
“Mas, mobilmu di mana?” Shanuella tercengang ketika berdiri di depan mobil sedan hitam mengkilap yang diperkirakan bernilai miliaran rupiah. Jauh berbeda dengan mobil milik Bayu yang hanya pekerja biasa.
“Kenapa?”
Bayu menyentak pelan jalinan tangan mereka yang tak melepas sejak dari dalam restoran. Pernyataan cintanya tak kunjung mendapat jawaban dan dia mencoba menerimanya dengan ikhlas. Sejak melamar Shanuella lima tahun silam, pria itu mencoba jadi pribadi yang tulus. Memberi tanpa mengharap kembali. Cinta itu memang sejak awal bukan miliknya, lalu untuk apa memupuk asa berlebih.
Tersenyum getir, Bayu menatap sosok yang selama ini hanya sanggup didekapnya dalam nyata. Hati Shanuella terlalu sulit untuk digapai, meski hanya sekadar mimpi. Cukup dengan seutas senyuman tanpa jawaban, itu sudah membuatnya bahagia.
“Ini bukan mobilmu, Mas.”
Bibir kering Bayu membelah sempurna, manis dan terkesan tulus. “Ya, mobilku masih di tempat Bos. Kenapa?” Tanya itu terlontar spontan dan diakhiri senyuman.
“Tidak apa-apa, Mas.”
__ADS_1
“Sesekali kita jadi orang kaya, Shan.” Bayu mencoba mencairkan suasana. Membuka pintu mobil dan mempersilakan wanita berstatus istrinya itu masuk.
Wanita berparas jelita itu menggeleng. “Aku tidak butuh semuanya, Mas. Aku hanya ingin bisa tersenyum lepas, Harta dan kekayaan untukku pribadi ….” Shanuella menggeleng seraya menarik napas panjang, menghempas beban berat yang selama ini bertakhta di dirinya dan menolak pergi.
Bayu menunggu kalimat itu diselesaikan dengan sempurna.
“Bagiku, semua tak ada artinya lagi. Kini, aku sadar. Ada yang lebih peting dari sekadar uang dan kekayaan, Mas.”
“Kamu dan Mbok Sari adalah sesuatu yang berharga untukku, Mas.”
“Lana juga. Jangan lupakan anak itu. Sebentar lagi dia akan tumbuh dewasa dan kamu akan melihat sendiri bagaimana Tuhan hadir di dalam hidupmu melaluinya. Dia sumber kebahagiaan di tengah sukarnya kehidupan. Dia akan menjadi alasanmu bersyukur untuk hidup yang singkat ini.”
“Mas.” Shanuella tertegun ketika diingatkan akan malaikat kecil yang kini menjadi sumber kekuatan dan alasannya berjuang.
__ADS_1
“Tidak perlu berpikir berlebihan. Masuk, aku akan mengantarmu ke kantor.” Bayu membukakan pintu sisi penumpang dan mempersilakan istrinya.
Shanuella menyimak dan menurut. Sesaat sebelum menjatuhkan bokongnya di jok mobil, dia masih sempat mengamati pria yang tengah membukakan pintu untuknya tengah berdiri kaku.
“Terima kasih, Mas.” Pernyataan itu keluar spontan. Seutas senyuman diumbarnya pada sang suami
Tak lama, tampak Bayu menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi. Pria itu berjuang keras mengenyahkan semua canggung dan mengembalikan keadaan supaya seperti sedia kala.
Sebelum mobil bergerak maju, tiba-tiba Bayu bersuara pelan. Terdengar tenang menebar pilu. Setelah lima tahun berlalu, pria itu masih harus mengemis rasa yang seharusnya telah menjadi miliknya sejak lama.
“Shan, aku tidak tahu jelas apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu takutkan, dan apa yang kamu rasakan. Aku harap kamu mempertimbangkan perasaanku selama ini.? Apa yang aku sampaikan di dalam tadi adalah nyata dan tulus.” Bayu menerangkan dengan hati-hati, berharap perasaan yang digemakannya di dalam tak dianggap dersik angin lalu.
Shanuella tertunduk. Jari jemari saling menjalin di atas pangkuan. Gugup hadir dan membuatnya bungkam seribu bahasa. Jalinan kata itu bukan sekadar aksara tak bermakna, tapi tersirat pinta dan asa.
__ADS_1