
"Ha! ya bukan lah bi. Saya aja pegawai baru kok paling juga baru seminggu lebih kerja. Jangan salah paham bi, mana mungkin kayak begitu."
"Kalaupun iya juga nggak apa-apa, mas. Kayak di drakor gitu, kisah cinta atasan dengan bawahan romantis, mas." sahut bibi Ipeh.
"Ada-ada aja bibi mah. Itu di drakor doang di dunia nyata atasan selalu menakutkan bagi bawahan."
"Berarti nona menakutkan ya mas?" tanya bibi Ipeh sambil mengibaskan seprei.
"Iya nggak juga kadang, ada cantiknya juga si." Jawab Juan dengan polosnya.
"Nah, itu berarti bisa dong ada scene drakornya." Bibi Ipeh mencoba menggoda Juan.
"Bibi ada-ada aja ih. Udah ah saya mau ke kamar mandi dulu." Juan malas menanggapi bibi Ipeh yang ngelantur omongannya yang Juan sendiri tidak tahu maksud dan tujuan bibi main ngomong seperti itu tadi.
"Jarang liat nona bisa salah tingkah seperti itu. Bisa jadi mas ini disukai sama nona walaupun kasta berbeda namun dilihat-lihat dia orang baik dan sopan." batin Bibi Ipeh melihat pintu kamar mandi yang baru saja ditutup oleh Juan.
*
*
*
"Kenapa aku jadi salah tingkah kayak gitu sih, arkkkgghhh..." umpat Lana pada dirinya yang memikirkan apa yang akan dipikirkan Juan tadi jika dia menyadari kalau Lana salah tingkah dibuatnya.
"Lana!" samar-samar Lana mendengar Juan memanggil namanya lagi.
"Arkkkgghhh... nggak mungkin aku jadi salah tingkah kayak ginilah ngapain juga lah. Ini kuping ngelantur mulu deh bisa masih kedengeran suaranya." Kesal Lana pada dirinya sendiri yang masih memikirkan Juan memanggilnya.
"LANA! aku memanggilmu bisakah kau tengok aku di pintu, ha." teriak Juan di pintu yang tengah ia buka sedari tadi.
"Ha!" Lana terperanjat tak percaya ternyata dia tidak halusinasi mendengar namanya dipanggil namun memang benar Juan sedang memanggil namanya di kamar.
"Yaa... kau ini main buka pintu saja! apa tidak bisa mengetuknya, ha!" teriak Lana yang tidak mau Juan mengetahui dirinya sedari tadi memikirkan dia memanggil namanya namun, Lana juga kesal karena Juan tidak mengetuk pintu sebelum dibuka.
"Aku sudah mengetuknya tapi tidak ada respon makanya aku buka tapi tadi yang buka bi Ipeh dulu kok, setelah bi Ipeh bilang kamu sudah selesai dandan makanya aku berani buka pintu dan sekarang bi Ipeh udah duluan ke bawah." Juan menceritakan kejadian yang sebenarnya karena tidak mau dianggap kurang sopan membuka pintu tanpa izin yang punya kamar.
__ADS_1
"Ohh... lalu kenapa kamu kemari?" tanya Lana mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas lagi soal buka pintu karena ia telah sangka kepada Juan.
"Kita ke bawahnya bersama ya? kan kamu yang bawa aku kemari, aku sungkan aja pergi ke bawah sendiri." pinta Juan dengan polosnya.
"Kan bisa bareng bi Ipeh ke bawahnya." sahut Lana sambil menyisir rambutnya yang sedari tadi belum ia sisir karena terus mengumpat memikirkan Juan yang terus membayanginya memanggil namanya.
"Iya kurang gimana gitu, nanti pas aku dibawah langsung ketemu tuan jadi kikuk kan. Kalau pergi ke bawahnya bareng kamu kan nanti diruang makan ada 3 orang nggak 2 orang aja jadi nggak kikuk." ucap Juan yang telah mempertimbangkan semuanya jika dirinya tadi ikut bi Ipeh kebawah bersama pasti akward banget cuman berdua sama tuan di ruang makan. Mana dirinya belum pernah ngobrol dan bertatap muka secara langsung dengan tuan.
