
"Maksud saya kamu Zaki... ya?" Lana sedikit menahan emosinya.
"Oh.. ya saya Zaki. Ada yang perlu saya bantu, nona?"
"Saya hanya sedang melakukan pengecekan setiap pegawai baru. Apakah mereka melakukan kerjaannya dengan benar atau tidak?"
Zaki hanya mengangguk walaupun sedikit ada keringat dingin di pelipisnya.
"Baiklah kita mulai, silahkan lakukan pekerjaanmu dan saya akan memantaunya."
Kembali Zaki hanya mengangguk sebagai jawabannya tanpa mengucap sepatah kata pun kepada Lana.
Zaki diberi instruksi kepada ketua tim produksi untuk segera memulai pembuatan cookies. Mendengar hal itu semua staff langsung berada di tempat yang telah menjadi bagiannya. Zaki mendapat tempat dimana dia harus memasukkan bahan-bahan cookies ke dalam mesin pengaduk bahan.
"Mmm... gula 2 karung, tepung 4 karung, garam 1½ karung."
Lana memantau dengan seksama yang berjarak agak jauh dari tempat Zaki berdiri.
"Dia sedang mengigau atau apa sih." Lana dengan memelototi Zaki yang hanya bergumam dan belum melakukan aksinya.
Beberapa detik kemudian barulah Zaki menuju troli yang sudah disediakan semua bahan. Zaki mengambil gula, garam, dan tepung sesuai takaran. Namun, ditengah-tengah dia kebingungan seperti ada yang janggal.
"Ini tadi gula kah atau garam kah. Mana tidak aku lihat tulisan garam gulanya lagi. Main masukin aja. Haduhh habis aku..." gimana Zaki cemas.
"Zaki, kamu..." Lana yang belum selesai bicara dipotong oleh Zaki.
"Anu ini saya tadi tidak baca tulisan jadi saya tidak tahu garam mana gula mana." cemas Zaki dengan keringat mengucur di dahinya.
"Kamu tidak bisa bedain garam dan gula? tapi kamu bekerja di bagian produksi seharusnya belajar lebih dahulu."
"Anu saya pikir yang dipakai garam kasar, nona."
"Garam kasar kamu kira bikin sambal."
"Pokoknya kamu nanti hubungi penanggung jawab produksi suruh dia melatih kamu seputar bahan-bahan. Bukannya seharusnya kamu dapat pelatihan ya. Haduh pusing saya kalau semua pegawai baru seperti kamu Zaki." tegas Lana sambil memijit kepalanya.
"Kalau semua seperti saya, nanti nona tidak bisa bedain dong. Semua jadi Zaki namanya." polos Zaki dengan menunduk sedikit dihadapan Lana.
"Ha... haduh...kita lanjut ke pegawai lainnya. Zaki kerja yang bagus jangan sampai ada surat pemecahan di meja kamu ya."
__ADS_1
"Siap, nona."
Lana dengan asisten dan bodyguardnya menjelajahi seluruh kantor untuk mengetes kemampuan para pegawai baru. Satu persatu pegawai di datangi dan dipantau kerja mereka agar tidak salah tempat atau bahkan melaku kesalahan dalam bekerja sehingga jika timbul hal macam itu Lana bisa segera merubah divisi mereka atau melakukan pelatihan agar matang dulu skill mereka dan baru bisa bekerja di perusahaannya.
"Sekarang tinggal siapa?"
"Pegawai yang nona bela." jawab Mawar.
Lana langsung menengok ke arah Mawar dan mengangguk seraya memejamkan matanya berharap pegawai yang dia bela adalah orang yang memang pantas untuk lolos bekerja di perusahaannya.
"Ini nona divisi perencanaan."
"Ha, perencanaan?" kaget Lana. Dia berpikir mereka berdua akan ada dibagian divisi yang tentu tidak berat sedangkan divisi perencanaan adalah divisi yang tentu saja berat terutama otak dan ide harus main.
"Iya nona. Sesuai kebijakan perusahaan begitu."
"Tak ku sangka ternyata mereka mempunyai skill dibidang ini."
"Tak ku sangka nona membela orang yang tepat."
celetuk Mawar.
"Nona jatuh hati pada mereka ya. Saya dapat kabar nona memperhatikan cctv terus ke arah mereka." Mawar berujar dengan penuh keinginan tahuannya.
"Siapa yang nyebarin gosip seperti itu? siapa host pembawa berita perusahaan."
