My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Bab 59


__ADS_3

“Aku Endra, bukan Blade-mu.” Rarendra berkilah.  


Shanuella menggeleng. Sesaat, dia tersesat dalam dimensi asing. Ruang mengambang yang membuatnya bimbang. Perasaan berkelana mencari titik terang. Di mana benci dan cinta hanya sebatas garis remang-remang. Bahkan, dia mulai merasakannya sekarang. Degup dan debar datang menantang.


“Bagaimana kamu bisa tahu kisah Shanuella yang dulu? Aku yakin kamu Blade, kan?” Tebak dan tuduh terasa hampir serupa, wanita dengan rambut panjang tergerai itu bersikukuh.


“Ingat, aku hadir di masa lalumu walau mungkin kamu tak mengenalku. Aku kenal daddy-mu, aku kenal beberapa pengawal keluargamu yang sekarang ada beberapa mengabdi padaku.” Rarendra menjelaskan sebisanya. Tak mau sampai merasa membuat-buat alasan. “Mereka sering menceritakan majikannya yang manja dan ....”


“Aku tidak begitu!” ungkap Shanuella, ketus. Dia tak terima ketika ada yang menggosip di belakangnya. Buru-buru mengurai pelukannya, dia menjauh beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


“Sudah. Kalau tidak begitu, tidak masalah. Semua orang berhak menilai kita seperti apa, tapi kenyataan ... tentu kita yang paling tahu. Sama seperti penilaianku padamu saat ini, tidak terpengaruh oleh suara-suara sumbang di luar sana.”


Shanuella menatap lawan bicaranya dengan sikap angkuhnya. Diteliti dari atas sampai ke bawah, diamati sembari mencari jejak Blade di dalamnya. Tak tampak sama sekali, sosok rupawan di hadapannya memang jauh lebih wangi dan berkelas. 


“Kita mulai sekarang?” tawar Rarendra, mempersilakan.


Masuk ke dalam bangunan dengan sisa kegagahan yang tampak nyata, Shanuella membuang jauh-jauh bayangan Blade dan mencoba profesional. Ini bagian dari pekerjaan dan dia harus bisa membedakan mana yang boleh dan tak boleh dilakukan.


Deg.

__ADS_1


Shanuella tersentak. Bukan karena perubahan yang membuat pekerjaannya akan mengalami banyak perubahan, tetapi apa yang disampaikan Rarendra adalah bagian dari impiannya.


“Aku ingin memiliki walk in closet yang luas. Dengan lemari-lemari kaca berdiri gagah,” ungkapnya tanpa sadar. 


Pekerjaan Shanuella hanya untuk mengurus pengadaan pendingin di segala sudut ruangan, tak ada hubungan dengan desain interior maupun eksterior. 


“Bagus.” Shanuella berkomentar singkat, membayangkan apa yang dipaparkan Rarendra walau bukan bagian dari pekerjaannya. Dia bisa menikmati semua kemewahan dan keindahan yang tengah dicanangkan pria tersebut. Merasa sehati, itulah yang dirasakannya saat semua rencana dipapar dengan lancar.


Menatap lawan bicaranya, Rarendra memperhatikan mimik wajah wanita yang kini tampak jauh lebih dewasa dibandingkan lima tahun silam. Kemanjaan yang dulu mendominasi berganti kedewasaan. Gurat-gurat di wajah, kulit yang sedikit gelap seakan menunjukkan betapa hidup telah kejam dan berlaku tak adil.

__ADS_1


“Kamu hebat.” Ada kekaguman di dalam lantunan kata. Seutas senyum tipis hadir bersamaan dengan sepatah kalimat singkat berisi pujian. “Tidak semua orang bisa bertahan dan fight sepertimu, Shan. Aku memang tidak mengikuti perjalananmu. Tapi, melihatmu berdiri di sini dengan kepala tegak, aku tahu ... kamu luar biasa.”


Ucapan Rarendra mengingatkan Shanuella akan sosok gagah yang selama ini ada di belakangnya. Pria hebat yang setia menemani dan mengambil tanggung jawab akan dirinya dan Lana. Dia tersentuh, terbayang dukungan Bayu selama ini.


__ADS_2