My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Extra chapter 1


__ADS_3

“Rendra.” Bibir tipis dipoles lipstik merah menyala itu tampak mengumbar senyuman sinis. “Aku yakin kamu tak akan mampu menolakku lagi.” 


Wanita cantik berkacamata hitam itu menatap kagum bangunan mewah dua setengah lantai yang masih berantakan di bagian depannya. Sisa material menggunung di sisi kiri halaman, ditumpuk asal bersama peralatan tukang yang diletakkan asal-asalan. Terlihat dua orang pekerja keluar masuk dari pintu utama yang menganga.


“Sudah hampir selesai. Harusnya dia menghancurkan bangunan ini. Kenapa mempercantiknya?” Kerut berlapis di dahi wanita berpenampilan modis itu jelas menunjukkan penasarannya. 


Terik menyengat kulit. Sosok cantik bertubuh ramping dengan bentuk gitar Spanyol tanpa dawai itu terlihat mengibaskan rambut panjangnya yang dicat warna jerami kering. Beberapa saat mematung memandang kagum istana di hadapannya, dia melangkah maju tanpa ragu.


Rarendra Tanuwijaya. Nama itu dikumandangkan dalam hati berulang-ulang seiring langkah kaki berbalut high heels tujuh senti. Berlenggak-lenggok bak peragawati, wanita itu berjalan anggun menuju ke hunian yang sejak tadi jadi perhatian.


“Rendra, tunggu aku. Aku pastikan kamu tak mampu menolakku lagi. Aku ... pastikan.”


...🍂🍂🍂...


“Shan, sopir sudah on the way ke tempatmu.” 


Rarendra bicara dengan calon istrinya melalui sambungan telepon dalam perjalanan menuju ke kediaman mereka yang akan dihuni setelah menikah. Dia baru saja selesai rapat penting dengan koleganya dan bermaksud bertemu dengan Shanuella di sana.


“Ya, Ko.” Shanuella mengapit ponsel di antara telinga dan pundak sembari merapikan helaian rambutnya yang masih berantakan. “Koko sudah sampai di mana?”


“Masih di jalan. Tidak perlu buru-buru, aku bisa menunggu.” Rarendra tak mau sampai Shanuella merasa diburu waktu karena ingin segera bertemu. “Aku sudah tidak ada jadwal lagi. Paling hanya bertarung dengan macetnya ibu kota.”

__ADS_1


“Hmm.” Shanuella sudah berganti posisi. Satu tangan menggenggam gawai dan menempelkannya di telinga, tangan yang lain mulai merapikan rambut dengan sisir hitam. 


“Jangan lupa jemput Lana.” Rarendra mengingatkan. “Aku mau mampir ke toko boneka di depan. Mau membelikan anak itu hadiah.” Penjelasan itu terdengar penuh kegembiraan, jelas empunya tengah berbahagia.


“Tidak perlu, Ko. Boneka Lana  itu sudah selemari penuh. Aku juga bingung mau menyimpan di mana. Baju-bajuku sampai harus mengalah.” Shanuella melayangkan protes.


Rarendra tergelak. Suara semringah itu menunjukkan kebanggaan dirinya setelah berhasil memenuhi mau sang putri yang selama bertahun-tahun harus hidup dalam kekurangan. Dendam masa lalu telah menjebak mereka ke dalam pusaran hidup bak labirin. Rumit, sekaligus menguras air mata dan perasaan.


Terkadang, lelah memaksa keduanya memilih putus asa. Akan tetapi, satu nama membuat Rarendra dan Shanuella bangkit kembali dan berjuang untuk tetap tegar. Kelana Tanuwijaya, gadis kecil yang mengubah hidup keduanya, memaksa jiwa-jiwa lemah agar tetap kuat menghadapi dunia.


