My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 67


__ADS_3

“Bayu?” 


Kedua tangan Shanuella saling meremas di atas meja, tatapan tertuju pada vas bunga kaca dengan dua tangkai mawar merah terselip di dalamnya. Entah kenapa, perasaan wanita itu tiba-tiba jadi tak tenang. 


“Bayu Lesmana.” Tarikan napas Shanuella jauh lebih berat dari sebelumnya. Ada gumpalan tanya yang menyesak dan butuh jawaban. Dia tak bisa duduk tenang, buah-buah pikiran bertarung di otaknya, saling mengait satu sama lain.


“Apa dia Mas Bayu? Kenapa kecurigaanku mengarah ke sana?” Sejak memutuskan panggilan dengan Rarendra, bibirnya komat-kamit. Dahi berkerut, pandangan kosong.


Blade pengawalku, Mas Bayu pengawal Daddy. Mereka tinggal di belakang rumah utama. Pasti saling mengenal, paling tidak say hello pasti pernah dong.


Kembali terdengar tarikan napas berat dan embusannya dari ujung bibir Shanuella.


“Belum lagi itu si Rarendra. Harusnya, Mas Bayu juga kenal Rarendra. Dia ‘kan bekerja sama dengan perusahaan Daddy, pasti sebelumnya pernah bertemu. Kalau dua orang ini sosok yang sama, harusnya Mas Bayu tahu jelas. Apa dia tidak kaget melihat Blade dan Rarendra. Ini bukan pinang dibelah lagi, tapi kloning.” 

__ADS_1


Shanuella menerawang, bibirnya mengerucut. Sesekali, tampak bola matanya mengedar ke sekeliling. Siang itu, suasana restoran lumayan sepi. Tempat seeksklusif ini tentunya bukan diperuntukkan bagi pekerja biasa. Para pengunjung yang jumlahnya terhitung jari tampak tampil dengan dandanan mahal dan bergengsi.


“Aku tidak mau pusing, aku percayakan hidupku pada Tuhan saja. Manusia itu sumber masalah, Tuhanlah pemilik segala jalan keluarnya.”  Shanuella mencoba menghempas resah dan fokus pada tujuan awalnya. “Kenapa lama sekali?” 


Mata bening Shanuella menyapu seisi restoran yang tak terlalu luas, tetapi terbilang nyaman. Ruangan tertutup yang didesain mewah itu sanggup memanjakan mata dengan interior-nya yang wah.


Di tengah penantian, suara langkah kaki mengusik perhatian. Berbalik untuk memastikan, Shanuella mendapati Rarendra melambaikan tangan menyapa sembari berjalan mendekat. Kedua sudut bibir pria itu tertarik ke atas, melengkung bak bulan sabit sempurna.


“Tidak apa-apa, Pak.” 


“Kenapa tidak pesan makanan? Mau pesan apa?” Rarendra diam-diam mengamati penampakan Shanuella yang menggetarkan hatinya kembali.


“Apa saja, Pak.” 

__ADS_1


Memasang wajah serius, Shanuella memang fokus pada tujuan pertemuan mereka yaitu membahas pekerjaan, bukan makan siang bersama. Tidak ada niat sedikit pun membuka buku menu yang tersedia di atas meja.


Lambaian tangan Rarendra memanggil pelayan sempat mencuri perhatian, Shanuella terpaku. Sosok tampan di hadapan begitu familier, semua gerak-geriknya mengingatkan pada pria pecundang yang hanya berani menitip benih, tetapi tak bernyali.


“Aku yang pesankan, ya?” tawar Rarendra, menggulung lengan kemeja sembari menatap buku menu. “Ayam goreng kalasan,” lanjut pria tersebut pada pelayan di sebelahnya.


Pemuda bersetelan hitam dengan celemek senada menuliskan pesanan. 


“Apalagi, Pak?” Pena masih menyelip di sela telunjuk dan jari tengah, siap menoreh di kertas putih.


Rarendra mengangkat pandangan, menatap Shanuella sembari mengulum senyuman. Kekaguman hadir dalam diamnya, menikmati paras ayu yang jauh lebih dewasa, cantik, dan mendekati sempurna untuk seorang wanita.


Bagaimana dulu aku bisa menyia-nyiakannya? Dia adalah gadis yang manis dan menarik. Beruntung kesadaranku hadir di detik-detik terakhir. Kalau tidak, Shanuella akan tamat di ujung senjataku. 

__ADS_1


__ADS_2