
Menggeleng kasar, Rarendra menghempas jauh-jauh bayangan di mana dia membidik Shanuella setelah penyatuan indah mereka. Ada sesal yang disembunyikan dalam seringai getir. Ketika bibir sanggup berdusta, hati akan jujur dalam bersuara. Luka lama memang nyata, tetapi saat menyakiti gadis belia itu, hatinya pun ikut berdarah.
“Jus alpokat satu, jus jeruk dua. Em ... mi goreng seafood tanpa cumi. Em, dipakaikan saus tomat yang banyak. Aku pesan sate ayam, kepiting saus Padang, udang goreng tepung, cah sayuran Soto Betawi dan sop buntut ... dan ....” Suara Rarendra menghilang saat tatapan Shanuella penuh tanya dan terarah padanya.
“Bagaimana bisa memesan semua makanan kesukaanku? Tidak semua orang tahu aku tak menyukai cumi dan suka saus tomat yang banyak untuk mi goreng.”
“Apa lagi, Pak?” Pelayan restoran masih menunggu pesanan selanjutnya.
“Nasi puti untuk tiga orang dan air mineral.”
“Baik, saya ulangi, Pak.”
Rarendra tak lagi menyimak. Mengibaskan tangan, dia meminta pelayan itu segera pergi. Ada yang ingin dibicarakan dengan Shanuella, lebih dari sekadar pekerjaan.
Pelayan berbaju hitam berjalan pergi, Rarendra menegakkan duduk dan berdehem pelan. Jari-jari saling menyimpul di atas meja, menatap teduh ke arah lawan bicara.
__ADS_1
“Siapa kamu? Bagaimana bisa mengetahui banyak hal tentangku?” Shanuella kembali melempar tanya.
“Rarendra Tanuwijaya.” Kedua alis berayun, sudut bibir Rarendra memunculkan seringai tipis. “Kamu sudah tahu, kan?”
Shanuella mengangguk. “Bagaiamana bisa tahu banyak hal tentangku? Makanan dan cara penyajian itu sama seperti seleraku. Bahkan, cumi ....”
“Kebetulan selera kita sama. Aku rasa tidak ada hal yang spesial.” Rarendra masih mengelak.
“Aku tidak percaya.” Shanuella menggeleng lemah, meneliti pria di hadapannya. “Ada begitu banyak kebetulan yang tak masuk akal. Aku yakin ....”
“Kenapa memesan makanan begitu banyak?” Shanuella kembali melontar tanya.
“Bayu akan ikut bergabung bersama kita. Aku ingin mengenalkannya padamu. Ke depan, kalau ada masalah apa-apa, kamu bisa menghubunginya saat tidak bisa menghubungiku.”
Shanuella mengangguk dan bungkam. Tak mau berdebat, dia lebih mencintai perdamaian. Percuma tarik urat untuk sesuatu yang memang tidak menemukan titik temu. Menunggu pesanan datang, sungkan menyelimuti keduanya.
__ADS_1
Tidak ada percakapan lagi, Rarendra sibuk sendiri dengan ponsel. Pria itu berkirim pesan pada Bayu yang ditinggalnya di mobil sendirian. Jemari panjang menari di atas layar telepon genggam, ia mengirimkan titah pada pengawalnya agar ikut bergabung ke dalam restoran sembari membawa pesanan buket bunga.
“Bay, masuk ke dalam dan bergabung. Bawakan buket bungaku yang ketinggalan di mobil. Aku tunggu.”
Pesan dikirim Rarendra dengan smirk tercetak nyata. Sebentar lagi akan ada pertunjukan dan dia sudah tidak sabar untuk menyaksikan wajah-wajah terkejut di depan matanya.
Centang biru berjajar dua menandakan pesannya diterima. Disusul jawaban setuju yang dikirim singkat. Detik demi detik terasa lama sekali. Rarendra sudah tidak sabar menantikan puncak dari rencananya. Mengetahui Bayu yang selama ini orang kepercayaan sekaligus temannya terlibat dengan Shanuella, dadanya berdesir. Dia memang belum jelas akan kepastian hubungan keduanya. Namun, amarah dan cemburu itu bergemuruh di dadanya.
Pesanan minuman datang bersamaan dengan suara langkah kaki mendekat. Rarendra yang duduk membelakangi masih belum menyadari. Sibuk membagi-bagi jus jeruk dan alpokat di atas meja. Hingga suara maskulin menyapa, mengalihkan perhatian pria dan wanita tersebut.
“Pak, maaf ini buket bunga ....”
Shanuella mengangkat kepala. Wajahnya tampak datar, menatap lekat sosok gagah berpakaian hitam yang tengah menenteng buket mawar merah. Rarendra berbalik, kedua mata melotot mendapati pria yang telah menyapanya.
“Ini, Pak.”
__ADS_1