
Juan memandangi jalanan di kaca mobil yang ia sekarang kendarai bersama Lana disampingnya yang terdiam membisu memandang ke depan dengan tatapan kosongnya. Juan juga tidak berani bertanya atau sekedar mencairkan suasana karena sekarang wajah Lana yang menakutkan baginya.
Di bangku depan mobil ada pak Sam dan sopir yang juga terdiam sambil diam-diam mengamati Juan dan Lana. Namun lebih sering mengamati Lana yang terdiam sejak masuk ke mobil sampai ke perjalanan ke rumah.
Tak terasa sudah sampai di rumah Lana. Juan dengan wajah yang tidak bisa berbohong dia terpana dengan pemandangan dan ketatnya penjagaan di rumah Lana. Di gerbang terdapat 5 orang penjaga dengan senjata pula, setelah masuk gerbang pun masih ada 5 penjaga dengan senjata.
Rumah Lana dikelilingi pepohonan yang hijau dan rimbun di sekeliling pagar terdapat banyak bunga yang indah terutama mawar putih. Setelah melewati gerbang akan disambut dengan air mancur dimana kuda menjadi patung ditengah air mancur itu.
Juan masih mengamati indahnya pemandangan rumah Lana. Sampai dia tidak sadar untuk cepat turun dari mobil.
"Juan! ikuti aku." perintah Lana. Juan hanya mengangguk setuju saja daripada dia harus disana terus bersama pengawal yang seram-seram itu.
"LANAA!" panggil kakek dengan khawatir kepada cucunya itu.
"Kakek..." sahut Lana menghampiri sang kakek duduk di kursi goyang di ruang tv.
"Kamu tidak apa-apa kan, apa mereka menyakitimu cucuku?" mata kakek berair mengkhawatirkan keadaan cucunya yang telah menyaksikan kejadian ganas itu.
"Kakek Lana nggak apa-apa kok, mereka hanya ingin menitipkan surat ini." Lana menunjukkan surat itu kepada kakeknya.
"Apa mereka akan berulah lagi?" spontan kakek mengatakan itu di depan Lana, yang membuat Lana kebingungan.
"Berulah lagi? maksud kakek apa? apa sebelumnya mereka pernah melakukan hal-hal seperti itu ke keluarga kita kek?" cerocos Lana membanjiri sang kakek dengan pertanyaannya.
"Kakek akan menceritakannya nanti, eh siapa dia? kenapa dia masuk kesini?" tanya balik sang kakek sambil mengamati Juan dari atas sampai bawah.
"Oh ini pegawai perusahaan kita kek. Dan mungkin dia punya hal penting dan aku nggak mau dia hilang di culik oleh mereka." jawab Lana dengan tangannya menarik baju Juan.
"Apakah kau punya hal yang penting seputar mereka?" tanya kakek penasaran.
Juan menelan salivanya karena merasa sedang diinterogasi, "Saya tidak yakin tapi saya harap ini penting bagi tuan dan nona."
"Baiklah kita bicarakan nanti, Lana suruh dia mandi dan ganti pakaian dan setelah itu kita makan bersama. Bi Ipeh tolong siapkan kamar untuknya." perintah kakek.
"Ikuti saya nona dan masnya juga." ucap bibi Ipeh dengan sopan juga lembut.
__ADS_1
"Tapi saya tidak perlu berganti pakaian juga makan tuan. Saya hanya perlu menyampaikan dan pergi itu saja niat saya kemarin, tuan." Juan yang merasa tidak perlu repot-repot berganti pakaian dan juga makan langsung menolak hal itu karena dirasa tidak perlu, dia hanya ingin menyampaikan hal penting itu dan pulang tanpa harus pusing memikirkan semua kejadian hari ini.
Kakek terdiam sejenak mengamati Juan, "Kau tidak akan pulang dalam beberapa hari ini." ucap kakek dengan santainya.
"Apa!!!" pekik Juan tidak percaya apa yang didengarnya.
"Sudah turuti saja kakekku, atau kau akan menghilang selamanya." seru Lana mencoba membujuk Juan untuk menerima perintah kakeknya.
"Tapi mengapa aku menghilang?" Juan masih tidak paham.
