My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 72


__ADS_3

“Hah!” Bayu tersentak ketika berhasil membongkar kebohongannya sendiri. 


“Di … dia Bos-mu?” Bola mata Shanuella nyaris melompat keluar, jantung berdetak kencang. Diamatinya Bayu dengan saksama, kemudian menggeleng kencang. “Aku tidak percaya ini,’ tegas wanita itu dengan suara lemah dan bergetar. 


“Shan.” Suara Bayu melirih sedih. Ada kepiluan meninju hatinya ketika melihat bayangan kesedihan masa lalu nyata melapisi paras cantik di depan matanya.


“Kenapa berbohong?”


Bayu menggeleng.


“Kenapa menyembunyikan begitu banyak rahasia dariku, Mas?”


“Tidak ada. Aku ….”


“Bay, aku tunggu-tunggu sejak tadi, ternyata kamu ada di sini.” Rarendra kembali. Tak jelas tujuannya, tetapi sanggup memorak-porandakan perasaan Shanuella. 


Bahkan, hati yang tadinya tenang, kini tertumbuk berulang-ulang. Sakitnya tak sanggup dikisahkan. 


“Shan, maaf. Ada yang tertinggal. Apa ada ponselku di sini?” tanya pria itu dengan sikap santai.

__ADS_1


Shanuella menggeleng dengan ekspresi datar. Menatap Rarendra tak berkedip.


“Benarkah? Perasaan aku tadi di sini.” Menggaruk kepala yang tidak gatal, pria mengalihkan perhatian pada Bayu yang sedang kesal menahan amarah. Wajah pengawal pribadi itu memerah. “Loh, Bay … bukannya tadi izin pulang. Katanya ….”


“Kalian sebenarnya siapa?” Shanuella menyela.


Bayu terkejut, sedangkan Rarendra bersikap tenang seperti biasa.


“Kalian siapa? Kenapa menyembunyikan fakta ini dariku? Apa yang kalian sembunyikan?”


“Aku tidak tahu kalau Bayu … ah begini saja bahasa sederhananya. Aku jelas mengenal Bayu, dia pengawal Daddy yang paling dipercaya. Sampai-sampai anak gadisnya pun diserahkan padanya saat meninggal dunia. Bukan begitu, Bay?” Ada sindiran bersembunyi di dalam kalimat Rarendra. Terlihat sekali kalau dia berjuang keras untuk tak menunjukkan emosinya. Salah bicara akan berakhir fatal.


“Aku Rarendra Tanuwijaya. Mantan rekan bisnis Daddy. Tentu ini fakta yang tak bisa dibantah. Ada banyak kontrak kerja sama antara perusahaan daddy-mu dan perusahaanku. Jelas tertera, ada hitam di atas putih.”


Kurang ajar. Dia mengelak. Aku bahkan tak pernah mengenalnya sebagai Rarendra Tan sebelum tragedi itu terjadi. Kalau bukan Bos yang memberitahuku di detik-detik napas terakhirnya, aku mana tahu keduanya orang yang sama.


“Aku mengenal Bayu dari sana. Tentu saja, aku menerimanya bekerja di sampingku karena referensi itu. Aku bisa melihat bagaimana setianya dia pada majikannya, makanya aku pikir dia orang yang setia, tidak bermuka dua.”


Senyum Rarendra merekah. “Aku bahkan pernah memintanya mencarimu. Tadinya, aku pikir ….” Pria dengan senyum licik di wajah itu tampak menikmati permainannya. “Aku ingin mengajakmu bergabung di perusahaan. Aku tahu kalau … itu hasil kerja keras daddy-mu.”

__ADS_1


Tangan Bayu mengepal. 


Dia benar-benar memutarbalikkan fakta dengan sempurna. Sejak kapan dia memintaku mencari Shanuella untuk bekerja? Aku tahu jelas pintanya yang serius itu hanya akhir-akhir ini. Setelah sekian lama dan bertemu kembali. Sebelumnya? Hanya angin lalu. Kalau dia serius ingin mencari keberadaan Shanuella, tak mungkin sampai lima tahun, Dalam hitungan detik pun …ah sudahlah. Dia buka  orang bodoh, kuasanya di mana-mana. Hanya dia memang ingin membuang kamu Shan, sekarang dia merasa harus memungutmu lagi. Jadi ingin dikejar lagi.


Kata-kata itu menggumpal di dada, tak sanggup terlontar keluar. Ada banyak hal yang harus dijaganya, terutama hati Shanuella.


“Lalu, kenapa selama ini tak memberitahuku … kalau kalian masih berhubungan?” Rarendra menekan. "Aku sudah memintamu mencarinya, Bay?”


Shanuella menatap dua pria di hadapannya tak berkedip. “Dan kenapa Mas tidak memberitahuku kenyataan ini. Mas bekerja dengannya. Dia pria yang memiliki rupa ….”


“Karena dia bukan Blade,” tegas Bayu. “Jadi untuk apa aku memberitahumu, Shan.”


Rarendra tersenyum dengan pernyataan Bayu. Namun, beberapa detik kemudian pria itu mengetatkan garis wajahnya, amarahnya meluap ketika mendengar kata-kata selanjutnya.


“Laki-laki yang kamu cintai dengan sepenuh hati itu sudah mati. Dia tidak akan ada lagi di dunia ini. Lupakan dia demi Daddy, dia yang menghancurkanmu. Ini saatnya mengubur dalam-dalam  perasaan itu. Buktikan sendiri, Shan. Kalau dia Blade, silakan balaskan dendammu. Kalau dia bukan Blade, silakan lupakan laki-laki itu seumur hidupmu. Blade sudah lama mati, lima tahun yang lalu … pria pecundang itu mati bersama dengan Daddy.”


Shanuella tersentak.


“Tanyakan saja padanya. Dia yang memiliki rupa sama dengan Blade. Pastikan dia Blademu atau bukan. Kalau dia mengakuinya, aku akan membunuhnya untukmu, detik ini juga.”

__ADS_1


__ADS_2