
“Yakin?” Rarendra memastikan sebelum berbalik badan.
“Yakin.” Shanuella mengangguk. Tidak mungkin membahas masa lalunya pada orang yang tidak dikenal baik. Walau tanya itu sudah di ujung bibir, tetap saja dia tak mau mengungkapkannya. Mereka baru mengenal dan itu pun sebatas klien perusahaan.
Masih berusaha membuntuti langkah Rarendra, Shanuella terpaksa berhenti tatkala ponsel di dalam tas tangannya berdering. Terpaku di tengah lobi, dia terkesiap ketika mendapati Bayu yang menghubunginya.
“Mas Bayu? Mau apa dia?” Wanita itu bermonolog.
Mengusap layar dengan ujung jemari, Shanuella buru-buru menempelkan gawai pipih itu di telinga. Belum juga dia menyapa, suara dari seberang sudah menyerobot lebih dulu.
“Shan, kamu masih di kantor atau sedang di luar?”
“Kenapa, Mas?”
“Kamu di kantor atau di mana?” Bayu melayangkan tanya yang sama.
“Aku di lobi. Kenapa?” Tak sengaja, tatapannya beradu dengan Rarendra yang berhenti menungguinya beberapa langkah di depan.
“Keluar sebentar. Aku ada di pelataran parkir.” Bayu memerintah.
__ADS_1
“Loh? Bukannya Mas kerja?” Shanuella mengernyit.
“Kerja. Tapi, aku mampir memastikan istriku baik-baik saja. Keluar sebentar, temui aku. Setelah melihat senyummu, baru aku ke kantor.”
Shanuella tercengang. Bayu memberinya kejutan yang tak terduga. “Mas, yang benar saja?”
“Ya, benar. Ayo, temui aku sebentar. Aku ingin menawarkan pundakku untukmu.” Bayu menjelaskan maksud kedatangannya.
Terdiam beberapa saat, Shanuella mengamati Rarendra yang berdiri dari kejauhan.
“Tunggu sebentar, Mas. Tapi, aku tidak bisa lama-lama.”
Berpamitan pada Rarendra, Shanuella bergegas menuju ke area parkir. Mobil Bayu tampak terparkir di antara kendaraan-kendaraan para tamu dan karyawan. Dia sangat mengenali kereta besi yang selama ini setia menemaninya dalam suka dan suka seperti empunya.
...🍂🍂🍂...
“Mas.” Shanuella membuka pintu mobil sisi penumpang dan menjatuhkan bokongnya di sana. “Ada apa mencariku?” tanyanya lagi sembari memandang pria yang sedang duduk di balik kemudi.
Bayu tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum simpul sembari melepas sabuk yang mengamankan tubuhnya setiap berkendara. Memandang lekat-lekat wanita di sebelahnya, tiba-tiba dia menyeberangkan tubuh ke kursi sebelah. Didekapnya erat Shanuella yang mematung bingung.
__ADS_1
“Mas?” Shanuella membeku. Kedua tangan terkulai, tak membalas pelukan.
“Jangan menangis lagi kalau aku tidak ada di sampingmu. Siapa yang akan menghapus air matamu? Siapa yang akan meminjamkan bahunya untuk kau basahi dengan air mata.” Bayu terkekeh ringan.
“Mas ....” Shanuella terharu, merebah di pundak Bayu.
“Jangan menangis, Shan. Aku tidak tenang mendengarmu menangis, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.” Bayu mengusap lembut punggung istrinya.
Air mata yang sudah kering sejak tadi tumpah kembali. Shanuella terharu akan perhatian kecil Bayu yang sampai rela mendatanginya di perusahaan hanya untuk sebuah pelukan. Selama ini dia bisa melihat pengorbanan Bayu, tetapi hatinya masih membeku.
“Shan.”
Denting pesan masuk mengusik obrolan keduanya. Sembari mendekap, Bayu merogoh saku celana untuk memastikan siapa yang telah mengiriminya rangkaian kata.
“Bay, nanti tolong jemput aku di rumah Bos kita yang lama. Aku ingin menikmati kebersamaan dengannya. Aku merindukannya.”
Rangkaian pesan masuk di aplikasi obrolan dengan logo telepon berwarna hijau membuat Bayu terbelalak.
Jangan katakan dia mengetahui sesuatu. Apa selama ini dia sudah mengetahui tentang aku dan Shan-Shan.
__ADS_1