
Pak Sam dan bodyguard lainnya langsung kaget melihat scene drama romantis didepan mereka. Mereka semua hanya mematung terdiam melihat Juan dan Lana saling berpelukan.
Lana yang tersadar langsung menginjak kaki Juan dengan heelsnya.
"Aww..." rintih Juan yang kakinya di injak dengan kasar oleh Lana. Pelukan itu pun berakhir.
"Tadi saya khawatir pintu tidak segera terbuka jadi, Juan menghibur saya supaya tidak khawatir. Jangan salah paham!" jelas Lana yang masih deg-degan karena khawatir pak Sam dan lainnya mengadukan atau membuat gosip tentangnya dan Juan.
Juan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Lana. "Untung saja kejadian ciuman tadi tidak sampai mereka lihat. Kalau mereka lihat bisa mati disini saya." batin Juan sambil menepuk jidatnya dengan pelan.
"Sekarang kita pulang kerumah." perintah Lana dengan tegas.
Pak Sam dan bodyguard lainnya pun mengikuti Lana dari belakang. Tak lupa Juan juga ada bersama mereka.
Lana dan seluruh bodyguardnya berjalan menuju mobil yang akan dikendarainya menuju ke rumahnya.
Kring...kring..kring...
Lana mengangkat telpon dulu sambil menunggu mobilnya datang menjemputnya.
"Bagaimana? sudah menuntaskan adegan ranjang dengan pacarmu? kau harus berterima kasih dong sama aku." ucap Justin dengan pd nya tanpa merasa bersalah apa yang ia lakukan terhadap Lana.
"Yaa! kau akan ku cekik jika berada di hadapanku sekarang. Pacar mana ha? pacar pala kau botak." teriak Lana geram dengan Justin.
"Ha! bukannya Juan pacarmu? jangan kau tutupi lah, kau bisa jujur denganku santai saja."
"Pala kau pecah ha! aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Dia benar-benar bodyguardku, Justin sial*n." umpat Lana yang masih tak terbendung amarahnya.
"Lah yang benar, aku kira dia itu seseorang yang istimewa sampai kau bawa meeting bersama. Sebelum-sebelumnya kamu tidak pernah mengajak bodyguardmu entah itu pak Sam atau alm. pak Bram sekalipun?" Justin terkaget mendengar penjelasan Lana.
"Ceritanya panjang, jangan kau ulangi lagi. Awas saja jika ada berita tentangku dan Juan. Kau orang pertama yang akan ku ambil hidup-hidup jantungmu." ancam Lana.
__ADS_1
"Ya! kau ini terlalu menyeramkan. Aku jamin tidak ada tenanglah. Kau menakutiku saat kau marah seperti ini." Justin mencoba menenangkan Lana yang masih kesal dengannya.
Sebenarnya Lana tidak terlalu marah dengan Justin tapi karena Justin, dia dan Juan harus satu kamar dan terjadi beberapa kejadian yang membuatnya salah tingkah juga jantungnya tidak bisa terkontrol. Dekat dengan Juan membuatnya panas dingin, ia takut jika Juan tahu dia akan merasa lebih percaya diri dan seenaknya, "Oke Lana kamu hanya terpojok jadi wajar kamu memerah dan salah tingkah juga jantungmu tak terkontrol itu hal wajar karena belum terbiasa dengannya." Lana menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi bersama pak Sam dan bodyguard lain dia tidak pernah seperti ini." keluh Lana pada dirinya sendiri.
"Itu hanya kebetulan... kebetulan..." tambah Lana yang masih mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Beberapa saat setelah itu, Lana menutup teleponnya dan masuk ke mobil yang telah disiapkan dari tadi untuknya masuk. Namun, Lana masih fokus dengan telponnya bersama Justin hingga mobil dan bodyguard lainnya menunggu secara sabar.
"Apa kami perlu memberi pelajaran pada Justin nona?" tanya pak Sam menatap Lana duduk terdiam.
