuh jawaban. Kepergian Blade dan kematian sang daddy yang masih menjadi misteri.

__ADS_1


Kesedihan itu masih terlihat dari mata bening yang acap kali berair, berjejak basah di dalam jiwa. Shanuella masih bisa mengingat jelas hari-hari di mana kepedihan memorak-porandakan hati, menguji kekuatan diri. Dia dituntut untuk tegar, tidak menangis dan tetap melanjutkan mimpinya.


__ADS_2