
“Jangan marah-marah, Shan. Salah paham itu biasa. Namanya juga berumah tangga ....”
“Aku belum menikah dengannya,” potong Shanuella, tak terima.
Mengulum senyuman, perasaan Bayu sedikit lega. Sembari mencengkeram kemudi, dia melirik wanita yang melontarkan protes untuk menyanggah semua ucapannya. Cukup mendengar kalimat-kalimat singkat Shanuella, dia bisa menebak isi hati empunya.
“Ya, on the way. Sama saja, Tinggal menghitung hari, Shan.”
Bibir Shanuella kembali mengerucut.
“Lana itu menuruni sifatmu. Kalau ada sesuatu yang tidak disukai, bibir akan maju lebih dulu. Persis dengan bibirmu sekarang.”
“Mas, jangan menggodaku.” Tangan melipat di dada, raut Shanuella semakin asak kecut.
“Aku serius, Shan. Kamu menggemaskan kalau seperti sekarang. Jangan sering-sering melakukannya di depan Rendra. Aku tidak jamin kamu akan selamat. Bisa-bisa dilalap di tempat.” Tawa Bayu pecah bersamaan dengan protes Shanuella yang terdengar kencang, Suasana perlahan cair, seperti perasaan wanita yang sebentar lagi akan jadi pengantin yang juga pelan-pelan mulai membaik.
“Aku rindu ….”
“Jangan merindukan apa pun, Shan. Karena kamu sedang melangkah menuju masa depan. Merindukan masa lalu hanya akan membuatmu terjebak dan tidak bisa maju.” Bayu yang selalu bijak mengingatkan Shanuella.
Yang diajak bicara tampak menyimak.
“Jangan katakan belum move on. Sesungguhnya hidup itu pilihan, Shan. Kamu berhak memilih untuk merangkak, berjalan, berlari, bahkan mungkin berdiam di tempat. Move on atau tidak, bukan keadaan yang mengharuskan. Tapi, itu pilihan.” Bayu menggigit bibir di akhir kata. Bicara memang tak semudah menjalaninya. Seperti dia yang saat ini tengah menyembunyikan luka dari dunia dan berpura-pura baik-baik saja.
Terdiam, ucapan Bayu sanggup membuat Shanuella menolehkan kepala pada pria yang tengah serius mencengkeram kemudi. Wajah datar, dia tak mampu membaca apa pun dari sosok dewasa tersebut.
“Jalani hidupmu. Lakukan demi dirimu sendiri dan Lana. Aku pun sedang berjuang untuk move on darimu. Kita sama-sama berlomba melupakan masa lalu. Percayalah, siapa yang sanggup melakukannya lebih dulu, dialah yang akan merengkuh kebahagiaan sempurna.”
Rangkaian aksara itu beterbangan dan memenuhi benak Shanuella. Terdengar indah dan menjanjikan, tetapi dia sendiri tak yakin akan menemukan inti sari dari kalimat-kalimat tersebut di dunia nyata.
...***...
“Mas.”
Shanuella ragu saat melangkah masuk ke dalam hunian simpel terkesan mewah yang baru pertama dikunjunginya. Pandangan menyapu sekeliling, mengagumi interior di dalamnya. Penthouse dengan dominasi kaca itu memenuhi kebutuhan akan ruang dalam satu tempat yang cukup luas. Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan berikut dapur tampak bebas tanpa sekat.
__ADS_1
“Masuklah. Jangan ragu-ragu. Anggap rumahmu sendiri. Karena memang rumah suamimu.” Bayu tak terlihat canggung sama sekali. Melempar kunci mobil ke atas meja kaca di ruang tamu, lalu menyusul wanita tua yang membukakan pintu untuk mereka sewaktu masuk.
“Dia menggodaku terus.” Shanuella mencebik di balik punggung pria yang tengah bertanya pada asisten rumah.
“Bu, Rendra di mana?”
“Istirahat di kamar. Pulangnya dengan Non Lana.” Wanita itu menjelaskan sembari melirik Shanuella. “Ketuk saja pintunya. Paling sedang main-main dengan Non Lana di dalam.”
“Oh, ya sudah. Bu, buatkan kopi hitam, ya.” Bayu memerintah, lalu mengajak Shanuella menemui Rarendra.
Calon pengantin itu harus menyelesaikan masalah mereka dan dia tak mau dilibatkan. Sembari menuntun Shanuella, dibawanya wanita itu di depan pintu kamar Rarendra.
“Ketuk dan masuk ke dalam. Selesaikan masalah kalian baik-baik.”
Shanuella tertunduk. Kedua tangan saling bertaut menahan gugup.
“Ada putri kalian di dalam, dia tak mungkin macam-macam.”
“Tapi, Mas ....” Suara Shanuella mengambang. “Bagaimana bicaranya?”
Bayu tercengang, lalu tergelak pelan. “Gunakan bibirmu. Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui tentang hidupnya selama ini. Yang terpenting, beri ruang untuknya menjelaskan, beri ruang untuk dirimu mencerna semua penjelasannya. Bicarakan semua, berdua. Aku tidak mau terlibat, karena ini bukan musyawarah untuk mufakat. Aku lelah, mau menikmati kopi sejenak.”
