My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 71


__ADS_3

“Mas Bayu?” 


Shanuella tersentak, pundak pun berjingkat spontan. Pandangan yang tadi tertuju pada buket bunga, kini terkunci pada sosok rupawan dengan senyum menawan.


“Mas, bagaimana bisa ke sini?” Shanuella nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berkedip berulang kali, dia memastikan apa yang ditangkap matanya tak lenyap begitu saja.


“Aku benar-benar ada, Shan.” Bayu tergelak, meremas pelan pundak Shanuella. Sedewasa apa kini wanita yang diperistrinya, tetap saja kemanjaan masih tertinggal walau hanya muncul sesekali dalam durasi sepersekian detik. Sisi menggemaskan yang terkadang dirindukan semua orang.


Tak lekang oleh waktu, berjejak di dalam ingatan. Masih sangat jelas, Shanuella yang manja dan jadi pusat perhatian semua orang. Bayu yang tak bekerja langsung pada wanita itu di kala remaja pun bisa mengingat tingkah pola sang putri majikan yang menggemaskan dan membuat geregetan.


“Bagaimana Mas bisa ada di sini?” tanya Shanuella dengan sorot mata tak percaya. Hampir di setiap kesempatan, suaminya datang. Di rumah sakit, di proyek, kini pria itu ada di restoran. Yang membuat bingung adalah kehadirannya setelah Rarendra menghilang. Seperti sudah diatur sedemikian rupa.


Kedua sudut bibir Bayu tertarik ke atas. Lekukan sempurna itu membuat ketampanan pria berkulit mendekati sawo matang itu kian kentara. Menarik kursi tanpa diminta, dia duduk lancang di seberang Shanuella.

__ADS_1


“Aku suamimu, Shan. Tentu saja sudah menjadi kewajibanku mengetahui di mana keberadaan istri dan anakku. Jadi sewaktu-waktu masalah mengintai, aku bisa jadi orang pertama yang membela kalian.”


Shanuella terperangah. Kata-kata sederhana, tetapi mampu meruntuhkan semua keangkuhan, kesombongan, dan kekerasan hati putri semata wayang Hartanto Sunjaya.


“Kenapa sekarang jadi sering menggombal, Mas?” 


Shanuella melempar tanya. Mata mendelik, mencari jawaban dengan membaca apa yang tertera di wajah tampan suaminya.


“Tidak, aku tidak menggombal. Itu kesungguhan, Shan.” Bayu menyunggingkan senyuman. Namun, kali ini sedikit datar dan menyiratkan kesedihan. Ada beban yang disandang di bahu dan enggan dibagi pada semua orang.


Sontak pria itu terkejut. Memusatkan perhatiannya kembali pada Shanuella yang tengah menunggu jawaban.


“Bagaimana?” 

__ADS_1


Nada bicara Bayu terdengar datar.


“Bagaimana apanya?” Shanuella tampak bingung.


“Maaf.” Bayu terlihat linglung. “Kita mau pulang sekarang? Kita pesan taksi online saja. Mobilku tertinggal di kediaman Pak Bos.” Tertunduk, pria itu menyembunyikan kebohongan dan berusaha agar tak terbaca istrinya.


“Mas. Sepertinya kamu ada masalah. Ceritakan saja padaku, apa yang terjadi? Aku yakin, tak mungkin kamu ke sini tiba-tiba kalau memang ….”


Lidah wanita cantik bermata sendu menebar teduh itu mendadak kelu ketika tatapan beradu dengan pria gagah dengan langkah tegap bergerak maju mendekat. Diamati lekat-lekat untuk memastikan tatapannya tidak salah. 


“Blade?” Berkedip berulang, Shanuella berharap pemandangan itu menghilang. Pria yang sama dengan yang ditemuinya sebelum ini, tetapi jaket yang dikenakan membungkus tubuh itu sangat dikenali. Hitam pekat sarat memori dan kenangan. “Dia Blade ‘kan, Mas? Aku mengenali jaket itu. Aku yang menghadiahkan untuknya.” Kata-kata itu terdengar mengambang, empunya tampak menerawang. Raga mematung, jiwa menerawang ke masa lalu. 


Bayu berbalik mengikuti ke mana arah tatapan Shanuella bermuara. Pria gagah memesona sedang menggenggam bara dan siap dilontarkan padanya. 

__ADS_1


“Bo … bos?” Bayu tak sanggup mengelak. Beberapa menit yang lalu dia baru saja melontarkan dusta, kini sudah tertangkap basah. Tuhan memang tidak suka dengn pendosa, sering kali mengelak dari kenyataan dan kini dia tak diberi kesempatan untuk berkilah.


“Bos?” Shanuella mengulang kata yang sama.


__ADS_2