Seperti sedang di skak mat Mawar langsung beralasan.
"Haduh saya tidak tahu, nona. Haduh nona saya ada panggilan dari ponakan bentar ya." Mawar langsung ngibrit menjauh dari Lana daripada dia menjawab siapa sebenarnya biang keladi gosip.
"Mawar kan anak tunggal kan ya, dari mana dia dapat ponakan? bohongnya ketahuan banget." Lana menatap kedua bodyguardnya layaknya bertanya kepada mereka. Seketika mereka langsung tertawa mendengar bahwa Mawar punya ponakan.
Ketika hendak masuk menuju ruangan divisi perencanaan, hp milik Lana berbunyi di dalam tasnya. Sontak Lana langsung mencari hp di tasnya.
"Halo? ada apa re?"
"Ada apa ada apa, kamu lupa kemarin seharusnya kamu datang ke resto...." teriak Tere di ujung sana yang tentu dia sedang kesal kepada Lana karena tidak datang sesuai janji mereka.
"Eh... aku lupa re. Kemarin aku capek banget ada banyak kerjaan. Aku pulang langsung tidur juga jadi seketika lupa janjiku ke kamu."
__ADS_1
"Gitu terus harus selalu di ingetin. Padahal kemarin aku coba untuk nggak ingetin, eh beneran lupa pikun kamu, Na." dengus Tere.
"Ma'af, Re. Kan kamu tahu sendiri aku kayak gitu masih aja kamu tidak ingat kan aku si. hehe." Lana berusaha mencairkan suasana agar Tere tidak lagi ngambek.
"Ya deh yaa, pokoknya nanti kesini. Nggak ada kata lupa. Katanya selalu ada satu sama lain..."
"Siap komandan." tegas Lana.
"Siap kepala kau, awas kalau lupa aku tebas kepala mu."
"Ngeri komandan."
"Hahaha... jangan lupa lagi." luluh Tere dengan renyuh tawanya.
"Iya..." dan panggilan berakhir.
"Ada apa non?" tanya pak Sam.
"Oh ini Tere, pak. Mungkin masalah hubungannya dengan Tio atau apalah. Tapi aku yakin masalah dia dengan Tio paling putus nyambung lagi kek sinyal telepon kena badai."
Jawaban para bodyguardnya hanya tertawa mendengar ucapan Lana. Lana pun bergegas menuju ruangan divisi perencanaan. Yang mana ruangan sedang sepi namun, sepertinya semua karyawan sedang ada rapat di ruangan rapat bersama membahas perencanaan perilisan produk baru. Segera Lana pergi ke ruang rapat dan benar saja semua ada disana. Semua terkaget dengan kehadiran nona muda itu seketika semua langsung berdiri di tempat sebagai salam hormat kepada Lana. Lana mengangguk menandakan untuk melanjutkan aktivitas yang sedang dilakukan.
"Baik, apakah ada masukan lagi tentang produk ini."
"Pak?" seru Juan yang tentu saja membuat Lana kaget karena baru saja dia masuk tanpa memberitahu bahwa pegawai baru sedang di diperiksa skill mereka, dia malah unjuk skill tanpa diberitahu.
"Lumayan" batin Lana sambil mengamati Juan dari atas sampai bawah.
"Iya, mau usul atau mau izin ke kamar mandi?" celetuk penanggung jawab untuk mencairkan suasana yang tegang.
Juan dan lainnya tertawa mendengar celetukan ketua mereka. "Saya ingin mengusulkan ide, bagaimana kalau kita membuat produk bersoda namun pengurangan kadar sodanya menambahkan cita rasa segar buah atau sesuatu yang baru misalnya permen atau lainnya. Soda adalah produk yang disukai semua orang. Dan untuk penjualan paling besar itu pada remaja dan dewasa. Sesuai kesukaan mereka kita bisa membuat kalori tidak begitu banyak sehingga orang yang diet atau takut gemuk bisa sedikit teratasi." tegas Juan dengan menunjukkan pptnya yang sudah disiapkannya.
"Baik, silahkan duduk kembali." Penanggung jawab perencanaan mempersilahkan Juan duduk kembali.
"Baik apakah ada usul lagi?"
Semua saling tatap menatap satu sama lain. Sehingga bisa dipastikan Juan adalah orang terakhir yang mengajukan usul.
"Baik sekarang kita voting usulan atau ide mana yang kalian minati dan setujui."
__ADS_1