
“Shan, sudah. Jangan menangis. Hapus air matamu, tegakkan kepala. Yang harus menangis itu dia, bukan kamu. Yang harus menyesal itu dia, bukan kamu.”
Bayu membingkai wajah Shanuella, kemudian mengusap air mata yang menjejaki pipi putih mulus bak pualam itu dengan penuh kelembutan. Kesedihan yang dirasakan istrinya itu sampai padanya.
Lima tahun menikah, walau tidak menjadi suami istri sesungguhnya, tetap saja rasa itu bertaut tanpa disadari. Seperti perasaannya yang tiba-tiba terikat pada sosok cantik yang selama ini diakui sebagai istri. Terlalu banyak ujian hidup yang mereka lewati bersama, terlampau banyak air mata dan tawa yang dilalui berdua. Saat semua menjadi kenangan, dia yakin mereka akan merasakan kehilangan satu sama lain.
“Sudah, simpan air matamu untukku saja.” Bayu terkekeh pelan. Di situasi seperti ini pun, pria itu masih bisa bercanda.
“Dia Blade, Mas. Tapi, dia tidak mau mengakuinya.”
Shanuella duduk di sisi brankar, meremas pinggang Bayu tanpa sadar. Berkeluh kesah, menumpahkan perasaannya.
“Biarkan saja. Mau Blade atau bukan, biarkan saja. Itu tak akan berpengaruh apa-apa. Tunjukkan pada dunia, kamu tidak membutuhkannya. Dia membuangmu, kan?” Bayu merapikan rambut Shanuella yang terurai berantakan dan menyelipkan di balik telinga.
Shanuella mengangguk. Wajah memerah dan basah itu perlahan mulai menampakkan senyuman. Diamatinya laki-laki matang yang selama ini menjaganya dan Lana tanpa menagih imbalan.
“Mas.” Shanuella kembali meremas pinggang suaminya.
__ADS_1
“Hmm.”
Bayu menurunkan pandangan agar sejajar saat bicara. Sorot teduh laki-laki itu terasa menenangkan dan menyusup ke dalam kalbu.
“Kenapa?” tanyanya, memastikan. Kembali mengusap rambut panjang Shanuella, dia menempelkan dahi mereka hingga ujung hidung pun ikut beradu.
“Aku ... tidak mau bertemu dengannya, Mas.”
“Ya sudah. Kalau tidak mau bertemu ... jangan terima proyeknya. Dia pemilik rumah yang akan ditangani perusahaanmu, kan?”
Shanuella mengangguk.
“Tapi, nanti aku dianggap tidak profesional, Mas. Aku tidak mau sampai dicap seperti itu.”
“Ya sudah. Lakukan saja. Dia juga tidak akan bisa menyakitimu. Kalau dia berani, aku akan maju dan membelamu.” Bayu menegaskan.
Shanuella tertegun. Ucapan pria yang kini berada begitu dekat dengannya hampir tak berjarak itu membuat hati tersentuh. Kembali dia meremas pinggang sang suami, sebaliknya Bayu pun terus membelai rambut panjang istrinya itu. Keduanya terdiam sejenak, menikmati embusan napas yang beradu di udara dan menghangatkan wajah satu sama lain.
__ADS_1
“Aku mau pulang.”
“Lana pasti mencari kita.” Bayu memberi jarak dengan memundurkan wajahnya beberapa senti ke belakang sembari merogoh saku celana. Dia harus memastikan tak ada panggilan dari rumah.
“Apa Mbok Sri menghubungimu, Mas?”
Bayu menggeleng. Fokusnya tetap tertuju pada layar gawai. “ Kita pulang sekarang, Shan.”
Sebelum benar-benar turun dari tempat tidur, Bayu masih sempat menghadiahkan kecupan di dahi Shanuella. Sentuhan ringan untuk menguatkan wanita yang sedang terguncang itu.
“Jangan sedih. Lima tahun ini kita bisa melewatinya. Kali ini pun, kita pasti bisa.” Meraih tangan Shanuella dan mengecup punggung tangan wanita tersebut.
Ingin rasanya mengecup bibir tipis Shanuella, tetapi keberanian itu baru sebatas angan-angan. Terkadang, canggung masih membayang. Bagaimanapun, kisah mereka berawal dari majikan dan bawahan.
Perjalanan hubungan mereka untuk sampai ke titik ini tidak bisa dikatakan mudah. Dari bukan siapa-siapa, hingga bisa berbagi dan sedekat ini. Perlu waktu dan perjuangan panjang. Apalagi, pernikahan itu terjadi bukan karena cinta. Bagaimana sulitnya Shanuella membuka diri untuk menerima pria matang yang nyaris tak pernah dikenalnya selama masih menjadi pengawal kepercayaan Daddy.
“Aku baik-baik saja. Pasti baik-baik saja ‘kan, Mas?”
__ADS_1
“Pasti. Siapa yang berani menyakiti istri dan anakku.”
...✔️✔️✔️...