My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 35


__ADS_3

Mobil sedan berhenti di sebuah pelataran parkir gedung perkantoran. Kedua pintu masih tertutup rapat, tak ada seorang pun yang melangkah turun, baik dari pintu sisi sopir maupun penumpang.


“Mas, aku berangkat kerja dulu.” Shanuella mendongakkan kepala, memandang gedung perkantoran tempatnya bekerja.


“Hmm.” Bayu tersenyum dan menatap lekat wanita cantik yang mulai berubah menjadi dewasa itu. Menikahi Shanuella saat masih seorang gadis remaja, banyak perubahan dirasakannya. Kemanjaan yang selalu hadir di awal pernikahan, perlahan menguap seiring waktu berjalan.


Sebelum istrinya benar-benar turun dari mobil, Bayu tiba-tiba menyodorkan tangannya dan tersenyum usil.


“Mas.” Shanuella bingung. Ditatapnya tangan pria yang tengah menggantung di udara tersebut.


“Ayo.” Bayu mengulum senyuman sembari mengayunkan tangannya. “Aku suamimu, Shan.” Pria itu kembali bersuara.


“Mau apa?” Shanuella mendelik. Tiba-tiba suaminya bersikap aneh. Entah apa yang diinginkan Bayu dengan menyodorkan tangan padanya.


“Cium tanganlah. Seperti di sinetron-sinetron.” Bayu menambahi.

__ADS_1


Shanuella terbelalak.


“Aku tidak mau, Mas. Apa ini?” Pandangan tertuju pada tangan Bayu yang menggantung di depan matanya.


“Biasakan dirimu. Nanti, lama-lama akan terbiasa, Shan.” Senyuman terkulum itu membuat Bayu terlihat jauh lebih manis. Apalagi sorot mata menggoda yang melirik istrinya dari ujung mata, sanggup membuat lawan bicaranya jatuh bangun.


“Aku tidak mau.” Shanuella menolak dengan ketus.


“Shan?” Bayu tersenyum simpul, menatap lekat-lekat ke arah istrinya. “Kamu butuh restuku,” ujarnya, menjelaskan.


Shanuella masih bersikeras dengan angkuhnya. Membantah ucapan Bayu adalah salah satu hobinya saat ini.


“Ayo menurut, Shan.” Bayu sudah ingin terkikik saat melihat wajah cemberut Shanuella.


“Payah.” Wanita itu menyambar tangan suaminya dan mencium punggung tangan sesuai instruksi. Dilakukan dengan terpaksa, bahkan dia menggerutu.

__ADS_1


Tepat saat bibirnya menyentuh punggung tangan Bayu, hatinya berdesir. Perasaan kesal mendadak hilang saat pucuk kepala dikecup dengan penuh kelembutan. Rentetan kata penuh doa pun dibisikan pelan.


“Jangan marah lagi. Kamu tampak jauh lebih cantik dengan tersenyum. Semoga harimu menyenangkan, semua pekerjaan pun dimudahkan. Aku akan menjemputmu nanti. Kabari aku, Shan.” Bayu menyudahi ucapannya dengan mengecup kening istrinya dengan penuh kehangatan.


Pandangan terangkat, Shanuella tercengang. Kata-kata Bayu seakan jadi penyemangat di tengah perasaannya yang gersang. Memberanikan diri beradu tatap, ada sesuatu yang dibagi pria itu lewat tatapan.


Kenyamanan, kehangatan, dan rasa sayang yang mungkin tak didapatkan selama ini dari orang lain. Mata Shanuella berkedip penuh haru, tiba-tiba ada dorongan dari dalam hati yang memintanya menangis.


“Sudah. Nanti kamu terlambat. Tidak perlu menangis. Aku butuh tawamu, bukan air matamu. Itu sudah cukup untuk mengganti lelahku. Nanti, aku jemput.” Bayu membuka pintu mobil dan bergegas turun. Mengitari kendaraan itu, dia segera membukakan pintu di sisi Shanuella dan mempersilakan istrinya turun.


“Terima kasih, Mas. Aku pulang mungkin sedikit terlambat. Atasanku tadi mengirim pesan. Katanya, ada proyek mendadak. Renovasi rumah tinggal dan aku diminta untuk meninjau ke lokasi,” jelas Shanuella panjang lebar.


“Ya sudah. Kabari aku kapan pun. Aku sengaja minta pulang cepat hari ini. Aku ingin mengajakmu dan Lana makan di luar.” Bayu menjelaskan. “Sudah lama kita tidak makan di luar, Shan. Mbok Sari dan Lana pasti bersemangat. Mengenai Mommy, kita atur ulang jadwalnya. Kita akan pergi bersama.”


Tak ada jawaban, Shanuella sudah berlari meninggalkan Bayu tanpa berkomentar. Selalu begitu, sejak pertama menikah kehidupan keduanya bak orang asing yang terkurung bersama.

__ADS_1


“Dia tetap tak mau memandangku sama sekali.” Tatapan Bayu mendadak sendu. Selapis kesedihan itu menghiasi mata hitamnya yang terus mengawas pergerakan sang istri hingga menghilang dari pandangan.


__ADS_2