"Baiklah jika begitu." Lana langsung berdiri menuju Juan.
Mereka akhirnya ke ruang makan bersama, Lana berada di depan Juan dan tentu saja Juan berada di belakang Lana.
"Turun saja sampai berdua! apa kalian punya hubungan spesial?" celetuk kakek Lana yang mengamati Lana dan Juan turun bersama ke lantai bawah.
"Kakek!" pekik Lana yang tidak terima jika kakeknya mengatakan hal itu. Lana saja tidak pernah kepikiran untuk punya hubungan spesial dengan siapapun. Dia hanya memikirkan kakek dan perusahaan, selebihnya jika kakek ingin Lana menikah, Lana ingin kakeknya yang mencarikannya dan Lana hanya tinggal menunggu perintah kakek saja.
"Ha! tidak mungkin tuan, mana berani saya." sahut Juan yang terkaget mendengar ucapan kakek Lana.
"Juan kan?" tanya kakek Lana.
Lana dan Juan dipersilahkan duduk oleh bi Sri dan bi Ipeh.
Kakek mengangguk sambil memakan salad yang disiapkan bibi Ipeh di meja. "Panggil aku, kakek Grizelle atau Griz."
"Tapi tuan, bukannya lebih baik tuan saja ya."
"Kakek Griz!" ucap kakek mengulanginya lagi.
"Baik kakek Griz." Juan sambil menganggukkan kepalanya tidak mau bertanya lebih lagi.
"Kau tahu Juan, aku lebih suka orang memanggilku Grizelle. Karena nama itu nama leluhur kami dimana nama itu adalah nama keluarga kami." ucap kakek menjelaskan.
"Lalu, grup Arga siapa pemilik nama Arga yang dijadikan nama grup itu?" Juan memikirkan nama yang menjadi nama grup perusahaannya.
"Juan!" panggil kakek.
__ADS_1
Juan tersentak kaget "Eh iya kakek Griz."
"Kau sedang memikirkan pacarmu ya?" tanya kakek Griz yang sedang menjahilinya dan juga ingin tahu apakah Juan punya pacar atau tidak.
"Eh, nggak kakek."
"Nggak mikirin pacarmu atau nggak punya pacar. Yang jelas dong bilang nggak nya apa?" jelas kakek menanyai Juan.
"Nggak punya pacar, kek." ucap Juan.
"Kakek ngapain sih tanya hal pribadi ke dia?" sambil melihat sinis ke Juan.
"Yaa kan nggak apa-apa kan? nggak apa-apa kan Juan?"
"Nggak apa-apa, kek."
"Tuh, Juan aja bilang nggak apa-apa kok."
"Ini kan katanya mau bahas seputar kejadian tadi, kek."
"Oiya, sampai lupa kakek. Iya maklum, Na namanya juga udah berumur suka lupa. Gitu aja sewot ih." usil kakek menjahili cucunya itu.
Juan hanya melihat tingkah lucu kakek yang sedang menjahili cucunya itu. Ada rasa iri dan ingin tertawa namun ia tahan.
"Kamu tadi mengejar mereka ya?" tanya kakek Griz menanyai Juan.
"Iya, kek."
"Lalu, apakah kamu melihat wajah mereka atau ketua mereka." kakek menanyai Juan dengan teliti.
"Saya sempat memutuskan tali masker salah satu dari mereka tapi, dengan sigap mereka berlari cepat agar tidak ketahuan wajah aslinya itu. Namun yang saya dapat setelah mengejar mereka adalah ada tato naga di lengan kiri dan terdapat pula bekas luka yang dijahit di lengan yang sama." jelas Juan sambil menunjukan dimana letak jahitan dan tato itu berada.
"Lengan yang sama berarti atas bawah."
"Iya, kek. Seperti ini kalau tidak salah." Juan menunjukkan posisi jahitan dan tato itu berada.
__ADS_1
"Bagus, Juan. Aku akan memperkerjakan kamu sebagai bodyguard Lana." ucap Kakek dengan santainya.
"HA!" pekik Juan dan Lana berbarengan dan saling tatap menatap.