My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Terlalu Baik


__ADS_3

Suara lift berbunyi menandakan lift telah mengantarkan penumpang sampai pada tujuan. Lana dan dua bodyguardnya keluar disusul oleh Juan dibelakangnya.


brug.


Juan tak sengaja menabrak salah satu bodyguard Lana.


"Ma'af tidak sengaja, kesandung saya tadi." sambil membetulkan tali sepatunya yang kurang rapi.


"Jalan liat-liat, mas. Ini badan bukan matras." tegas pak Bram.


Lana mempunyai dua bodyguard yang satu pak Bram dan satunya lagi pak Sam. Bodyguard ini terpilih oleh kakeknya sendiri. Pak Sam umurnya jauh lebih tua daripada pak Bram.


Lana yang melihat pak Bram yang memerhatikan Juan dengan tatapan dingin langsung berusaha mencoba mengalihkan perhatiannya.


Lana menepuk bahu pak Bram. "Ayo jalan, kita antar mas ini ke tempat tujuannya dengan selamat yaa, bapak-bapak."


Kedua bodyguardnya menurut begitu saja bagai anak kucing yang diberi mainan oleh majikannya. Juan pun yang tadinya gugup akibat bodyguardnya langsung bangkit berdiri dan mengekor dibelakang mereka.


Sampailah mereka ke tempat ruang evaluasi bagi pegawai baru. Lana pun menyuruh Juan untuk masuk. Namun sesaat beberapa menit kemudian Lana juga masuk kedalam ruangan evaluasi itu. Juan dibuat kaget karena ia ternyata sedari tadi bersama CEO perusahaannya.


Dengan mata terbelalak tak percaya. "Lah bodoh banget aku, masak sedari tadi tidak sadar kalau dia itu CEO. Mana pakai telat segala minta tolong nyari ruangan." Gusar Juan penuh kepanikan.


Lana berjalan menuju ke tengah ruangan. Dan berhenti.


"Baik, halo. Selamat siang semuanya."


"Selamat siang, Bu." gemuruh suara seluruh pegawai didalam ruangan evaluasi.


"Saya selaku CEO perusahaan grup Arga akan menjadi panitia evaluasi para pegawai baru yang tujuannya untuk mengetahui seberapa pantaskah kalian menjadi anggota grup Arga. Tanpa basa basi sesi selanjutnya akan disampaikan oleh panitia lainnya yang bertanggung jawab." tegas Lana dengan wajah datarnya. Menjadi profesional adalah jalan ninja Lana agar disegani orang banyak.


Lana dengan mata elangnya melirik Juan, yang mana ia terpilih sebagai kandidat yang tidak lolos menurutnya karena kelalaiannya dalam masuk kantor.


Ujian evaluasi berlangsung dengan lancar dan tertib tanpa kendala. Sesi terakhir pun menjadi penentu sukses atau tidaknya pegawai melewati tes evaluasi dengan sempurna.

__ADS_1


Salah seorang panitia berjalan menuju microphone dan mengambilnya. "Baik, mbak dan mas sekalian. Kalian telah berada di tes terakhir sekarang, tolong di tes terakhir ini jangan anggap remeh dan kerjakan sungguh-sungguh. Kami akan membagikan beberapa lembar kertas kepada kalian, lalu ketik dengan tata bahasa dan struktur bahasa yang benar. Kami akan menyediakan waktu 30 menit untuk menyelesaikan misi ini. Sekarang nyalakan komputer didepan kalian terlebih dahulu." Panitia berhenti berbicara menunggu para pegawai menyalakan komputer mereka.


Lana terduduk di pojok ruangan sambil mengawasi semua pegawainya, terlebih lagi dia juga mengawasi Juan yang ternyata dia itu diluar dugaannya.


"Ternyata dia itu sigap dan cepat menyelesaikan semua misi yang diberikan tanpa ba bi bu bertanya kepada kawan sampingnya. Perlu di acungi jempol." Batin Lana dengan tersenyum sinis.


"Baik, saya kira sudah cukup waktu yang diberikan untuk menyalakan komputernya. Dalam hitungan ketiga saya akan menyalakan pengatur waktu selama 30 menit. Kerjakan secara cepat dan fokus. 1...2...3..."


Prittttt....


Peluit berbunyi menandakan misi telah dimulai.


"Nona, apakah ada pegawai yang menganggu kenyamanan Anda disini?" tanya panitia yang seperti sedari tadi memperhatikan Lana.


Lana memainkan bolpoinnya. "Ha ha, tenang saja sepertinya ada. Namun, aku tertarik dengannya."


"Apakah saya boleh tahu orang tersebut nona?" tanyanya penuh tanda tanya dengan wajahnya mendekat dengan wajah Lana.


Lana menghindar dari tatapan wajah panitia tersebut dan langsung berdiri dari tempat duduknya. "Tidak perlu tahu, aku yang akan mengurusnya entah dia lolos atau tidak."


