My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 70


__ADS_3

“Aku baik-baik saja, Pak kalau yang ingin dibahas itu mengenai ….”


“Berminat masuk ke perusahaan?” tawar Rarendra. “Perusahaan yang dulu dibesarkan Daddy.”


Shanuella menggeleng.


“Aku tahu pasti berat. Dari memiliki segalanya hingga akhirnya … maaf … tak punya apa-apa. Kamu tidak menyelesaikan pendidikanmu?”


Kembali wanita cantik itu menggeleng. Mendadak sedih ketika diingatkan masa lalunya. Ada fase di mana takdir membuatnya tak berdaya. Ingin berteriak, tetapi tak akan ada yang mendengar. Ingin berontak, tetapi pada siapa. Yang bisa dilakukannya saat itu hanya pasrah dan menjalani semua dengan ikhlas. Dia beruntung memiliki Bayu dan Mbok Sari. Dua malaikat tak bersayap yang selalu disakitinya, terutama pria yang kini diakuinya sebagai suami.


“Aku baik-baik saja.” Shanuella berusaha untuk tak menunjukkan kelemahannya. 


“Bagaimana kehidupanmu? Aku minta maaf karena ikut andil ….”


Shanuella tersenyum pahit. “Ini bisnis, kan?”


Rarendra mengangguk.

__ADS_1


“Ya sudah, di dalam bisnis memang begitu, kan? Gagal, jatuh, bangkit, dan berjuang lagi. Sayangnya Daddy jatuh dan aku tidak diberi kesempatan berjuang.”


“Bagaimana kalau bergabung di perusahaanku. Bukan tak mungkin … kamu bisa melanjutkan pendidikanmu yang tertunda.”


Shanuella menggeleng. “Seseorang mengajarkanku untuk hidup tak bergantung pada belas kasih orang lain. Dan, aku percaya padanya. Dia yang menolongku saat tenggelam.”


“Aku minta maaf atas kesulitanmu di masa lalu.”


Shanuella menahan senyuman. “Aku baik-baik saja, Pak.”


Rarendra dilanda kebingungan. Jujur saja, selama ini dia tak banyak mencari tahu tentang Shanuella. Hal yang paling ingin dibuang dari ingatannya adalah sosok wanita tersebut. Sejak perpisahan di vila, ia menutup mata dan tidak mau mencari tahu sama sekali. Namun, Tuhan menghukumnya dengan cara menyakitkan. Semakin ingin dilupakan, dia dipaksa mengenang semuanya.


Bergegas bangkit Rarendra berpamitan. Obrolan singkatnya cukup berkesan. Dia berharap masih ada kesempatan untuk duduk berdua dan bercengkerama mengenai masa lalu dan masa depan. Merogoh ponsel dari saku celana, dia segera menghubungi Bayu. Rencananya berantakan karena pria tersebut.  


“Kamu di mana, Bay? Kenapa menghilang tiba-tiba?” Berjalan menuju ke arah kasir, Rarendra mencecar pengawalnya dengan pertanyaan. 


“Maaf, Bos. Aku izin pulang, putriku ….”

__ADS_1


“Izin lagi?” Rarendra menggenggam erat ponsel yang menempel di telinga, dia menahan kesal.


“Ya. Kunci mobilnya?”


“Aku meminta sopir menyusul ke restoran. Dia ada di parkiran, Bos”


Rarendra tak bisa berkata-kata, hanya mematikan ponsel sembari menahan kesal. Rencananya untuk membongkar kedok Bayu berantakan. Dia harus putar otak agar pria itu mengaku apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan, dia yakin kalau Shanuella pun tak tahu menahu masalah ini.


...🌿🌿🌿...


Shanuella menatap datar ke arah punggung Rarendra yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu masuk restoran. Dia dibuat bingung oleh pria dewasa yang seakan-akan ingin menjadi pahlawan kesiangan untuknya.


“Apa maksud pertanyaannya tadi?” Wanita itu mengerucutkan bibir, bola mata bergerak ke kiri dan kanan. “Apa dia dan Blade orang yang sama? Ah, aku sudah melupakan masalah ini, tapi kenapa dia bertanya-tanya masa lalu dan hal-hal pribadi. Aku jadi menduga-duga lagi.” Shanuella meraih sebotol air mineral yang masih utuh dan membukanya. Kerongkongan mendadak kering dan butuh dihujani dengan air dingin.


Kalau boleh jujur, tawaran pekerjaan itu cukup menggiurkan. Setidaknya, dia masih bisa melihat kerja keras Daddy yang bersusah payah membangun perusahaan. Ditambah kesempatan melanjutkan kuliahnya yang terbengkalai, hatinya mendadak lemah.


“Apa dia memang ….”

__ADS_1


Di tengah lamunan, Shanuella terkejut ketika ada sepasang tangan yang tiba-tiba berlabuh di pundaknya. Mulut ternganga, mata melebar sempurna.


“Shan ….” Suara maskulin menyapa bersama embusan napas di tengkuknya.


__ADS_2