
Shanuella tak lagi banyak bicara. Di sisa malam, dia memilih memejamkan mata dan menenggelamkan diri dalam jalinan kisah lalu yang bak benang kusut. Bermula dari sakitnya Mommy, kematian Daddy yang disusul kebangkrutan. Blade menyempurnakan cerita masa lalu dengan sebuah pengkhianatan. Dia tak tahu apa salahnya, tidak paham di mana letak dosanya hingga pantas diperlakukan bak sampah.
Setelah merenggut kehormatannya, pria itu menghilang untuk selamanya. Semua akses untuk menggapai Blade tertutup, dia tak bisa mencari keberadaan laki-laki pecundang yang telah menanam benih di rahimnya. Sosok yang tak pantas disebut ayah oleh Lana itu seakan-akan hilang ditelan waktu.
Terlelap dengan resah yang bergelayut di alam bawah sadarnya, Shanuella terbangun saat azan subuh berkumandang merdu. Seperti biasa, dia harus bersiap lebih dulu agar Lana tidak terlambat ke sekolah. Kehidupannya sudah jauh berubah, tak lagi seperti nona muda yang tinggal perintah. Semua harus dikerjakan sendiri. Dari menyiapkan hal-hal pribadi untuknya dan sang putri.
“Maafkan Mama, Sayang.” Shanuella berbisik saat tatapannya tak sengaja beradu pada sosok yang terbaring di tengah ranjang dengan kondisi kepala terluka. Mengurungkan niat, dia duduk mengarah pada putri kecilnya yang tengah mendekap Bayu di dalam tidur.
Tiba-tiba, teringat akan ucapannya semalam. Kata-kata yang tak pantas dikumandangkan seorang mama pada putrinya. Seburuk apa masa lalunya, anak-anak tidak pantas disalahkan walau terlahir dari dosa dan sebuah kesalahan.
“Maafkan Mama, Nak. Maaf.”
Di saat kesadaran itu hadir, logikanya pun berjalan lurus. Shanuella menyesali apa yang telah diucapkan tentang sang putri. Sedikit membungkuk, wanita itu mengecup pipi putrinya sekilas dan menitikkan air mata.
Terkadang hati dan bibir tak sejalan. Tak jarang, pikiran dan perasaan bertolak belakang. Shanuella terisak pelan, membelai pipi mulus Lana yang sedang tertidur pulas. Menikmati rasa bersalah, tiba-tiba terdengar suara maskulin menyela.
__ADS_1
“Aku dan Yanya sudah memaafkanmu Mama.” Bayu berbisik. Nada bicaranya terdengar menggemaskan, seperti gaya khas Lana ketika berbicara. Sambil mendekap putrinya, pandangan pria dewasa itu tertuju pada Shanuella.
“Mas.”
Ucapan Bayu menghantam relung hati. Rasa bersalah yang sempat mampir, kini makin terasa. Mata Shanuella mendadak berlapis cairan bening. Dia menyesal telah mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Tak hanya pada Bayu, tetapi juga pada buah hatinya.
“Maafkan aku, Mas.” Shanuella duduk bersila di atas tempat tidur dan tertunduk.
“Mau dipeluk juga?” tawar Bayu, lembut.
“Kalau butuh pelukan dan kehangatan, aku tidak keberatan.” Pria itu terkekeh pelan. Mengurai dekapan pada sang putri, dia menepuk pelan dadanya. “Ayo, kalau butuh bahu untuk berbagi, aku siap.”
Tangis Shanuella semakin menjadi. Dia mematung di tempat. Tubuh bergetar dengan derai air mata yang terus turun membasahi pipi.
“Aduh, kenapa tambah menangis? Suaramu bisa mengusik tidur putriku.” Bayu mengingatkan. Menempelkan telunjuk di bibir, dia buru-buru bangkit dan turun dari tempat tidur. Dihampirinya Shanuella yang terus bercucuran air mata dan didekapnya erat setelah menghempaskan bokong di tepi ranjang.
__ADS_1
“Aku ... aku ... membencinya.”
“Membencinya bukan berarti harus membenci putrimu.” Bayu berbisik di sela pelukan. Dibiarkan Shanuella merebah di pundak, menikmati kenyamanan tubuhnya.
“Ya, tapi Lana ada karenanya.”
“Lana ada karena itu takdir Tuhan. Bukan dia, bukan kamu, atau siapa pun. Tapi, Tuhan yang menginginkan Lana ada di dunia ini dan menjadi putrimu.”
“Tapi, tetap saja di putrinya Blade.”
“Masalahnya dia juga putrimu. Lalu, kamu mau membencinya karena hal itu?” cerocos Bayu. Pertanyaan yang sama sudah ada sejak lima tahun yang lalu dan dia tak akan pernah lelah mengulang jawaban yang serupa.
“Tapi, dia lahir dari dosa. Lahir dari kesalahan, lahir dari ....”
“Bukan berarti dia tidak berhak hidup, kan?” todong Bayu. “Ingat, aku sudah pernah menawarimu sewaktu Lana masih bayi merah. Kamu yang mempertahankannya, bukan aku atau Mbok Sari. Kamu yang menginginkannya tetap di sini. Aku sudah memberimu kebebasan memilih. Mempertahankan atau membuangnya?”
__ADS_1