
“Shan.”
Rarendra tersudut. Di titik ini, nyalinya menciut. Tak memiliki keberanian untuk mengakui kebenaran, apalagi membeberkan semua kesalahan. Wajah tampannya tampak lesu, semangat yang sempat menggebu-gebu lenyap entah ke mana. Dia hilang arah, tak bisa menguasai keadaan yang tiba-tiba berbalik menubruknya. Dikira, Bayu akan tersudut dan tersingkir dengan permainannya, kenyataan kini laki-laki itu di atas angin.
Kurang ajar!
“Kenapa diam?”
Bayu dengan lancang bertanya. Hilang sudah rasa sungkan bawahan dan majikan yang selama ini dijaganya. Peluru yang dilontarkan Rarendra membuat segala hormat dan simpati lenyap dalam sekejap. Bahkan, dia tak bisa lagi menaruh hormat berlebih.
“Bukan. Aku bukan Blade. Aku Rarendra Tan.” Tatapan sendu terarah pada Shanuella. Semburat kesedihan itu jelas dan nyata menghiasi rupa tampan yang tak berdaya. Tangan mengepal erat, sejumput kejujuran meletup dalam dada seakan ingin mendobrak dan menyuarakan semuanya. Cinta yang dipendam dalam diam mulai menunjukkan eksistensinya. Seakan berontak, lepas dari kungkungan. Menyesak dan ingin berteriak, mewartakan kebenaran.
__ADS_1
Terus terang! Katakan kamu mencintainya.. Katakan kalau kamu tak bisa melupakannya. Katakan kalau kamu pun sama tersiksanya. Kamu merindukannya selama ini.
Kalimat-kalimat penyemangat sedang bertempur di dalam batin Rarendra. Empunya dilanda kebingungan.
Kejar cintamu, Endra. Jangan jadi pria bodoh lagi. Kamu mencintainya. Ini cinta, jangan mengingkarinya. Malam-malam yang kamu habiskan dalam kubangan air mata harusnya cukup membuka mata hatimu. Ini cinta. Kamu mengubah benci menjadi cinta sama seperti Tuhan mengubah badai menjadi pelangi. Lalu, apa salah?
“Kamu dengar sendiri ‘kan, Shan? Dia bukan Blade, dia hanya orang asing yang kebetulan mirip dengan pecundang itu.”
“Apakah kamu Blade?” Tangisan luruh di akhir tanya, Shanuella memejamkan mata. Mengulang kebahagiaan semu yang tengah mengujinya kini. Senyuman yang selama ini hadir hanya membungkus pedih agar tak terlalu kentara.
Rarendra menggeleng. Menatap lekat-lekat wanita cantik berurai air mata di hadapannya. Kedua tangan mengepal, berjuang agar tak merengkuh dan memeluk Shanuella yang menghantui mimpi dan nyatanya.
__ADS_1
“Aku ….” Gigi pria itu gemeletuk, menghela napas berulang kali agar gejolak yang tengah meletup-letup di dada masih di bawah kontrolnya. Dia tidak bisa mengaku sebelum memastikan Shanuella sudah memaafkannya. “Aku Rarendra Tanuwijaya.” Kuku-kuku Rarendra menancap di telapak, pria itu kembali menggeram pelan. Tak mau sampai pertahanan dirinya runtuh, dia berbalik badan dan pergi.
“Temui aku setelah mengantarnya. Bawa mobilku!” titah Rarendra sembari melempar kunci mobil pada Bayu. “Kita harus bicara sebagai laki-laki. Kamu berhutang penjelasan padaku!”
Bayu tersentak ketika kunci mobil membentur dada dan berdenting saat beradu dengan kerasnya lantai. Memungutnya sembari menoleh ke arah Shanuella yang tengah terisak tanpa suara.
Rarendra membuang napas dengan mulutnya saat sudah berbalik badan. Cairan kristal mendadak turun dari kedua sudut mata dan buru-buru diusapnya. Tak mau sampai terlihat lemah, apalagi jika orang lain melihatnya terluka.
Cinta itu tak selamanya membahagiakan.
Mata Rarendra memerah.
__ADS_1
Maaf, aku terlambat up beberapa hari ini.