Waktu terus berlalu, para pegawai baru sibuk dengan urusan masing-masing mereka dengan teliti dan cepatnya mengetik dilayar komputernya. Para panitia dibuat sibuk dengan mengawasi mereka sambil berkeliling agar tidak ada tindak kecurangan apapun didalam misi ini. Setelah dirasa semua cukup terkendali semua panitia keluar dari ruangan agar tidak menganggu konsentrasi para pegawai karena didalam ruangan sudah ada cctv jadi, tidak perlu khawatir dan tetap bisa mengawasi dari luar.


Hingga tiba-tiba salah seorang pegawai merasa ada kesalahan dalam komputer yang dipakainya.


Sambil memencet keyboard. "ni kenapa kok eror nggak bisa muncul ketikan di layar monitor. Loh loh sekarang kok mati komputernya. Lah ini gimana nasibku." keluh seorang pegawai laki-laki.


Juan yang posisinya tepat disampingnya merasa khawatir akan nasibnya yang bisa saja tidak lolos tes ini kalau tidak dapat menyelesaikan misi ini. Saat mata Juan menatap kearah pegawai yang sedang kesusahan itu, pegawai itu langsung merasa bahwa Juan bisa membantunya karena hanya dia yang menatap dan merasa dikhawatirkannya. Juan langsung mengalihkan pandangannya karena ia tahu dirinya akan dimintai pertolongan padahal misinya saja belum selesai betul.


Pegawai itu berdiri dan berjalan menuju Juan."Mas, tolong saya mas. Kalau saya tidak lolos misi ini, bagaimana mas. Tolong bantu saya, mas."


Sambil terus mengetik. "Haduh mas, ini misi saya saja belum selesai mana mungkin saya bantu mas membetulkan komputernya. Membetulkan komputer perlu waktu, menyelesaikan misi ini juga perlu waktu, mas. Kalau tidak terbatas waktunya mah saya bantuin kok membetulkan komputernya."


"Terus bagaimana nasib saya, mas. Saya harus gimana ini." keluhnya sambil menatap komputernya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau minta keringanan dari panitia saja. Bilang sejujurnya kepada panitia, apa yang terjadi dengan komputermu." saran Juan.


Pegawai itu mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Juan. Dia berjalan menuju pintu keluar yang mana di luar telah berdiri panitia yang bertugas lalu menjelaskan keadaan yang terjadi padanya.


Pegawai itu masuk kembali dengan wajah murungnya. Dan kembali duduk ditempatnya. Juan memperhatikannya dengan seksama dan merasa bahwa ekspektasinya tidak berjalan dengan apa yang diharapkan.


"Hey, apakah panitia memberikan kelonggaran." tanya Juan dengan lirih.


Menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Tidak, kata mereka evaluasi ini hanya hari ini selain itu, tidak ada komputer lagi karena telah terpakai semua. Mereka bilang mungkin takdirku saja yang tidak baik."


Juan tahu pegawai itu kesal kepada jawaban panitia namun, dia tidak berani bersuara. Sehingga Juan yang tadinya tidak ingin membantu selain memberikan saran sekarang ia ingin membantu karena merasa pegawai itu tidak diberikan hak yang adil.


Juanmenyeret kursi pegawai itu kesampingnya.


"Eh apa yang kau lakukan."


Semua mata teralihkan oleh suara kursi yang diseret lalu semua kembali fokus pada layar monitor masing-masing.


"Dengarkan aku, selama masih bisa usaha tidak ada yang namanya waktu yang sia-sia gunakan kesempatan selagi ada. Boleh aku lihat kertasmu." Sambil menengadahkan tangan kepada pegawai itu.


Pegawai itu langsung memberikan kertasnya. Juan menerima kertas itu dan langsung membaca kertasnya dengan teliti.


"Sama kalimatnya namun, beda pertanyaan. Kau tulis jawaban pertanyaanmu dikertas dulu. Aku akan selesaikan mengetik seluruh kalimatnya. Lalu setelah itu aku akan menjawab pertanyaanku dan nanti kau copy paste kalimatnya dan ketik jawabanmu. Bagiamana apakah ini akan berhasil sebelum 30 menit?" harap Juan.


"Kupikir akan berhasil bagaimana kalau kita membagi pekerjaan, maksudku aku juga akan mengetik kalimatnya. Dan kau tahu aku ahli dalam mengetik cepat. Bagaimana?"


"Ide bagus, mari kita selesaikan dengan cepat." seru Juan menyemangati.


Tiba-tiba pegawai itu mengatakan "Terima kasih."


"Santai saja anggap saja kita sudah berkawan sekarang." jawab Juan santai sambil terus mengetik.


Mereka berdua mengerjakan tugas masing-masing tanpa tahu ada orang yang mengawasi setiap gerak gerik mereka.

__ADS_1


"Dasar terlalu baik" batin Lana.


__ADS_2