My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 101


__ADS_3

“Apakah kata cinta yang kamu ucapkan dulu itu nyata atau dusta?” ulang Shanuella.


Perasaan wanita itu tengah kacau, pikiran berantakan, dan tak mampu memikirkan kondisinya kini yang telah menikah dengan Bayu. Bagaimanapun status pernikahan mereka, tanya tak sepantasnya terlontar dari bibir tipisnya.


Bayu menatap sedih ke arah wanita di dalam dekapan. Pertanyaan Shanuella bak sembilu menyayat kalbu, mencabik-cabik wibawa yang tersisa setelah beberapa jam terakhir diobrak-abrik istrinya. Entah dilakukan dengan sadar atau tak sengaja, dia hanya mampu menerima semua dengan lapang dada.


Rarendra terdiam. Diamatinya Shanuella yang terguncang di dalam dekapan Bayu. Cemburu menghantam dan dia sadar kalau rasa itu tak pantas dipupuk. Wanita yang dicintai telah menjadi milik laki-laki lain, tak pantas mengumandangkan kecintaannya pada perempuan yang sudah menjadi hak orang lain.


Tangan berhias jarum infus itu terkepal erat. Hati dan otak mendadak tak sejalan. Bentrok di tengah persimpangan. Dipandanginya Bayu yang tampak lusuh karena lelah perjalanan jauh, kemudian berpindah pada Shanuella dan wajah sembabnya.


“Pulanglah. Ini sudah malam. Istirahat. Kalau ada kesempatan bertemu, kita akan membahasnya nanti.”


Mengelak, Rarendra memutuskan tak mau memberi jawaban. Dia tak sanggup berdusta dan menyakiti Shanuella, juga tak mampu jujur karena akan ada yang terluka di antara mereka bertiga.

__ADS_1


“Blade! Aku bukan mau pulang. Aku butuh kejujuran.” Shanuella tak terima saat diusir.


“Untuk apa?” Rarendra memperhatikan perubahan wajan Bayu yang tiba-tiba meredup.


“Untukku.”


“Tapi, jawabanku tak akan mengubah apa pun. Kalian sudah menikah dan itu sudah ....” Rarendra mengibaskan tangannya, meminta pasangan suami istri itu segera pergi. “Tinggalkan aku sendiri. Saat ini, aku butuh privasi.”


Bayu menurut. Dibujuknya sang istri yang masih bersikeras dan memaksa bertahan. Wanita itu masih setia menanti jawaban. Untuk semua luka masa lalu yang belum terselesaikan. Setidaknya, jawaban itu akan memantapkan langkah atau sedikit menghibur hati.


Seringai tipis hadir di bibir, Rarendra mengernyit saat pergerakannya memancing nyeri di lukanya.


“Kalau ya kenapa, kalau tidak kenapa? Shan, apa pun jawabanku, tidak akan mengubah keadaan. Fokus pada hidupmu. Pada keluargamu. Blade adalah masa lalu, sedangkan Rarendra hanya hidup di masa sekarang. Apa pun jawaban yang keluar dari bibirku, tidak akan mengembalikan Blade. Dia mati bersama kepergian daddy-mu.”

__ADS_1


Mata Rarendra terpejam, dia benar-benar tak memberi kesempatan Shanuella dan Bayu tetap bertahan di kamar perawatan. Bukan hanya raga, tetapi hatinya pun sakit.


“Shan, kita pulang sekarang.” Bayu menggenggam pergelangan tangan Shanuella, setengah menyeret wanita itu keluar kamar.


“Tapi, Mas. Aku belum selesai, Mas. Aku masih ....”


“Nanti. Dia butuh istirahat. Kamu bisa menuntut jawaban saat dia sembuh. Bagaimanapun, semua terjadi karena melindungimu. Sebenci-bencinya, tolong hargai pengorbanan.”


Shanuella menurut. Sebelum melangkah pergi, dia masih sempat berpamitan pada Rarendra yang tengah berbaring telentang dengan tatapan menerawang.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Aku banyak bersalah pada kekasihmu dan keluarganya. Aku juga bersalah padamu.” Wajah Shanuella mendadak sedih. Kebencian yang dipupuk selama lima tahun ini menguap perlahan.


Rarendra diam, sambil menatap pasangan suami istri yang saling bergandengan tangan berjalan menjauh dan menghilang. Tepat saat pintu kamar menutup rapat kembali, kesenyapan menyelimut. Air mata yang ditahan sejak tadi, turun tanpa permisi.

__ADS_1


“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Hanya saja, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya saat itu. Butuh bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang keberanian untuk mengakuinya tak pernah ada. Blade hanya masa lalu, cukup menjadi bagian dari masa lalu.” Dua bulir air mata yang sebelumnya luruh, kini disusul air mata baru.


__ADS_2