My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Lolos tapi Ricuh


__ADS_3

"Waduh! hey, kita bisa nggak nih nyelesaiin ini dengan cepat kurang 3 menit lagi ini." tanya Juan dengan was-was sambil melihat ke arah stopwatch besar yang terpasang di depan.


"Dari tadi manggilnya hey mulu kamu,kenalin aku Dion." sambil mengulurkan tangan kepada Juan.


"Lah kenalannya nanti aja, sekarang cepetan selessaiin ngetiknya."


Dion memasang senyum smirk kepada Juan. "Yaelah, ini kan tinggal punyaku. Jadi, santai sajalah kamu. Punyamu kan sudah selesai."


"Bukan masalah punya siapa tapi, kan aku niat bantu kamu jika kamu telat ngirim tulisanmu kan aku berarti gagal juga bantu kamu. Sia-sia dong aku bantu kamu, kamu ngetik juga sia-sia. Gitu lho, Dion." sambil menepuk pundak kanan Dion.


Dion menjawab dengan anggukan yang mengartikan dia paham akan pengertian Juan.


"Hari ini aku kalau aku lolos kerja di perusahaan ini, berarti berkat Juan juga aku bisa lolos. Aku akan menjadi teman dekatnya dan membalas kebaikannya." batin Dion sambil terus mengetik.


Sekarang kurang 2 menit lagi untuk menyelesaikan misi. Dion mempercepat ngetiknya dan beberapa saat kemudian Dion menekan tombol enter.


Dia langsung menatap Juan. "Sudah selesai, Juju." dan memeluk Juan.


"Juju kepalamu, namaku Juan." senggaknya.


"Ya nama khusus itu, kita udah teman dan aku manggil kamu Juju sebagai nama panggilan temen akrab gitu."


"Haa.. ya tapi tidak ada nama lain apa yang lebih keren gitu. Kayak Julian gitu."

__ADS_1


"Lah namamu bukannya Juanno kok mau Julian ya jauh itu mah. Juju itu lebih singkat manggilnya plus lucu."


Juan mendengus. "Aku tidak mau terlihat lucu, aku ini gentleman."


Dion mendengar perkataan Juan tertawa lirih. "Ya gentle tahu, siapa si yang bilang bencong. Ha..ha.."


Bunyi bel berbunyi menandakan waktu telah berakhir dalam mengerjakan misi yang diberikan. Juan dan Dion yang awalnya saling mengobrol langsung terdiam dan kembali duduk ditempatnya masing-masing seperti semula.


Para panitia masuk satu persatu berbaris secara rapi. Lana masuk terakhir bersama 2 bodyguardnya dibelakangnya.


Salah satu panitia maju ditengah dengan membawa microphone di tangannya. "Waktu telah berakhir dan sudah tidak ada lagi waktu untuk kalian mengirim tulisan kalian karena penerimaan tulisan telah ditutup secara otomatis. Terima kasih atas ketepatan waktu bagi kalian yang mengerjakan secara tepat waktu. Baik, sebelum memasuki pembacaan pegawai yang lolos seleksi disini kami butuh waktu untuk mendiskusikan bersama hasil dari misi-misi yang kalian kerjakan. Tolong minta kerja samanya, kalian bisa menunggu di ruang sebelah. Setelah dirasa sudah mencapai kesepakatan bersama nanti kami akan menginformasikan kepada kalian semua untuk masuk kembali ke ruangan ini. Bisa dimengerti?"


"Bisa..." Sorakan serempak para pegawai.


Semua pegawai mulai berdiri meninggalkan kursi masing-masing dan menuju ke ruang sebelah sebagai ruang tunggu mereka menunggu keputusan panitia.


Panitia akhirnya mengumumkan satu persatu pegawai yang lolos sebagai pegawai tetap di perusahaan. Setelah beberapa menit akhirnya semua nama yang telah disebutkan selesai.


"Nama-nama yang tadi saya sebutkan adalah nama para pegawai yang telah lolos seleksi dan akan menjadi pegawai tetap di perusahaan grup Arga."


"Nama kita disebut kan tadi. Ini nggak mimpi di siang bolong kan." seru Dion tidak percaya.


