My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 52


__ADS_3

“Mas.” Suara Shanuella bergetar menahan tangis. Bersembunyi di toilet, dia menumpahkan perasaan yang ditahannya sejak tadi. Satu-satunya tempat berkeluh kesah hanya Bayu, pria yang mengikat diri dengannya selama lima tahun terakhir.


“Menangis lagi? Kenapa, Shan?” Bayu baru saja mengantar Lana dan bersiap untuk berangkat kerja.


“Dia, Mas. Dia ... dia ada di sini.” Shanuella duduk di atas toilet yang cover-nya sengaja ditutup rapat.


“Blade?” Bayu mengucapkan nama laki-laki itu dengan emosi tingkat tinggi.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar isak yang kian kencang dan tak beraturan.


“Shan, kamu di mana? Aku jemput sekarang.” Suara Bayu terdengar prihatin.


“Aku ... aku ... di toilet, Mas.”


“Aku jemput sekarang, ya?” tawar Bayu lagi.


“Tidak perlu, Mas. Aku baik-baik saja.”


“Matikan ponselnya, kita video call.” Bayu khawatir.


Tak ada jawaban. Hanya suara tangis semakin kencang. Tak menunggu jawaban, Bayu mematikan panggilan dan menghubungi Shanuella melalui panggilan video.


Wajah basah, mata berair dan ujung hidung lancip Shanuella ikut memerah. Kecantikan wanita 24 tahun itu tak berkurang sedikit pun walau berurai air mata. Bayu tersenyum, memandang istri yang tengah menumpahkan beban melalui tangisan.


Lima belas menit berlalu, dia hanya menyaksikan Shanuella menangis pilu dari layar ponselnya. Pria itu hanya diam sembari menghitung titik-titik air yang turun membasahi pipi istrinya.

__ADS_1


“Sudah menangisnya?” tanya Bayu, memandang wajah sembab dengan latar belakang toilet.


Shanuella menggeleng.


“Kalau belum puas menangis, aku akan ke kantormu untuk meminjamkan bahuku. Ayo, hapus air matamu. Kenapa menangisinya?”


Wanita cantik di seberang panggilan tampak menarik napas bersamaan dengan cairan yang menyumbat di rongga hidung. Tampak menggemaskan dan membuat Bayu tergelak pelan.


“Mas mau ke mana?” tanya Shanuella dengan suara parau.


“Mau kerja. Kenapa? Mau memintaku bolos?”


Shanuella menggeleng.


“Aku matikan dulu, Mas.” Setelah menumpahkan isi hatinya, perasaan Shanuella sedikit membaik.


Kepala dengan rambut tergerai indah itu mengangguk.


“Tidak membutuhkanku lagi?”


Shanuella menggeleng.


“Jadi, aku dicampakkan?” Bayu memasang wajah bersedih yang benar-benar mewakili perasaannya.


“Mas, jangan bercanda lagi.”

__ADS_1


“Aku dan Lana menyayangimu, jadi jangan menangis lagi. Kami sedih kalau Mama menangis.” Ucapan Bayu menenangkan sekaligus mengingatkan Shanuella akan kenyataan yang tak bisa diabaikan.


“Ya, Mas.”


“Senyum kalau begitu, Shan.” Bayu menggigit bibir, dipandanginya paras ayu yang menggetarkan jiwanya. 


“Mas, sudah.” Shanuella tersipu.


“Ingat, Shan. Kamu istriku. Jangan pernah bermain api dengan siapa pun di luar sana. Mungkin hatimu belum tertuju padaku. Tidak masalah, tapi jangan menghancurkan kehormatanku.” Bayu menegaskan.


Shanuella menyimak.


“Shan, hidup itu tidak bisa ditebak. Apa pun bisa terjadi di luar sana. Aku ingin kamu tahu ... setiap orang punya masalah masing-masing, menangisi masalah yang berbeda-beda. Aku tak peduli siapa yang menjadi alasanmu menangis. Tapi, aku ingin menjadi alasanmu tersenyum. Aku ingin menjadi alasanmu tertawa. Aku ingin menjadi alasanmu berjuang. Aku ingin menjadi alasanmu ... jatuh cinta suatu saat nanti.” Potongan kalimat terakhir melemah dan lenyap ditelan keributan dari dalam ponsel Shanuella.


“Shan.” Suara gedoran di pintu toilet mengalihkan perhatian.


“Mas, aku matikan dulu, ya. Ada yang mencariku.” Shanuella memutuskan panggilan video dan buru-buru berdiri dari toilet duduk.


“Shan, Ibu Frolline mencarimu!” Gedoran di pintu toilet semakin kencang.


“Ya, sebentar.” Shanuella meneka tombol flush. Suara gemuruh air terdengar nyaring dari dalam kloset duduk putih tersebut. Mengatur napas sembari menepuk-nepuk pipi, dia tak mau semua orang mengetahui kalau dia sedang menangis.


...🍂🍂🍂...


“Shan, temani Pak Rarendra ke proyek. Ada beberapa hal yang ingin dijelaskannya padamu.” Frolline menurunkan perintahnya sesaat setelah Shanuella masuk ke dalam ruangan pimpinan perusahaan tersebut.

__ADS_1


Deg.


Tak sengaja, Shanuella melempar pandangan pada pria rupawan yang sedang menatapnya tak berkedip.


__ADS_2