“Tidak apa-apa. Kamar Lana yang baru itu sangat luas. Lemarinya tinggi dan aku yakin ... sampai remaja pun belum tentu terisi penuh.” Menjeda ucapannya sejenak, pria tampan itu menghela napas pelan. “Kalau baju-bajumu ... jangan khawatir. Aku sudah meminta sekretaris menyiapkan pakaian baru untukmu. Lemari di kamar tidur kita itu berukuran raksasa, kamu jangan khawatir tak ada tempat menyimpannya.” 


Terdiam, Shanuella mematung di tempat. Terbayang kisah kelamnya bersama Rarendra yang sampai sekarang masih berusaha diterima dengan lapang dada. Terlalu menyakitkan, tetapi itulah sebuah kenyataan. Jatuh cinta pada pria yang salah, memaksa wanita itu tenggelam dalam bayang-bayang kelam. 


Hatinya bukan lagi sakit, tetapi luka itu terlampau dalam dan membuatnya  karam dalam penyesalan. Cinta pertamanya pada sosok Blade yang tak lain adalah Rarendra membuat wanita itu menangis tanpa air mata. Ingin pergi dari dunia dan tak mau hidup lagi andai tidak ingat masih memiliki Kelana.


“Shan.” Suara maskulin itu menyeret Shanuella keluar dari lamunan. 


“Ya, Ko.” Wanita cantik itu menjawab lirih. 


“Hati-hati di jalan. Aku sudah sampai ke toko bonekanya. Nanti kita sambung lagi. Love you, Shan,” ujar Rarendra, memutuskan panggilan.

__ADS_1


Shanuella bergeming. Perlahan, genggaman gawai yang tadi menempel di telinga bergerak turun dan terkulai tak bertenaga di sisi tubuh.


...🍂🍂🍂...


Menggenggam gadis kecilnya, Shanuella bisa tersenyum bahagia. Sejenak, dilupakan semua masa lalu yang sempat mengaduk-aduk perasaan. Jangan ditanya bagaimana rasanya kembali ke pelukan Rarendra, dia sendiri masih meraba-raba hatinya sendiri.


“Ma, inyi yumah Daddy?” tanya Lana, memandang kagum bangunan bertingkat di depannya. Turun dari mobil, dia berdecap dengan kepala menengadah. Gaya bak orang dewasa, terkadang sikap Lana mampu memancing gelak tawa.


“Ya, Sayang. Nanti kita tinggal di sini.” Kesedihan yang sempat mampir sirna seketika saat senyum bahagia gadis kecilnya terpampang nyata di depan mata.


“Daddy yuga?” tanya Lana dengan nada menggemaskan. “Yanya mau kamal besal, teyus banyak oneka.” Kedua tangan gadis kecil itu membentang lebar, meloloskan diri dari genggaman mamanya.


Shanuella mengangguk. Mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah, senyumannya semakin mengembang ketika mendapati mobil Rarendra sudah terparkir rapi di bawah pohon akasia.


“Kita masuk sekarang.” Shanuella memandang ke arah pintu utama yang tertutup rapat. Tak tampak seorang pun, baik Rarendra maupun pekerja. “Ke mana? Bukannya Koko bilang ada yang kerja? Apa pada makan siang?” 


Melangkah bersama sang putri, Shanuella menuntun gadis kecilnya menuju ke pintu rumah. Dia sudah tak sabar mendapati wajah bahagia Lana ketika mendapati banyak kejutan di dalamnya.


Namun, kejutan bukan hanya untuk Lana. Tepat saat Shanuella hendak mendorong pintu utama berdaun dua yang ternyata tidak dikunci, dia dibuat terkesiap dengan membelahnya akses masuk ke dalam rumah tersebut. Seakan tak puas mengerjainya, ibu dari gadis cadel itu kembali dibuat berhenti bernapas saat sosok cantik mengenakan bathrobe seksi muncul dengan penampilan basah.


“Kamu ... kamu ....” Dunia Shanuella beku seketika, tubuh lemas tak bertenaga. Dia masih mengenali wanita cantik di hadapannya. Walau tak sesederhana dulu, senyuman itu masih sama seperti lima tahun lalu. “Kath?”

__ADS_1


__ADS_2