"Jika mereka merasa kedok mereka mulai terbongkar olehmu saat kau mengikuti mereka tentu saja kau akan di bunuh oleh mereka." jelas Lana.
"Lah benar juga, kenapa aku tidak kepikiran. Dan rumah ini lah yang aman sementara bagiku." batin Juan yang juga meyakinkan dirinya untuk menerima perintah kakek Lana.
"Baiklah, ma'af saya tidak bermaksud menyakiti hati tuan atas niat baik tuan, hanya saja tadi saya tidak kepikiran hal itu, tuan." jelas Juan dengan polosnya.
"Tidak usah dipikirkan dan segeralah bersih-bersih." ucap kakek dengan lembut yang menegaskan dirinya tidak sakit hati atas perkataan Juan tadi.
"Jarang ada pria seperti itu, banyak orang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan kesenangan namun, dia malah menolak atau bahkan dia tidak kepikiran. Namun aku tahu dia anak yang baik." batin kakek sambil melihat punggung Juan menjauh dari hadapannya.
"Kau bisa memanggilku Lana."
"Mana mungkin nona, saya tidak bisa memanggil seperti itu."
"Kau bisa memanggilku Lana jika dirumah dan dikantor dengan nona."
"Tapi ----"
"Ini perintah."
"Baik, Lana."
Deg
Jantung Lana berdetak dengan cepat setelah Juan memanggilnya dengan namanya. Tidak seperti biasanya jantungnya seperti itu saat orang lain memanggil namanya, namun Juan mengapa berbeda respon jantungnya.
__ADS_1
"Mmm... Lana!" panggil Juan lagi
Lana yang merasa detak jantungnya bisa membuatnya salah tingkah langsung saja dia membentak Juan agar tidak Juan tidak memanggilnya lagi, "Kau banyak bicara juga ya." Lana langsung menghentikan langkahnya dan menatap Juan.
Juan pun langsung berhenti tepat di depan Lana sekarang. Mereka saling tatap menatap sejenak.
"Lana, bisakah kau lepaskan tanganku. Tanganku kesemutan dari tadi." Ucap Juan dengan polosnya didepan Lana.
"Ha.." Lana kaget karena tidak sadar di telah memegang tangan Juan begitu lama hingga tidak sadar sedari kapan dia memegangnya.
Bi Ipeh melihat kejadian itu hanya terdiam dan menahan tawanya karena baru kali ini melihat nonanya salah tingkah seperti itu dan itu lucu baginya.
"Eh... itu aku... aku pegang tanganmu supaya cepat jalannya." Lana mencoba untuk gerogi dan berusaha menjelaskan kalau pegangan tangan itu tidak sengaja bukan kesengajaan.
Juan hanya mengangguk dan mengibaskan tangannya untuk menghilangkan kesemutannya.
"Arghhhh... bodoh kau Lana! kau menggenggamnya tanpa kau sadari sampai di kesemutan, coba kau pikir berapa lama dia kesemutan dan kau malah salah tingkah dibuatnya." batin Lana menyalahkan dirinya sendiri.
Lana langsung meneruskan jalannya dan menuju kamar tamu yang akan ditempati oleh Juan.
"Bi Ipeh tolong urus semuanya ya. Saya juga mau bersih-bersih." perintah Lana kepada bibi Ipeh.
"Baik, nona." sahut bibi Ipeh sambil menundukkan kepalanya.
Lana bergegas pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih. Bibi Ipeh pun membuka pintu kamar tamu dan mempersilahkan Juan masuk.
"Mas bisa langsung ke kamar mandinya, biar saya bersihkan dan rapikan kamarnya supaya nyaman ditempati. Untuk baju nanti saya siapkan di ruang ganti nanti mas tinggal pilih sendiri ya." jelas bibi Ipeh dengan lembut.
"Baiklah, bi. Terima kasih ya."
"Tidak usah terima kasih sudah jdi tugas saya, mas." Bibi Ipeh tersenyum menanggapi perkataan Juan.
Juan pun membalas dengan anggukan dan senyum juga kepada bibi Ipeh.
"Mas pegawai kesayangan nona ya?" celetuk bibi Ipeh disaat Juan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Juan langsung menghadap ke sumber suara dengan wajah terkaget dengan pertanyaan tersebut.