"Aku pun masih tidak percaya bahwa bumi bulat, sekarang ditambah nama ku pula yang disebut aku juga tidak percaya."

__ADS_1


"Bumi bulat mirip tahu bulat, kau tidak percaya?" tanya Dion dengan menoleh kearah Juan.


"Aku percaya bahwa bumi itu ada." celetuk Juan dengan nada jahilnya


"Ye... ku gorok juga kepalamu."


Kondisi pegawai yang mulanya kondusif sekarang terjadi adu argumen karena salah seorang pegawai menjadi awal tidak kondusifnya ruangan evaluasi.


"Saya keberatan panitia, bukankah kalian dari tadi mengawasi kami semua. Seharusnya kalian lihat bahwa mereka berdua yaitu peserta nomer 34 dan 20 itu bekerja sama bukan mengerjakannya sendiri." Amarah dari seorang pegawai nomer 09


Seketika semua pegawai juga mengiyakan pernyataan pegawai nomer 09 itu. Juan dan Dion pun terdiam sejenak dan sontak membuat pernyataan mengelak dari pernyataan pegawai 09. Bahwasanya mereka tidak bekerjasama seperti yang dijelaskan pegawai 09. Mereka bekerjasama mengetik karena tulisan dari kertas mereka sama hanya saja pertanyaannya berbeda, memang betul mereka berdua menggunakan satu komputer tapi bukankah jawaban dari pertanyaan itu adalah yang terpenting dalam menyeleksi.


"DIAM SEMUANYA. Aku sudah menyaksikan cctv dan mengamati mereka berdua dari awal sampai akhir. Satu hal yang jadi pertanyaanku mengapa kamu pegawai 26 tidak membantunya padahal kamu sudah selesai duluan dan malah berpura-pura mengetik sesuatu sudah jelas samping mu membutuhkan bantuan. Hal yang saya tekan kan dalam perusahaan adalah saling membantu dan menolong, karena apa? karena berkat kekompakan kalian bekerjasama maka akan terbentuk hasil yang memuaskan. Itu lah mengapa perusahaan kami mempunyai ide-ide cemerlang, pasar luas dan penghasilan yang tinggi ya itu berkat para pegawai yang saling membantu dan tolong menolong. Bagaimana sudah tahu alasan saya meloloskan pegawai nomer 34 dan 20?" tegas Lana dengan nada yang begitu tinggi sehingga semuanya menatapnya dengan rasa takut.


Lana berjalan menuju pegawai 09. "Ada yang perlu ditanyakan lagi?"


Pegawai 09 hanya menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya dihadapan Lana. Dia sedang ketakutan dibuatnya sehingga dia tidak lagi ingin bersuara lagi karena takut itu akan mempermalukannya di depan orang banyak.


"Baiklah semuanya sudah beres ya, sekarang kalian boleh pulang. Bagi yang lolos, besok adalah hari pertama kalian bekerja, kalian akan mendapatkan pesan dari perusahaan akan ditempatkan di divisi apa. Dan untuk yang belum lolos diharapkan jangan pernah berkecil hati karena peluang dan kesempatan akan datang selagi kalian mau berusaha, satu kegagalan itu adalah pengalaman untuk mencapai jalan sukses kalian. Terima kasih semuanya dan hati-hati di jalan. See you." ucap Lana dengan wajah sumringah kepada para pegawai. Dia tidak mau menampakkan kekesalannya akibat ulah pegawai 09 karena itu dirasa sudah cukup baginya membuat para pegawai terdiam.


Semua bersiap pulang dengan mengantri keluar dari ruangan evaluasi. Panitia dengan sigap dan aktif mengatur agar pegawai selalu tertib dan tidak ada kericuhan lagi.


Lana membisikkan sesuatu kepada pak Sam. " Tolong awasi pegawai 09 itu, kalau perlu cari tahu tentang dia. Aku takut akan kericuhan yang terulang."

__ADS_1


"Maksud nona balas dendam?" tanya pak Sam penuh tanya.


"Bisa jadi kan, pak. Seseorang balas dendam karena tidak terima ia dipermalukan dan tidak diterima di perusahaan pula." balas Lana dengan tatapan curiga kepada pegawai nomer 09.


__ADS_2