"Ha! jangan, tidak usah maksudku dia hanya iseng saja. Tidak apa-apa." sahut Lana dengan cepat.
"Yang harus diberi pelajaran itu nih, samping aku nih. Juan sial*n ini telah menciumku tanpa persetujuan dariku. Dia berani sekali padahal belum ada yang pernah menciumku sebelumnya." umpat Lana di batinnya saja. Dia kesal pada Juan yang tiba-tiba menciumnya tanpa aba-aba dan membuatnya salah tingkah juga memerah. Walaupun saat itu Juan tak sengaja namun, Lana kesal saja kepada Juan. Sungguh aneh para wanita ya, sulit memahami isi hati wanita maunya gimana dah.
*
*
*
Lana telah sampai di dalam kamarnya dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan urusannya, Lana pun keluar kamar mandi untuk mengambil baju tidurnya dan memakai skincarenya.
"Eh, makan mie samyang enak kali ya? setelah ini makan mie ah." ucap Lana kepada dirinya sendiri sambil menatap dirinya di cermin dan segera menyelesaikan menggunakan skincarenya itu.
Lana berjalan menuju tangga untuk kedapur. Namun, belum sampai dapur dia telah melihat Juan pun di dapur juga ternyata. " Ya! apa yang kau lakukan?"
"Membakar dapur. Iya makanlah." sahut Juan yang kesal ditanya, padahal Lana bisa melihat sendiri daripada bertanya. Juan sudah lapar sedari tadi dia di dalam mobil jadi, membuat mie adalah jalan ninjanya untuk menghilangkan laparnya.
Lana mendekati Juan, "Aku juga ingin bikin mie, sekalian lah dua bikinnya pumpung miemu juga baru masuk ke panci kan?"
__ADS_1
"Dih! yaudah karena saya baik hati, boleh deh." Juan mengalah karena dia tahu Lana juga belum makan.
Juan memasukkan mie kedua ke dalam panci, "Kenapa tidak bilang bibi saja, kan nanti juga disiapkan makan malam untukmu."
"Tidak! aku ingin mie saja." sahut Lana dengan cepat.
Terjadi hening sementara diantara mereka. Mereka berdua berdiam mematung tanpa kata. Mungkin mereka saling mengingat kejadian tadi sehingga hawa canggung mulai menyeruak.
"Apa kau masih memikirkannya?" tanya Juan dengan jahilnya daripada hanya hening.
"Memikirkan apa?" pekik Lana.
"Scene tadi." jawab Juan dengan santainya.
"Scene mana?" Lana masih bingung yang dibahas Juan kejadian mereka ciuman atau di atas sofa kah.
"Ya! kau memikirkan scene yang mana emang?" Juan dibuat bingung dengan pertanyaan dari Lana.
"Ya! aku tidak memikirkannya." sanggah Lana.
"Lalu kenapa tanya scene yang mana?" Juan masih berusaha mendapatkan jawabannya.
"Karena aku tidak tahu yang mana yang kau bahas." Lana berusaha untuk pura-pura tidak tahu yang dibahas Juan namun malah membuat dirinya keceplosan.
"Ha!" pekik Juan yang tidak percaya padahal dia tanya scene ketidakseimbangan ciuman tadi namun, Lana sepertinya memikirkan scene yang lumayan banyak dipikirannya.
"Eh! maksudku tidak begitu. Aku tidak memikirkannya aku memikirkan hal lain jadi aku tidak paham apa yang kau bicarakan makanya aku tanyakan." Lana berusaha membuat penjelasan agar Juan tidak salah paham.
"Lah bohong, wajahmu memerah juga udahlah jujur saja." Juan mengaduk mienya sambil terus mengisengi Lana.
"Ya! kau ini." pekik Lana tak terima sambil menunjuk jari nya kearah Juan dengan saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Lana!" panggil kakeknya dari kejauhan yang mulai mendekati posisi Lana sekarang.
Sontak Lana dan Juan terkaget karena suara itu mengalihkan perdebatan mereka.