My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Extra Chapter 3


__ADS_3

"Mama pegi, Mama pegi, Dad.” 


Lana menangis kencang dengan kedua tangan terulur ke depan dalam gendongan Rarendra. Ditinggal pergi tanpa pesan, gadis kecil itu merasa kehilangan. 


“Sssttt, sudah. Ada Daddy.” Rarendra merebahkan gadis mungilnya di pundak sembari mendekap mesra. Kepala pria itu ikut terjatuh pelan di tubuh Lana, menenangkan tangis yang kian menjadi. Melangkah keluar gerbang, dia harus menyusul Shanuella yang sudah berlari lebih dulu dan membawa wanita itu kembali. Penjelasan adalah jawaban dari segala kesalahpahaman akibat ulah Kathy yang tiba-tiba hadir di tengah hubungan mereka tanpa pemberitahuan.


“Mama pegi, Dad.” Tangis Lana makin kencang ketika tak mendapati Shanuella dalam pandangan. “Mama pegi, Mama pegi.”


Kepala menegak, celingak-celinguk di pinggir jalan memastikan keberadaan sang mama.


“Mama tidak pergi, Nak. Kita cari Mama sampai ketemu. Jangan menangis lagi.” Rarendra berusaha meredam gejolak di hati sang putri. Diusapnya pelan punggung Lana, ditenangkan dengan penuh kelembutan.


Berjalan ke sana kemari di bawah terik sang surya, Rarendra akhirnya menyerah. Dia tak tega ketika putrinya pun harus ikut berpanas-panasan. Peluh bercucuran di sela isak yang mulai reda, pria itu melangkah masuk menuju kediamannya.


“Istirahat di kamar. Di luar panas, Sayang.”  Rarendra menyeka keringat dan air mata Lana, lalu tersenyum di tengah kepanikan yang disembunyikan diam-diam. Pria mana yang bisa duduk tenang setelah guncangan yang melandanya beberapa menit lalu. Hubungan yang tengah manis-manisnya diterpa tsunami dengan kehadiran Kathy yang tak tahu diri.


“Mama, Dad. Mama.” Isak Lana masih belum mau berhenti. Suara polos anak perempuan itu terdengar menyayat hati.

__ADS_1


Mendapati kenyataan Shanuella tak lagi bersamanya, Lana kembali mengamuk. Bayangan wanita itu pergi meninggalkannya memaksa lara datang kembali. 


“Sssttt, nanti kita cari Mama. Tapi, Lana ke kamar dulu. Di sana ada hadiah untuk Lana.” Rarendra membujuk di tengah alunan tangis putrinya yang semakin kencang.


“Yanya mau Mama. Mau Mama.”


“Sssttt, jangan menangis. Rarendra mengusap air mata yang menghambur keluar membasahi pipi Lana. Dibiarkan gadis kecil itu tenang dengan sendirinya. “Kita cari Mama dengan mobil.”  Pria itu berusaha meredam panik yang kini tengah menyerang keyakinannya.


Tepat sebelum masuk ke dalam rumah, Rarendra memanggil sopir yang dimintanya menjemput Shanuella dan Lana. Pria paruh baya yang tengah berjalan masuk dari luar dengan menggenggam segelas kopi itu tampak heran.


“Loh, bukannya tadi naik ojek yang di tikungan. Aku pikir Ibu sedang ada urusan mendadak, jadi tidak minta diantar,” sahut sopir Rarendra, menerangkan apa yang disaksikan dari warung kecil seberang jalan.


Dada Rarendra bak dihantam godam. Ngilu sampai ke dasar kalbu. Terbayang perjuangannya mendapat kepercayaan Shanuella akan berakhir sia-sia. 


“To ... tolong cari, Pak. Dia salah paham dan pergi begitu saja.” Perintah disampaikan buru-buru, Rarendra segera masuk ke dalam tanpa menjelaskan dan membiarkan sopirnya ternganga dalam kubangan tanya. 


Bingung, pria tua itu termenung. Ke mana dia harus mencari Shanuella yang pergi dengan ojek dan tak jelas keberadaannya. Memandang punggung Rarendra menghilang di balik pintu, dia hanya sanggup menyeruput sisa kopi hitam di tangannya sampai tandas, lantas membuang gelas plastik itu ke sembarang arah.

__ADS_1


...***...


“Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke sini?”


Setelah menitipkan putrinya ke kamar, Rarendra pun menginterogasi Kathy yang masih bertahan di ruang tamu. Pakaian wanita itu sudah berganti, tak lagi mengenakan bathrobe seperti beberapa saat lalu. Rambut basah pun mulai mengering dan berayun setiap empunya bergerak.


“Pintunya tidak dikunci. Kebetulan ... aku memang ada keperluan denganmu Rendra.” Kathy menanggapi tatapan sinis lawan bicaranya dengan senyuman manis. Wanita itu sudah terbiasa diperlakukan sadis, bahkan sikap dingin Rarendra acapkali membuatnya menangis.


“Kamu sengaja menciptakan salah paham ini, ‘kan?” Pandangan Rarendra turun perlahan, terkunci pada sebuah shopping bag yang teronggok di atas lantai dengan kimono handuk terurai berantakan. “Persiapanmu cukup matang juga ....” Raut bengis tercetak nyata pada wajah tampan Rarendra.


“Aku baru saja kembali ke tanah air, Ren. Begini penyambutanmu? Masih jetlag. Aku datang ke sini, pintu tidak terkunci. Panas, udara tropis menyengat. Aku pikir tidak ada salahnya menumpang mandi dan ....”


“Ada kebetulan yang begitu rapi?”


“Namanya garis hidup. Yang menulis juga bukan manusia. Begitu banyak hal-hal tak masuk akal jadi mungkin di tangan-Nya.” Kathy menjawab dengan licik.


“Tidak mungkin. Bagaimana kamu tahu aku di sini? Di saat aku dan Shan-Shan membuat janji bertemu. Jangan katakan kalau selama ini kamu memata-mataiku?”

__ADS_1


__ADS_2