
“Ya.” Singkat, suara Bayu terdengar parau.
“Mas, kalau tidak boleh. Aku tidak apa-apa.” Kalau tadi begitu menginginkan persetujuan, tiba-tiba hati Shanuella terenyuh. Ada rasa sungkan diselingi keraguan. Dia tahu apa yang dilakukannya saat ini sebuah kesalahan. Sebagai istri, tentu tak pantas berduaan dengan laki-laki lain meski dengan izin suaminya.
Mengalihkan pandangan pada Rarendra, pria itu tengah menatapnya datar.
“Aku ingin bicara empat mata dengan Mas Bayu, apa boleh?”
Rarendra tersenyum getir, menyodorkan ponsel pada Shanuella. “Aku tunggu di luar.” Seakan paham, pria itu buru-buru menjauh. Sebelum menghilang dari pandangan, dia masih sempat menoleh ke belakang. “Aku tahu ini salah, tapi … aku juga ingin kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu. Setidaknya, setelah ini kita akan berakhir tanpa menyisakan penyesalan. Aku akan mencoba ikhlas dan melepas.”
Mengedarkan pandangan ke sekeliling, Shanuella menyapa setelah memastikan tak ada yang menguping.
“Mas.” Sapaan itu mengambang. Wanita itu pun bingung dengan perasaannya.
“Ya Jaga diri baik-baik. Jangan mengulang kesalahan yang sama.”
Pesan Bayu menyentak walau singkat. Pria itu menaruh kepercayaan begitu besar melalui izin yang diberikan.
“Apa Mas yakin?” Shanuella memastikan lagi.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu tidak yakin ingin bertemu dengannya?” Bayu bertanya balik.
“Bu … bukan begitu, Mas. Hanya aja, aku … aku ….”
“Shan.” Bayu menyela. Perasaannya sedang tidak baik. Kalau terdengar biasa, itu karena dia berjuang untuk berpikiran logis. Andai tak diizinkan pun, mantan kekasih di masa lalu itu bisa bertemu diam-diam. Bahkan, dia harus berterima kasih pada Rarendra yang masih menganggap keberadaannya.
“Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Sudahi apa yang ingin kamu sudahi. Ingatlah, aku dan Lana menunggumu pulang.”
Helaan napas Bayu terdengar berat.
“Kalau Mas tidak mengizinkan … aku tidak apa-apa?” Nada keraguan mendominasi, semangat Shanuella tiba-tiba mengendur.
“Mas yakin mengizinkanku?”
“Yakin.” Bayu menggigit bibir. Dia tengah berdiri di sebuah ruangan dengan jendela lebar. Hari ini Rarendra memintanya berjaga di kantor.
“Ya sudah, kalau begitu … aku pamit, Mas.”
“Ya.” Jawaban singkat Bayu menyiratkan kesedihan. Ingin menolak, tetapi hati kecilnya tak sanggup melakukan. Diat tahu kalau saat ini Shanuella tengah menunggu persetujuannya.
__ADS_1
Aku tahu kalau selama ini tak sanggup membahagiakanmu. Aku harap persetujuanku hari ini akan membuatmu tersenyum. Setidaknya, aku juga berguna sebagai seorang suami.
Bayu mengusap dada dan tersenyum getir. Hatinya teriris-iris hanya karena membayangkan detik-detik yang akan dilewati Shanuella bersama Rarendra.
...🍒🍒🍒...
Kedua kaki Shanuella bak terpaku tubuh membeku ketika panggilan terputus. Tiba-tiba, dia menjadi ragu. Ucapan Bayu terus terngiang, nada bicara suaminya itu terdengar menyedihkan. Masih menggenggam ponsel Rarendra, wanita itu tak sengaja melihat tampilan wallpaper yang mengingatkannya akan masa lalu.
“I … ini? Bukannya ini?” Perhatian teralihkan, Shanuella terjerat oleh rasa penasaran. Mengusap layar ponsel untuk mencari tahu lebih banyak lagi, dadanya berdegup kencang ketika membuka galeri foto. Bukan satu dua, tetapi ada puluhan cerita masa lalunya tersimpan di sana.
“Apa dia merindukanku?” Ragu, Shanuella mengamati satu persatu jejak masa lalu yang terekam jelas di sana. “Apa dia juga benar-benar mencintaiku? Untuk apa menyimpan semua ini sampai begitu rapi?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus beterbangan dan sedang menanti jawaban.
“Blade, apa kamu pernah mencintaiku sebesar rasa cintaku padamu?” tanya itu dikumandangkan pelan.
“Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Berulang kali bibirku menolak, tapi hatiku tidak bisa berdusta.”
Shanuella berbalik.
“Apa … benar?”
__ADS_1
Rarendra tersenyum. “Kalau tidak karena cinta, Shanuella sudah berakhir di ujung peluruku.”