
Semalaman tidak bisa memejamkan mata, Shanuella memutuskan masuk ke dapur dan menyiapkan sarapan. Rambut dicepol asal, mengenakan celemek biru, wanita yang di masa lalunya tak pernah bersahabat dengan panci dan penggorengan itu tampak menawan.
Kepergian Daddy tanpa meninggalkan apa pun, memaksa Shanuella menjadi pribadi yang berbeda. Gadis manja si tukang perintah bermutasi jadi wanita dewasa yang berdiri di kedua kaki sendiri. Hidup mengajarkannya cara bertahan di tengah kesulitan.
“Non, sudah. Mbok saja. Non urus Lana saja.” Mbok Sari terkejut mendapati Shanuella pagi-pagi sekali sudah berkutat di dapur. Tak hanya itu, wanita muda itu pun tampak sibuk di dengan bahan makanan yang sudah dikeluarkan dari kulkas.
“Tidak apa-apa. Hari ini Mbok tolong urus Lana. Aku ingin memasak untuk Mas Bayu.”
Perempuan tua dengan daster batik lusuh tampak tersentak. Dipandanginya wanita yang baru saja memberi pernyataan mengejutkan. Sesaat, dia menangkap keseriusan di dalam ucapan Shanuella. Andai kalimat itu jujur dari hati, tentu Mbok Sari mendukung sekali.
“Bayu adalah laki-laki bertanggung jawab. Walau mungkin dia masih jauh dari gambaran pria idamanmu.” Mbok Sari bersuara. “Tapi, dia mendedikasikan hidupnya untuk keluarga Sunjaya, Shan. Untukmu, untuk anakmu, untuk Daddy. Padahal, dia bisa memilih pergi, mengejar mimpinya. Menikah dengan wanita idamannya, berkeluarga. Dicintai dan mencintai.”
__ADS_1
Shanuella terdiam. Tangan yang tengah mengiris daun bawang tiba-tiba berhenti. Ragu-ragu dan berbalik badan.
“Mbok,” cicitnya pelan.
“Bayu berkorban untukmu, Shan. Buka hatimu, coba gali lebih dalam lagi perasaanmu. Dia tidak muda lagi, tapi berusaha setia padamu dan Lana. Dia laki-laki, dia seorang suami, dia ....” Mbok Sari terdiam. “Kamu akan paham. Intinya, pernikahan kalian itu bukan main-main. Sah di mata agama, Tuhan, dan hukum negara. Jadi, jangan mempermainkan apa yang telah dipersatukan Tuhan. Belajarlah jadi istri dan ibu yang baik, Shan.”
Shanuella tertampar. Dipandanginya wajah perempuan tua yang menyimpan banyak hal di dalam hidupnya.
...✔️✔️✔️...
Hampir satu jam berkutat di dapur, Shanuella bisa tersenyum puas mendapati sepiring besar nasi goreng dengan telur dadar dan acar mentimun. Kerja keras yang mungkin tak setara dengan hasilnya. Dia tahu kemampuan memasak yang ditempanya selama lima tahun terakhir tak mengalami peningkatan.
__ADS_1
Membawa piring dengan nasi goreng, Shanuella berjalan dengan sangat hati-hati. Dia tak mau hasil pertempurannya dengan asap berakhir sia-sia andai piring itu terlepas dari tangannya. Meletakkan dengan hati-hati, wanita itu terkejut ketika mendapati Bayu sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan bersiap menuju ke ruang makan.
“Shan, kamu masak?” Suara maskulin terdengar berat. Bayu bertanya sembari memandang kagum ke arah tengah meja. Piring keramik berukuran besar tampak tersaji di atas meja. Asapnya mengepul, menguar aroma nikmat menggelitik lambung.
“Ya, Mas. Mau makan sekarang?”
Bayu menatap kagum ke arah meja. Beberapa detik kemudian, pandangan beralih pada chef yang telah menyiapkan sarapan. Pagi itu, Shanuella tampak memukau dengan celemek dan rambut dicepol asal. Beberapa helai anak rambut tampak memberontak turun dari ikatannya.
“Terima kasih untuk sarapannya. Aku tahu ini perjuangan untukmu.” Bayu menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya di sana. Membalik piring yang sejak tadi telungkup, dia terkejut ketika Shanuella sudah mendekat dan menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya yang telentang.
“Sudah?” tanya wanita itu setelah mengisi dengan dua centong nasi.
__ADS_1