Pria itu berharap apa yang terjadi pada hari ini akan menjadi masalah terakhir sebelum Shanuella melangkah ke gerbang pernikahan. Amanah yang dulu pernah dititipkan Sunjaya—sang daddy—sebelum mengembuskan napas terakhir.
...***...
Melangkah ragu, Shanuella membeku mendapati sosok gagah tengah berbaring telentang di atas ranjang dengan sebelah tangan bertekuk menutupi wajah. Di sebelah, terlihat Lana duduk bersila. Gadis kecil itu serius menonton video kartun di ponsel dengan suara tak terlalu kencang.
“Lan, kamu sedang apa?” Shanuella menyapa lembut. Tak mau sampai kelancangannya mengusik empunya kamar yang sedang beristirahat di atas tempat tidur.
“Mama!”
Lana memekik dan melompat di atas tempat tidur, sontak memaksa sepasang mata Shanuella membelalak.
“Sssttt, jangan lompat-lompat. Nanti, Daddy bangun.”
__ADS_1
Wanita muda itu menempelkan telunjuk di bibir. Bergegas menghampiri sang putri, Shanuella makin tercengang ketika mendapati ranjang yang berantakan. Uang kertas berserakan dan kartu-kartu penting milik Rarendra sudah berserakan dan keluar dari dompet penyimpanan.
“Lana, apa yang kamu lakukan, Nak. Nanti Daddy marah.” Menghempaskan bokong di bibir tempat tidur, Shanuella buru-buru merapikan apa yang sudah dihancurkan putrinya. “Jangan bongkar-bongkar barang Daddy, Nak. Di mana kamu mendapatkannya.”
Meraih dompet kulit hitam yang terbentang di atas ranjang, Shanuella menyelipkan kembali lembaran demi lembaran uang kertas ke dalamnya. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, wanita itu beralih pada beberapa kartu yang ikut terburai.
“Tuh, Yanya ambiy dayi syana, Ma.” Telunjuk mungil mengarah ke atas meja di samping tempat tidur.
“Jangan lakukan lagi. Bagaimana kalau barang penting Daddy hilang?”
Shanuella menyelipkan sebuah kartu asuransi berwarna hitam ke dalam dompet. Wanita itu baru akan menyimpan dua buah kartu kredit saat tak sengaja mendapati foto usang bersembunyi di balik sebuah kartu debit. Rasa penasaran yang bersarang memaksanya bersikap lancang, Dikeluarkan perlahan dan tercengang.
“I … ini ….” Pandangan Shanuella mengabur. Dia tak mampu berkata-kata saat mendapati foto lima tahun silam saat masih hidup bergelimang kebahagiaan bersama daddy-nya. Mengingat jelas di mana gambar dirinya diambil, hati wanita itu pun tergulung rindu.
Hidup tidak bisa ditebak. Dalam lima tahun, banyak hal yang terjadi. Gadis manis yang tengah berfoto berdua dengan sang ayah itu diambil tepat setelah ulang tahun perusahaan yang kini tinggal kenangan.
“Dad ....” Air mata tertahan, Shanuella tak mau mengingat luka itu lebih lama. Saat ini, dia sudah bahagia dengan Lana, setidaknya itu yang ingin ditunjukkannya pada dunia.
Di tengah gelombang yang menghantam perasaannya, Shanuella membeku ketika sepasang tangan tiba-tiba mendekap dari belakang. Diiringi kecupan manis di pipinya, disusul ucapan penuh penyesalan di ujung pendengaran.
“Shan, maafkan aku. Demi Tuhan, aku dan Kathy tidak ada hubungan apa-apa. Aku berani bersumpah ... atas nama putriku ....”
Tangan yang masih menggenggam selembar foto itu terkulai jatuh di atas pangkuan. Ucapan Bayu kembali beterbangan dalam benak Shanuella.
Berbalik, wanita itu mendapati sepasang mata yang dihinggapi penyesalan mendalam tengah memohon pengampunan. Rarendra melabuhkan kedua tangan di pundak Shanuella tanpa berkata-kata, kepala menunduk, dia seperti pesakitan yang sedang menunggu hukuman gantung.
Lama terdiam, Shanuella akhirnya bersuara pelan. “Aku memercayaimu, Koko.”
Kesedihan yang tengah menguasai mendadak lenyap. Binar nestapa berganti semburat bahagia. Tak peduli lagi dengan sosok Lana, Rarendra mengecup bibir Shanuella dengan perasan membuncah. Tak dibiarkan lagi sang calon istri melancarkan protes berlebih.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Berlama-lama mengecup bibir Shanuella, Rarendra tersentak ketika merasakan tangan mungil mencekik lehernya dari balik punggung.
“Daddy genyit!”
Memukul pundak Rarendra sebagai bentuk protes, Lana baru akan menaiki punggung pria itu ketika mendengar ketukan dari balik pintu.
__ADS_1
“Shan, aku pamit, ya.” Suara Bayu samar-samar terdengar dari luar.
“Papa?” Lana mematung, menajamkan pendengarannya. Tak lama berselang, gadis kecil itu melompat girang dan berteriak kencang. “PAPA!”