
“Mas, Pak Rendra menyelamatkanku dan kini dia terluka. Harusnya, aku yang terluka di dalam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya, Mas?”
“Tenang saja. Pasti semua baik-baik saja.” Bayu menggigit bibir. Perasaan mendadak getir. Dilanda kerisauan, ada ketakutan serupa yang dirasakannya.
“Shan, share loc. Aku akan mencarimu begitu tiba di Jakarta. Jangan panik. Percaya saja, Tuhan tahu yang terbaik.”
“Ya, Mas.”
“Sudah, jangan menangis. Pasti baik-baik saja. Kamu sudah makan?”
“Sudah, Mas.”
“Baguslah kalau sudah. Menjaga orang sakit itu butuh tenaga.”
Mengangguk tanpa suara, panggilan itu pun akhirnya terputus. Jangan ditanya bagaimana menggilanya Bayu begitu mengetahui keadaan yang sebenarnya. Berusaha untuk terlihat tenang, dia tak mau sampai terjadi sesuatu pada keluarga kecilnya.
...🍒🍒🍒...
Temaram menyerang ketika senja tersingkir. Senyap datang seiring sinar merah di ufuk barat tenggelam perlahan. Shanuella merebahkan punggungnya, menumpang di sandaran sofa. Meretas kerisauan yang bertakhta di hati sejak siang.
Kamar perawatan terasa sunyi, riak kehidupan tak tampak sama sekali. Satu-satunya yang nyata hanya keberadaan Shanuella yang tengah bertarung meredam kekawatiran.
__ADS_1
Rarendra mengalami luka luar dan dalam. Memar sekaligus beberapa tulang mengalami keretakan, dan butuh perawatan serius. Sejak tiba di rumah sakit, pria itu belum menunjukkan tanda-tanda siuman.
Berkutat dengan segala kemungkinan buruk, Shanuella terkejut ketika mendengar suara lirih memanggil dari arah brankar. Serak dan lemah, membisikan namanya terbata-bata.
“Shan ....”
“Pak, sudah siuman?” Bergegas mendekat, Shanuella lega ketika pria gagah yang ditungguinya sejak siang akhirnya terjaga.
“Shan?” Mata Rarendra setengah membuka, tangan berhias selang infus tampak bergetar dan terulur lemah.
“Ya, Pak. Aku di sini. Bagaimana rasanya?”
Meraih tangan Rarendra dan menggenggamnya lembut. Shanuella tersenyum.
“Bapak ... tadi tertimpa tiang besi di proyek.” Shanuella dihinggapi rasa bersalah. “Maaf, sudah membuat Pak Rendra ....”
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Rarendra bertanya di tengah kondisinya sendiri masih terluka.
“Aku baik-baik saja, Pak.” Shanuella menatap tangannya yang digenggam kencang.
“Syukurlah.” Suara Rarendra terdengar kian garang. Memaksa tersenyum, pria itu menyeringai kesakitan saat merasakan lengannya bergerak berlebihan.
__ADS_1
“Bapak ... butuh sesuatu?” Tanya itu menyiratkan kekhawatiran. Pandangan terus terarah pada pasien di atas brankar, meneliti setiap luka dengan saksama.
“Tidak. Aku baik-baik saja, Shan.”
Sorot mata Rarendra sedikit berbeda. Pria itu berubah sendu, memendam perasaan tertahan yang selama lima tahun terakhir menghuni hati terdalam.
“Shan.” Bibir kering Rarendra kembali menyapa. “Maafkan aku kalau selama ini telah membuatmu ....” Tatapan bertemu, keduanya menyelam dalam pikiran masing-masing. “Aku bersalah padamu di ....”
Pintu terbuka membuat Rarendra berhenti bicara. Mengalihkan pandangan ke arah suara. Tampak Bayu dengan wajah lelah dan penampilan berantakan sedang berjalan mendekat. Pria itu memaksa tersenyum dan menatap ke satu titik tak berkedip.
“Mas.” Shanuella bersuara. Pelan dan sedikit mendayu.
Bukan jawaban, Bayu tiba-tiba memeluk saat berhasil menggapai istrinya. Begitu erat memantik cemburu Rarendra yang tengah terbaring tak berdaya.
“Mas.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Hmm.” Anggukan pelan di sela pelukan membuat napas Shanuella tercekat.
Ada kenyamanan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Pundak Bayu sejak dulu selalu menenangkan. Tempatnya berlabuh dan menumpahkan keluh kesah. Sesaat, dia melupakan sosok ketiga yang diam-diam menyaksikan.
__ADS_1
Menahan gejolak di dada saat genggaman tangannya dan Shanuella terlepas, sesak tiba-tiba menyeruak dan memaksa Rarendra memejamkan mata. Dia tak mau terlalu lama menyaksikan, takut tak sanggup meredam serbuan cemburu.